"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Rakutak, Jembatan Tipis Menuju Puncak

Melintasi Kebun Penduduk, Background Puncak Rakutak

Melintasi Kebun Penduduk, Background Puncak Rakutak

Rakutak, nama aneh yang pernah saya dengar. Ide untuk menjelajahi gunung ini berawal dari ketertarikan saya atas jalurnya yang ekstrim dan pemandangan lampu kotanya yang fantastis. Tak banyak data yang bisa diperoleh dari media internet, menunjukkan gunung ini memang masih belum populer. Bahkan beberapa orang Bandung yang saya kenal, tidak pernah tahu ada Gunung Rakutak di Bandung.

Gunung Rakutak berada di Kabupaten Bandung Selatan, arah tenggara dari kota Bandung. Posisi di peta bisa dilihat di sini. Secara administratif Gunung Rakutak masuk Kec. Pacet, Kab. Bandung, Jawa Barat. Jarak dari pusat kota Bandung sekitar 45 Km dan jika dari kota Majalaya sekitar 20 Km. Kawasan gunung Rakutak tepatnya lembah Geber, pernah menjadi saksi penangkapan pimpinan DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo oleh Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi pada 4 Juni 1962.

16 Maret 2012,

Saya bertemu dengan Bhagas dan Pepe di halte busway Cawang BKN pukul 21.00. Meskipun sebenarnya janjian pukul 20.00 tetapi seperti biasa Ibukota tidak pernah lepas dari kemacetan. Apalagi jum’at malam seperti ini, banyak orang pendatang mudik ke kampung halaman. Langsung menuju pool Primajasa Cililitan, naik bus terakhir jurusan Bandung pukul 22.00 menuju Terminal Leuwi Panjang. Ongkos naik bus AC Patas ini 45.000 rupiah. Sedangkan teman saya dari Serang, Novi juga sudah berangkat menuju Leuwi Panjang dari pukul 20.00.

17 Maret 2012,

Masih mengantuk dan dibangunkan kernet bus pukul 00.30, kami sudah sampai di Leuwi Panjang. Susahnya mencari persinggahan sementara untuk bermalam disini. Coba telepon Novi tetapi tidak diangkat. Mungkin dia sudah menemukan “hotel” dan tidur dengan nyenyak. “Novi tidak angkat teleponku nih. Kalau sudah menemukan tempat nyaman kok tidak kasih kabar ke kita ya.” Seruku ke Bhagas dan Pepe.

Akhirnya malam itu, menghubungi Bibit untuk singgah di kontrakannya sekitar Dago. Meskipun tak ada angkot, taksipun jadi. Tawaran 70.000 rupiah sepakat menjadi 35.000 rupiah saja. Setelah sampai di persimpangan Dago, kami bertemu dengan Bibit. Tiba-tiba Novi telepon dan memberi kabar bahwa masih baru keluar tol Cipularang. Akhirnya, saya bilang ke Novi, “Kalau sudah sampai di Leuwi Panjang, langsung saja meluncur ke Dago.”

Pagi hari pukul 06.00 bersih-bersih, sholat dan mulai melakukan pengecekan perlengkapan. Pukul 07.00 jalan ke persimpangan Dago sekaligus sarapan. Sarapan di warung tegal memang ekonomis. Menunya ya tidak jauh dari warteg-warteg di Jakarta tentunya. Setelah kenyang, kami berlima langsung menuju perempatan simpang Dago bertemu dengan Catur, salah satu teman kampus Bibit yang juga berminat gabung dalam pendakian Rakutak. Semua tim sudah lengkap dan saatnya “Here We Go”.

Dari simpang Dago, kami langsung menuju terminal Kebon Kelapa menggunakan angkot. Perjalanan berlangsung selama 15 menit ke terminal Kebon Kelapa. Ongkos yang harus kami keluarkan hanya 3.000 rupiah. Untuk menuju ke Ciparay kami naik Elf Bandung – Majalaya. Masih banyak bangku-bangku yang kosong sehingga perjalanan ke Ciparay begitu nyaman dan saya sempat tertidur.

