"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Karimunjawa, Surga Bawah Laut Perairan Jawa (Part 1)

Surga Dunia

Surga Dunia

31 Desember 2011

Jepara

Sepuluh jam, saya masih saja duduk di bangku bus jurusan Jepara. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 tetapi bus ini masih belum juga sampai di Jepara. Seharusnya subuh saya sudah bersama teman-teman di dermaga kartini. Anas, Noko, Imam dan Indri sudah bertemu dengan Mas Kuntet, guide kami di Karimunjawa. Menurut informasi dari Anas, kapal ferry KMP Muria Jepara – Karimun yang hanya beroperasi dua kali dalam seminggu sudah penuh sesak dan pintu kapal telah di tutup. Mereka sudah berada di atas kapal dan saya masih duduk bersama Denta di dalam bus.

Otak terus berputar mencari jalan keluar. Ada pikiran terbesit untuk balik dan meneruskan perjalanan ke kampung halaman. Informasi dari Anas bahwa ada kapal nelayan atau tongkang yang biasanya beroperasi dalam penyeberangan Jepara – Karimun. Harapan mulai muncul ketika rombongan dari Andre, teman kantor saya juga ikut ketinggalan Kapal Ferry juga.

 Peta Karimunjawa

Peta Karimunjawa

Dermaga Kartini

Dermaga Kartini menjadi pertemuan saya dengan rombongan Andre. Beberapa nelayan menawarkan carter perahu kecil ke Karimun. Petugas ASDP sempat ada yang mengingatkan kami, tentang keselamatan dan keamanan menaiki perahu kecil. Namun hal ini tidak menyurutkan kami untuk tetap berangkat ke Karimunjawa hari itu juga. Akhirnya carter perahu nelayan sebesar dua juta, kami ambil dan kami bagi berdua belas orang.

Kami dibawa menuju ke dermaga di belakang kampung nelayan yang berada 3-4 Km dari Pantai Kartini. Ketika perahu nelayan yang dimaksud berlabuh mendekati dermaga, saya merasa sangsi dan tidak percaya. Rupanya perahu nelayan yang akan dipakai menyeberang adalah perahu kecil milik nelayan Karimun. Dengan penuh keterpaksaan dan tidak memiliki pilihan yang lain, akhirnya saya dan Denta ikut perahu ini menuju Karimunjawa. Perahu nelayan yang kecil,  tanpa pelampung di badan, mengarungi lautan ke arah barat laut Kabupaten Jepara sejauh kurang lebih 83 Km.

Perahu nelayan mulai melaju meninggalkan Pantai Kartini. Awak kapal terdiri dari dua orang, seorang pengemudi dan seorang lagi pengatur dek kapal. Di dalam dek kapal, telah penuh sesak dan akhirnya saya beranikan untuk keluar dan tidur berjemur di atas kapal. Tidak dipungkiri saya sebenarnya takut juga terlempar ke lautan karena ombak tinggi menghantam kapal.

Perjalanan serasa panjang karena sebatas mata memandang hanya lautan yang terlihat. Meskipun telah tiga jam berlayar masih saja kepulauan Karimun masih belum terlihat. Ombak yang semakin tinggi membuat kapal sering oleng ke kanan dan ke kiri dan air laut menghantam kapal sampai masuk ke dalam dek kapal. Akhirnya saya dan beberapa orang diminta pengemudi kapal untuk maju ke bagian depan kapal. Hal ini dimaksudkan agar beban kapal di depan mampu menahan ombak sehingga perahu tidak terbalik. Hantaman ombak berkali-kali menghajar tubuh sampai basah kuyup.

Asal mula dinamakan Karimun karena pulau ini dari jauh terlihat “kremun – kremun” atau dalam bahasa indonesia berarti samar-samar. Pulau Karimun mulai nampak tidak begitu jelas. Pengemudi bilang masih dua jam perjalanan lagi untuk sampai di Karimun. Agar tidak tersesat pengemudi memakai GPS bermodel handphone sebagai pembantu arah.

Perjalanan mulai terasa membosankan. Langit mendung membuat pulau Karimun tak terlihat. Saya turun ke bawah dek kapal meskipun sangat sempit sekali. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, ombak mulai meninggi. Akhirnya saya mabuk laut juga. Kepala terasa pusing karena perahu bergerak tidak stabil. Saya memaksakan diri untuk bisa tidur tetapi tidak bisa nyenyak. Saya sempat bermimpi hal buruk tetapi alhamdulillah semua masih dalam kondisi aman dan terkendali.