Pukul 10.00, kami sampai di pertigaan Ciparay. Langsung mencari angkot warna kuning jurusan Pacet. Aturan bangku kanan 7 kiri 5 orang  kembali berlaku. Jadi sempit ruang duduknya apalagi beberapa dari kami membawa ransel besar. Bau gunung sudah tercium dari sini. Ada beberapa puncak gunung yang terlihat selama perjalanan. Namun mata kami masih mencoba mencari letak Puncak Rakutak. Menurut informasi catatan perjalanan yang saya baca turun di Desa Sukarame tetapi akan lebih enak jika langsung sampai Desa Cikitu. Percaya diri, saya bilang ke Pak Sopirnya untuk turun di Cikitu. Setelah kami jelaskan ingin mendaki Gunung Rakutak, ternyata kami sudah terlewat. Jadi kalau saja mengatakan ingin ke Rakutak, Pak Sopirnya malah sudah tahu harus turun dimana. Akhirnya kami diantar balik lagi sampai bertemu dengan Gapura Desa Sukarame. Ongkos naik angkot sebenarnya 3.000 rupiah karena kami sudah bolak-balik menjadi 5.000 rupiah.

Gerbang Desa Sukarame dan Angkot Ciparay - Pacet

Gapura Desa Sukarame dan Angkot Ciparay – Pacet

Kami singgah di salah satu warung makan Desa Sukarame untuk bungkus makan siang. Cek ulang perlengkapan, logistik dan cadangan air sebelum melanjutkan perjalanan. Tak lupa merapatkan diri kepada Yang Maha Kuasa untuk kelancaran perjalanan ke Puncak Rakutak sampai pulang nanti.

Kami mulai berangkat pukul 11.00 dari Sukarame. Jalur berawal dengan menyeberangi jembatan di Sukarame. Arus sungainya deras, sepertinya bisa dibuat arum jeram. Kilometer pertama akan melalui jalan desa kemudian saat bertemu pertigaan jalan langsung ambil jalur ke kanan. Ikuti saja jalurnya yang akan memutari bukit.

Melewati Desa Sukarame

Melewati Desa Sukarame

Dibalik bukit, kami menjumpai percabangan jalan. Jika lanjut akan menuju ke perladangan penduduk sedangkan jalur yang mengarah turun menuju ke Kampung Rumbia. Kami ambil jalur yang lurus dan memutar menyeberang ke bukit sebelah. Di perjalanan, sempat bertanya ke beberapa penduduk tentang jalur menuju Puncak Rakutak. Mereka menyebutkan jalur ke Puncak Rakutak bisa dilalui dari jalan setapak di sebelah Gubug yang berada di atas bukit.

Gubug, Tanda Jalur Ke Puncak Rakutak

Gubug, Tanda Jalur Ke Puncak Rakutak

Sebelah kanan Gubug memang terdapat jalur setapak yang mengarah ke puncak bukit. Jalur awal perladangan ini sudah menunjukkan tanjakan-tanjakan yang berat. Saya sering menjumpai beberapa penduduk desa yang sedang bercocok tanam di ladang mereka. Tanaman dataran tinggi sangat mendominasi seperti kol, wortel, jagung, cabe dan sebagainya. Penduduknya bertegur sapa ramah dan penuh senyuman. Disaat kami kebingungan, mereka dengan ramah menunjukkan jalur yang benar menuju Puncak Rakutak.

Buah Apa ya?

Buah Apa ya?

Satu setengah jam, kami habiskan untuk melewati perladangan penduduk. Kami beruntung karena cuaca saat itu cerah. Rombongan sering terpisah menjadi dua. Rombongan depan ada Novi, Bibit, saya dan Catur. Sedangkan Pepe dan Bhagas jalan santai di belakang sambil menikmati perjalanan. Karena jalur yang belum pernah kami lalui maka saya berusaha mengatur jarak antar rombongan tidak terlalu jauh. Takut terjadi sesuatu hal yang tidak direncakanan seperti sakit atau salah ambil jalur. Pukul 13.00, di sebuah batu besar setelah perladangan kami menunggu rombongan kedua. Puncak 1 sudah mulai terlihat dekat dari sini.

Istirahat, Sebelum Puncak 1

Istirahat, Sebelum Puncak 1

Akhirnya kami bertemu rombongan kedua lagi. Perjalanan kami lanjutkan menyusuri ilalang-ilalang setinggi badan. Karena saya memakai baju lengan pendek, lengan saya cukup banyak terkena sayatan-sayatan ilalang. Tak berapa lama jalur mulai memasuki kerapatan hutan. Beruntunglah kami, jalur tidak basah terkena hujan sehingga memudahkan pendakian. Sebelum sampai di puncak 1, jalur mengarah ke sisi bukit sebelah kiri. Terlihat jurang menganga di kiri jalur. Usahakan untuk berhati-hati dalam melangkahkan kaki. Kami sampai di puncak 1 pukul 13.30 dengan kondisi cuaca cerah berangin.

Jalur Sebelum Puncak 1

Jalur Sebelum Puncak 1

Puncak 1

Puncak 1

Puncak 1 sebuah dataran sempit dan terbuka. Tumbuhan edelweiss mulai dapat dijumpai disini. Puncak 2 terlihat megah di depan. Dan yang paling menegangkan adalah jalur punggungan menuju puncak 2 terlihat di depan dengan jalur setapak tipis dengan kanan kiri jurang dalam. Saat melintasinya, lumayan membuat senam jantung. Apalagi saat melintas jembatan dari puncak 1 ke puncak 2, angin berderu kencang.

Jembatan 1

Jembatan 1

Setelah jembatan igir-igir terlalui, jalur akan kembali menanjak sampai ke puncak 2. Kami mulai masuk ke dalam kerapatan hutan kembali. Meskipun sering ditemui percabangan, jalur akan tetap kembali bertemu. Mendekati puncak 2, vegetasi semakin terbuka dan sering dijumpai semak-semak tinggi. Pukul 16.00, kami sampai di puncak 2 dengan tenaga yang banyak terkuras melewati tanjakan-tanjakan Rakutak.

Puncak 2, tanah datar yang hanya cukup untuk  2 tenda ukuran 4 orang. Semua sisinya dikelilingi oleh jurang bebas. Puncak Cikuray, Papandayan Garut terlihat dari sini. Pemandangan deretan lembah-lembah dalam dan danau Ciharus sungguh menambah eksotis tempat ini. Selain itu, pemandangan kota Bandung juga sangat jelas sekali. Sebelah timur puncak 2 sudah terlihat puncak Rakutak. Membentang jalur igir-igir jembatan 2 dari puncak 2 ke puncak 3, banyak yang menyebutnya jembatan sirotol mustaqim. Lebih tipis dan terjal dari jembatan 1. Kami putuskan untuk istirahat dan membuat minuman hangat terlebih dahulu.

Dari catatan perjalanan yang saya baca dijelaskan bahwa setelah jembatan 2 akan ada shelter camp untuk 3 tenda. Namun setelah dari beberapa diskusi dengan teman-teman diputuskan bahwa membuka tenda di puncak 2, karena jalur jembatan 2 sangat tipis sekali. Beresiko sekali jika melewati jembatan 2 dengan ransel-ransel besar, selain itu jangan-jangan kami tidak menemukan shelter yang bagus seperti puncak 2.

Puncak 3

Puncak 3

Rupanya tak rela jika waktu terbuang percuma. Bhagas sudah mulai jepret sana, jepret sini. Novi  yang sibuk dengan minuman hangatnya, Pepe sibuk dengan menghabiskan bekal makanannya. Catur dan Bibit dengan khusu’ melaksanakan Sholat. Menjelang sore, kami segera keluarkan tenda dan mulai mendirikannya di puncak 2. Angin bertiup kencang dan hampir menerbangkan tenda Bhagas.

Camp Puncak 2

Camp Puncak 2

Kami masukkan semua ransel dan peralatan ke dalam tenda. Pukul 17.00, kami menuju puncak Rakutak melalui jembatan 2. Igir-igir tipis dengan kanan kiri jurang menawarkan ketegangan yang begitu hebat dalam diri saya. Angin seolah menyambut kedatangan kami, dengan hembusannya yang begitu kencang. Tak jarang saya menemui batu besar yang tepat berada di jalur. Sehingga harus ekstra hati-hati dalam berpijak. Salah akurasi berarti terjun ke jurang. Jalur dari puncak 2 ke puncak 3 ini hanya selebar badan satu orang. Lebih sempit dari jembatan 1. Semakin mendekati puncak 3, jalur semakin terjal menanjak dengan kanan kiri jurang. Bahkan saya sering merunduk berpegangan dengan batu-batuan yang ada.