Setelah mengarungi badai di lautan antara jiwa sadar dan tidak sadar, kami mulai mendekati pantai bernama Legon Lele. Dinamakan Legon Lele karena terdapat Pulau Batu yang mirip dengan ikan lele. Menurut warga ini merupakan sisa bekal pepes lele yang dibawa oleh orang yang pertama menemukan Karimun.

Suasana gerimis rintik-rintik, kami berlabuh di pantai Legon Lele. Kami tidak berlabuh di dermaga resmi Karimun karena takut terkena operasi polisi laut. Pantai ini masih lumayan jauh dengan pemukiman sehingga sepi sekali. Rasanya seperti terdampar di Pulau yang tidak berpenghuni. Akhirnya pada pukul 15.00 kami sampai di Karimun Jawa, meskipun dengan penuh perjuangan, tantangan dan susah payah.

Legon Lele

Legon Lele

Taman Nasional Karimunjawa

Secara geografis Karimunjawa terletak di antara 5o 40’39” – 5o 55’00” LS dan 110o 05’57”-110o 31’15” BT. Secara administratif masuk wilayah Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Wilayah Karimunjawa yang terdiri dari 7.120 ha daratan dan 110.117,30 ha perairan, memiliki dua puluh tujuh pulau antara lain : Karimun, Kemujan, Parang, Genting, Nyamuk, Bengkoang, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Galeang, Menyawakan, Seruni, Merica, Kembar, Katang, Kumbang, Krakal Besar, Krakal Kecil, Batu, Cemara Besar, Cemara Kecil, Burung, Sintok, Tengah, Kecil, Gundul, Cendikian dan Sambangan.

Kami di jemput oleh guide lokal menggunakan dua mini bus. Saya mencoba menghubungi Anas tetapi tidak dapat terhubung karena memang tidak ada sinyal di Legon Lele. Ternyata masih lumayan jauh letak perkampungannya sekitar 20 menit.

Jalan tanjakan-tanjakan begitu mendominasi untuk menuju perkampungan di balik bukit. Mini bus yang kami pakai cukup tangguh untuk melewatinya. Saat mulai memasuki perkampungan akhirnya saya dapat menghubungi Anas. Dia memberi kabar untuk menuju ke home stay “Prapatan”. Akhirnya setelah mengantar rombongan Andre ke penginapan mereka, saya dan Denta diantar ke home stay “Prapatan” yang letaknya hanya terpisah satu jalan. Alangkah luar biasanya saat bertemu kembali dengan teman-teman saya.

Sejenak berbagi cerita tentang perjalanan saya dengan teman-teman. Mereka terheran-heran atas jalan yang saya ambil. Mereka juga sempat mengira saya akan balik meneruskan perjalanan pulang ke kampung halaman, dan ketika nomor telepon saya tidak dihubungi mereka percaya bahwa saya sedang menyeberang ke Karimunjawa. Saya berlanjut untuk membersihkan badan. Perut yang lapar selama perjalanan panjang terobati dengan makan sore di penginapan.

Malam tahun baru, hampir seluruh penghuni home stay Prapatan pergi ke acara tahun baru di pantai. Namun saya, Denta, Imam dan Indri tidak ikut gabung dan memilih untuk menikmati malam di alun-alun Karimunjawa. Kami berjalan-jalan di sekitar kampung dan mencicipi beberapa makanan yang dijual. Malam yang indah ditemani beberapa kembang api untuk merayakan malam tahun baru di alun-alun Karimunjawa.

Alun-Alun Karimunjawa

Alun-Alun Karimunjawa

01 Januari 2012

Pagi hari, saya bangun lebih awal dan jalan-jalan dengan Denta menikmati suasana pantai di dermaga kapal kecil sebelah alun-alun. Saya bertemu dengan Indri yang ternyata sudah asyik berfoto ria di tepi pantai. Cuaca mendung menggelayut di langit dan angin masih lumayan kencang. Dari dermaga kecil nampak jelas Pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil.