Menuju Puncak 3

Menuju Puncak 3

Ternyata shelter yang cukup untuk 3 tenda yang dimaksud di catatan perjalanan yang saya baca, adalah puncak 3 atau puncak bayangan. Pemandangan Cikuray dan Danau Ciharus lebih jelas dari sini. Namun jika dibayangkan dengan jalurnya yang ekstrim, sangat tidak menarik untuk berpindah tempat camp ke puncak 3. Apalagi kondisi sudah gelap seperti ini. Awalnya kami kira puncak 3 adalah puncak Rakutak namun jika melihat didepan masih ada puncak yang lebih tinggi.

Danau Ciharus (Tengah) dan Cikuray (Kanan)

Danau Ciharus (Tengah) dan Cikuray (Kanan)

Kami mulai memasang dan menyalakan headlamp di kepala. Perjalanan kami lanjutkan ke titik yang lebih tinggi di depan. Tidak ada tanda puncak yang kami temui. Akhirnya bermodal altimeter Bhagas, kami membandingkan ketinggian beberapa titik puncak. Perjalanan pencarian puncak Rakutak kami hentikan ketika jalur yang kami lalui semakin turun ekstrim. Kami kembali ke titik tertinggi yang sempat kami lalui. Altimeter menunjukkan 1.954 mdpl.

Sejenak duduk memandangi lampu kota Bandung yang gemerlap. Dengan posisi duduk yang sangat menegangkan depan belakang jurang, kami menikmati kedamaian malam di puncak Rakutak. Berharap tidak ada yang bergerak brutal. Uniknya sinyal telepon lumayan bagus di puncak Rakutak. Kami sempat sms, bbm, update profile picture dan yang paling oke, Bhagas sempat telepon orang tersayang. Mantap gas, lanjutkan!

Puncak Rakutak

Puncak Rakutak

Setelah puas menikmati gemerlapnya kota Bandung, kami beranjak turun menuju ke puncak 3. Sebenarnya hati kami ingin memindahkan tenda kami ke tempat ini. Namun apa daya, kami salah perhitungan saat memutuskan mendirikan tenda di puncak 2. Tetapi tidak apalah pemandangan yang bisa kami lihat sama saja. Hanya di puncak 3 bisa lebih luas.

Pukul 19.00, kami mulai turun dari puncak 3 ke puncak 2, tempat tenda kami berdiri. Semoga tenda masih berdiri utuh, tidak terbang terbawa angin. Ini adalah step perjalanan yang menurut saya paling menegangkan sekali. Jalanan gelap dengan turunan ekstrim. Kalau boleh dibilang, saya lebih baik merebahkan badan dari pada berdiri. Saya berusaha untuk tetap menjaga fokus dan konsentrasi dengan apa yang saya pijak. Berharap bukan batuan lepas yang akan membawa saya terbang ke dalam jurang.

Dengan penuh perjuangan, kami sampai pukul 19.30 di puncak 2. Pertama kali yang saya cari adalah bekal makanan yang tadi saya beli dari warung di Sukarame. Nikmat sekali menikmati makan malam di kelilingi pancaran lampu kota Bandung. Pepe yang juga sudah tidak betah lapar akhirnya membuka trangia dan logistiknya. Menu makanan yang dia masak adalah sosis daging dan baso. Lumayan buat hasil karya Pepe, Bhagas aja langsung menjadikannya lauk untuk nasi yang dia bawa.

Setelah makan, saya mencoba membuat api unggun kecil untuk mengobati rasa dingin. Pepe masih asik memasak dan ternyata Bibit mulai curhat tentang wanita idamannya. Tak pelak banyak komentar dan saran yang di utarakan Catur, Bhagas, Pepe dan saya juga. “Kalau memang suka, diperjuangkan dong Bit.”

“Hidup Bibit!”

Ketika asyik menikmati malam diluar tenda, tiba-tiba hujan turun. Lumayan panik karena tenda saya dengan Novi belum berdiri. Novi yang kaget terbangun karena hujan, sepertinya masih belum sadar ketika saya tanyai cara membangun tenda vaudenya. Di bantu dengan Catur, saya dan Novi akhirnya bisa membuka tenda. Meskipun akhirnya jaket kami menjadi basah. Angin bertiup kencang disertai hujan deras menemani malam sampai diri ini benar-benar terlelap.

18 Maret 2012,

Pagi pukul 05.00, saya terbangun karena dingin dan suara berisik dari angin kencang diluar. Setelah mencoba menyesuaikan diri di dalam tenda, akhirnya pukul 05.15 memberanikan diri keluar tenda. Novi masih pulas di dalam sleeping bagnya, begitu pula penghuni tenda sebelah. Saya sendirian di luar menikmati pemandangan alam pagi. Berharap bisa menikmati sunrise. Namun angin yang berhembus membuat seluruh badan saya kedinginan, apalagi jari-jari tangan mulai sulit di gerakkan. Bekas api unggun yang terkena hujan kemarin saya nyalakan kembali dengan spirtus. Alunan nada dari Iphone jadi teman saya menikmati pagi di Puncak 2, Rakutak.

Pagi dari Puncak 2

Pagi dari Puncak 2

Meskipun saya tidak menjumpai sunrise yang bagus karena tertutup awan, tapi pemandangan lampu kota bekas Danau Bandung Purba saat fajar tidak kalah eksotisnya. Bandung, Majalaya, Cimahi, dan Soreang dikelilingi pegunungan dari timur, selatan, barat dan utara. Beberapa obyek yang dapat terlihat di Puncak 2 antara lain, sebelah barat terlihat Gunung Malabar, ke arah utara sedikit akan terlihat Gunung Pangrango dengan teman setianya Gunung Gede. Ke arah utara kita akan melihat gugusan pegunungan utara Bandung, Tangkuban Perahu terlihat seperti pagar kota Bandung bagian utara. Ke arah timur terlihat Puncak Rakutak dengan jembatan igir-igirnya yang tipis dengan background pegunungan Kamojang. Danau Ciharus terlihat eksklusif dikelilingi lembah dengan hutan berkerapatan tinggi. Agak ke Selatan terlihat Gunung Cikuray menjulang tinggi sendirian dengan Puncaknya yang kerucut.

Puncak Cikuray (Belakang)

Puncak Cikuray (Belakang)

Gunung Malabar

Gunung Malabar

Camp dan Kamojang

Camp dan Kamojang

Pukul 07.00, kami beramai-ramai memasak. Namun kami baru sadar bahwa persediaan air tidak terlalu banyak sehingga kami tidak memasak makanan berat seperti nasi atau mie. Pagi itu sarapan roti, sosis dan baso untuk sekedar mengisi perut.

Setelah lumayan kenyang, pukul 08.00 memulai membongkar tenda dan packing untuk persiapan turun. Cuaca masih cerah dan pagi itu tidak menandakan akan turun hujan. Tidak lupa kami mengabadikan kebersamaan di camp kami semalam dengan tripod canggih terbaru, ransel Bibit. Sebelum bergegas turun, sejenak kami merapatkan hati kepada Sang Pencipta demi keselamatan perjalanan turun.

Semua Team di Puncak 2

Semua Team di Puncak 2

Pukul 09.00 kami beranjak turun melalui jalur yang sama saat kami naik. Sebenarnya dari dari Puncak 2 ada jalur juga ke arah kanan menuju Desa Ciburial. Namun menurut catatan perjalanan yang pernah saya baca jalurnya berlumpur. Oleh karena itu, diputuskan untuk mengambil jalur ke kiri menuju Kampung Rumbia. Perjalanan turun tak kalah serunya karena kami dihadapkan pada turunan-turunan curam. Lebih aman untuk selalu mencari pegangan saat menuruni turunan curam.  Terhitung sudah berkali-kali saya, Bibit dan Novi terjatuh. Di Puncak 1, kami sempat beristirahat dan menikmati suasana di sana.