Pukul 08.00, sarapan pagi sudah tersedia di meja makan penginapan. Lauk sarapan di dominasi dengan ikan dan cumi hasil laut. Beberapa penghuni penginapan makan bersama-sama sambil berbincang-bincang ringan. Hujan sempat turun dan rencana snorkeling ke Pulau Cemara Kecil dan Cemara Besar harus di undur menunggu hujan agak reda.

Hujan mulai reda, meskipun agak gerimis diputuskan untuk berangkat snorkeling. Suasana dermaga kecil di belakang alun-alun cukup ramai. Mas Kuntet dan pengemudi perahu sedang sibuk mempersiapkan kamera bawah laut, life vest, kaca mata snorkeling dan sepatu katak yang akan dibawa ke dalam perahu.

Perjalanan menuju Pulau Cemara Kecil dan Cemara Besar dapat ditempuh dalam waktu satu jam. Kami bergerak menuju ke arah utara Pulau Karimun. Selama perjalanan terlihat beberapa pulau kecil dari kejauhan. Ombak di sekitar kepulauan karimun tidak terlalu besar.

Berangkat Snorkeling

Berangkat Snorkeling

Pulau Cemara Kecil

Pulau Cemara Kecil

Pulau Cemara Kecil

Pulau yang pertama kami kunjungi hari ini adalah Pulau Cemara Kecil. Pulau dengan luas 1,5 hektar ini, lahannya dimiliki oleh penduduk. Pulau ini didominasi dengan pasir putih yang sangat halus dan banyak ditumbuhi pohon cemara. Di samping Pulau Cemara Kecil, ada pulau yang hanya terdiri dari gundukan pasir saja.

Penghuni Homestay Prapatan

Penghuni Homestay Prapatan

Setelah puas mengabadikan pengalaman di Pulau Cemara Kecil, kami diajak Mas Kuntet untuk bersnorkeling laut dekat Cemara Kecil. Pertama kali memakai sepatu katak membuat saya canggung untuk berenang. Saya masih berusaha untuk belajar memakai peralatan snorkeling. Ketika saya mulai melihat pemandangan di bawah laut, sungguh menakjubkan. Karang-karang di sekitar Pulau Cemara Kecil masih sangat bagus.

Pulau Cemara Besar

Pulau Cemara Besar

Pulau Cemara Besar

Puas menikmati pemandangan bawah laut Pulau Cemara Kecil, kami menuju ke Pulau Cemara Besar. Pulau ini lebih besar dari Pulau Cemara Kecil yaitu 3,5 hektar. Pasir yang putih dengan pohon cemara masih mendominasi di pulau ini. Kami bersandar di pulau ini untuk makan siang. Mas Kuntet dan Pengemudi Perahu mulai membuat perapian untuk bakar-bakar ikan segar yang telah di bawa. Ikan bakar dengan sambal yang mantap membangkitkan selera makan. Apalagi sambil menikmati indahnya pantai di salah satu sudut Cemara Besar.

Makan Siang

Makan Siang

Kenyang makan siang, perjalanan dilanjutkan snorkeling di spot kedua yang terletak di dekat Pulau Gosong Cemara. Spot yang kedua ini berada di tengah laut. Saya yang notabene belum ahli berenang agak takut tenggelam. Tetapi rasa penasaran saya dapat mengalahkan kekawatiran hati. Pemandangan bawah laut yang tidak kalah bagus juga dengan spot pertama. Hanya di spot kedua lebih banyak daerah perairan yang lumayan dalam.

Terumbu Karang Karimunjawa

Terumbu Karang Karimunjawa

Seharian bermain air, menjelajahi dunia bawah laut Pulau Cemara Kecil dan Pulau Cemara Besar sangat memuaskan hati. Waktu cepat sekali berlalu, pukul 16:00 kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Gelam di bagian barat pulau Karimun. Pantai ini banyak warung yang berjualan makanan. Di salah satu bagian pantai banyak terdapat batu-batu besar yang berada di pinggir pantai. Beberapa dari kami ada yang turun yang membeli camilan.

Pantai Tanjung Gelam

Pantai Tanjung Gelam

Hari semakin sore, kami melakukan perjalanan kembali ke penginapan. Setelah tiga puluh menit berlalu, kami sampai di dermaga. Kami segera menuju penginapan dan membersihkan badan. Puas sekali hari ini menikmati kerajaan bawah laut Pulau Cemara.

(bersambung di post part 2). Foto dokumen pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s