Perjalanan Turun

Perjalanan Turun

Jembatan 1

Jembatan 1

Menuju Puncak 1

Menuju Puncak 1

Edelweiss di Puncak 1

Edelweiss di Puncak 1

Kami lanjutkan perjalanan dan team mulai berpencar. Novi ada di depan, saya dan Bibit berbarengan, sedangkan di belakang ada Catur, Bhagas dan Pepe. Untuk mengobati kebosanan melewati jalur, saya dan Bibit bercerita tentang pengalaman naik gunung selama ini. Singkat cerita kami sampai di Perkebunan Penduduk dan sempat bertemu dengan Penduduk. Mereka menanyakan perjalanan kami selama pendakian. Meskipun saya tidak terlalu banyak mengerti bahasa Sunda.

Pukul 11.00 saya dan Bibit sampai di Gapura Sukarame. Novi sudah menunggu lama sepertinya, sampai  sudah menghabiskan dua teh botol di warung sebelah. Saya istirahat di warung dan sempat mandi di Masjid sambil menunggu Catur, Bhagas dan Pepe. Mereka datang bergantian satu per satu.

Salah satu angkot kuning Pacet-Ciparay ternyata sedang menunggui kami dan siap mengantarkan kami turun. Pukul 12.00 angkot berangkat menuju Ciparay. Sampai di Ciparay, Bibit dan Catur berpisah dengan kami menuju Kebon Kelapa. Sedangkan saya, Novi, Bhagas dan Pepe berlanjut menuju Leuwi Panjang. Perjalanan dari Ciparay ke Leuwi Panjang kami habiskan untuk terlelap meskipun rasa lapar sudah mulai menghantui. Pukul 14.00 kami sampai di Terminal Leuwi Panjang dan tanpa basa basi langsung singgah di warung Nasi Goreng. Alhamdulillah kenyang. Saya sempat bertemu teman SMA yang kerja di Bandung namanya Ayik. Dia sebenarnya mau ikut ke Rakutak tetapi mendadak ada acara kantor.

Akhirnya di Terminal Leuwi Panjang saya berpisah dengan Bhagas, Pepe dan Novi. Selama perjalanan, hujan deras menyelimuti sore di Tol Bandung – Jakarta. Jakarta saya kembali lagi ! ( Malas sekali😀 )

15 responses

  1. Pingback: Misteri Gunung Rakutak « Aryo-Pana

  2. gvh

    thank for your info!! niat mau naik nihh , doakan yahh

    21 September 2012 at 12:23 pm

    • rankga

      sukses broo

      21 September 2012 at 3:11 pm

  3. di rakutak tidak ada sumber air ya bro?
    harus bawa air dari bawah berarti…

    10 January 2013 at 1:13 pm

    • rankga

      Iya di atas tidak ada sumber air. Jadi harus bawa perbekalan air dari bawah.

      10 January 2013 at 1:25 pm

      • oke, makasih buat infonya..
        salam kenal🙂

        10 January 2013 at 2:11 pm

      • rankga

        sama-sama. Ada rencana mau ke Rakutak? Kapan? semoga sukses ya. Viewnya dari Puncak oke banget kalau malam

        10 January 2013 at 2:27 pm

      • belum tau kapan, masih cari teman sih🙂
        padahal rakutak deket banget dari tempat domisili skrg, tapi baru gunung rakutak, makanya jadi penasaran pengen ke sana🙂

        10 January 2013 at 2:33 pm

  4. Sohib riswana

    Ternyata ada juga yang mengisahkan petualangan di rakutak tercinta.
    Kapanpetualang k rakutak lagii ??
    ..ajak kami dong
    hehe

    29 January 2013 at 12:29 pm

    • rankga

      iya, keren tempatnya. Recommended viewnya. uda pernah kesana?

      30 January 2013 at 9:11 am

      • Pernah bgt , kan saya aslinya org sukarame .

        20 September 2013 at 3:50 pm

  5. Pingback: Gunung Rakutak dan Danau Ciharis (part:1) | memoarsialin

  6. Mohon bimbingannya kaka.. minggu depan saya mau ke Rakutak.🙂
    ditunggu ceritanya di Procurement ya.. hahaha..

    12 December 2014 at 6:25 pm

    • rankga

      Gimana ceritanya dari Rakutak…. Dapat view cerah nggak?

      16 January 2015 at 9:02 am

      • Hi Om Rankga, maaf baru reply.. w ga jadi ke Rakutak, om. Jadinya malah ke Lembu.

        1 June 2016 at 5:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s