"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Pangrango – Melintasi Malam di Negeri Pangrango

24 Juli 2011,

Bang Rudy yang membangunkan ku dari lelapnya dekapan Pangrango. Yang terasa hanya dingin, masih mencoba membuka mata dan melepaskan badan dari sleeping bag. Sungguh tidak rela jika harus membuka sleeping bag.

“Ayo bangun, bangun, bangun! Jadi ke puncak nggak?” Seruku.

Perlahan tapi pasti satu persatu keluar tenda untuk menyesuaikan diri. Tenda kami biarkan berdiri, semua peralatan yang tidak dibawa kami masukkan ke dalam tenda. Semoga barang-barang yang tidak dibawa bisa aman dan tidak hilang. Peralatan yang dibawa summit hanya perlengkapan masak, air dan makanan untuk sarapan di Puncak.

Setelah semua team siap, tidak lupa sejenak merapatkan lengan-lengan kami untuk berdoa demi kelancaran summit attack Pangrango. Dari semua team hanya Bang Rudy yang pernah naik ke Pangrango itupun sudah lama sekali dan kondisi kali ini di malam hari. Baru berjalan beberapa menit, sudah sempat kebingungan terhadap jalur. Hmmm, cilaka! Tanda-tandanya akan menyeramkan. Namun alangkah beruntungnya, ketika kami bertemu dengan team lain yang akan melakukan summit attack juga. Akhirnya diputuskan bareng dengan Team Ruli. Lumayan, jadi lebih rame.

Berjalan memecah keheningan malam alam Pangrango cukup memunculkan sensasi nyali tersendiri. Ada perasaan takut dimana-mana, jika tersesat, salah jalan, terpisah diantara anggota team ataupun bertemu dengan hewan buas secara tidak sengaja. Apalagi saya belum pernah mendaki Pangrango. Jalur awal pendakian dari Kandang Badak didominasi dengan hutan yang tingkat kerapatannya cukup tinggi. Selain itu banyak sekali pohon tumbang yang menghalangi jalan. Perlu tenaga ekstra untuk melompati atau merunduk melewati pohon tumbang ini.

Setelah berjalan 2 jam, jalur mulai menanjak. Tak jarang harus melewati jalur bersebelahan dengan jurang. Jalur semakin terjal dengan kemiringan sampai 60-80 derajat. Senter harus berperan besar disini karena harus mencari pegangan dan pijakan yang benar-benar kuat agak tidak terperosok. Akar tumbuhan besar cukup membantu sebagai pegangan dalam perjalanan. Cukup banyak kami berhenti di tanjakan-tanjakan ekstrim. Namun tetap diusahakan tidak berhenti lama.

Pukul 4 dini hari, dari suara angin yang semakin kencang menandakan bahwa puncak semakin dekat. Tumbuhan-tumbuhan perdu mulai terlihat. Trek jalan akan memutar ke kiri mengikuti kontur. Ternyata malam itu banyak yang tidur di jalan karena memang jalan mendekati puncak berupa lekukan tanah. Bukan maksud tidak sopan akhirnya kami melangkahi badan-badan mereka agar bisa terus berjalan. Angin mulai menjadi kencang dan dingin sekali. Malam itu angin gunung terus menerjang badan yang hanya berbalutkan baju dan jaket tipis. Tapi semangat yang membawa kami untuk tetap berjalan sampai akhirnya bertemu Gubuk Kecil di puncak gunung. Puncak Pangrango, dengan triangulasi berwarna hijau di sebelahnya.

Aku, Novi, Bagas, Fitra, Hatta, Diaz dan Bang Rudy akhirnya sampai di Puncak Pangrango. Senang sekali rasanya dan tak lupa kami abadikan moment indah ini dengan berfoto sepuasnya. Fotografer kami kali ini adalah Bagas. Thank you Bagas buat foto-fotonya yang nice banget.

Pemandangan pagi yang luar biasa, matahari mulai memunculkan sinarnya. Gagahnya puncak Gede terlihat jelas di sebelah timur. Namun sayang, Puncaknya tidak terlalu terbuka sehingga tidak dapat memandang bebas. Banyak pohon-pohon tinggi yang tumbuh di Puncak. Karena angin lumayan kencang akhirnya setelah menikmati sunrise, kami menuju arah barat untuk turun ke Lembah Mandalawangi.

Jalur ke Mandalawangi kanan kiri di dominasi dengan tumbuhan-tumbuhan perdu. Tidak sampai 15 menit kita akan menemui lembah dengan hamparan edelweiss di sana sini. Kita sampai di Lembah Mandalawangi pukul 04.30. Sejenak merapatkan hati kepada sang pencipta berjama’ah di Mandalawangi. Setelah itu langsung buka peralatan masak untuk bikin minuman hangat. Menikmati dinginnya Mandalawangi. Saya terkesan dengan edelweissnya yang masih tumbuh banyak di lembah ini. Semoga tetap lestari sampai anak cucu kita nanti.

Nikmat itu, bisa Sarapan di Mandalawangi

Nikmat itu, bisa Sarapan di Mandalawangi

Kami sempat masak di pagi itu, tempat ini cukup memanjakan pecinta alam karena ada mata airnya dengan turun di pertemuan dua bukitnya. Sekilas terlihat bekas sungai yang mati membelah lembah mandalawangi. Dari lembah Mandalawangi kami sempat menikmati pemandangan Gunung Salak Kembar yang sangat cerah sekali. Sungguh sempurna pagi itu di Mandalawangi. Mandalawangi sungguh berikan kedamaiannya untuk kami dan semuanya yang mencintai bumi ini. Apalagi diiringi dengan lagunya BIP “Pelangi dan Matahari”. membumi dan mengharu biru .

padang hijau di balik gunung yang tinggi
berhiaskan pelangi setelah hujan pergi
ku terdampar di tempat seindah ini
seperti hati sedang, sedang jatuh cinta

ku bahagia merasakannya
andaikan aku bisa di sini selamanya
‘tuk menikmatinya

sungai mengalir sebebas aku berpikir
hembusan angin dingin membawa aku berlari
mensyukuri semua yang telah kau beri
hati yang rapuh ini kau kuatkan lagi

Lembah Mandalawangi dan Salak Kembar

Lembah Mandalawangi dan Salak Kembar

Full Team - Mandalawangi

Full Team – Mandalawangi

Full Team - Puncak Pangrango

Full Team – Puncak Pangrango

Nice View From Pangrango

Nice View From Pangrango

Triangulasi Pangrango

Triangulasi Pangrango

Salam Lestari!!!

Tidak heran jika Soe Hok Gie pernah mencintai Mandalawangi dengan puisinya :

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie

“Mandalawangi – Pangrango”

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

5 responses

  1. klao jalan2 lagi ikuuuuutttttt, count me in yaaaa, hehehehehe😉

    31 January 2012 at 5:50 pm

    • rankga

      sampean domisili dimana mba??? Ayo dolan mau naik ke Gunung di Bandung…

      31 January 2012 at 6:04 pm

  2. ak nang es be yeeeee, adohe yo nang bandung ;( ak mupeng bianget lak onok arek munggah gunung, iriiiiiii, hehehe..

    7 February 2012 at 6:55 pm

  3. rankga

    Lah kok iriiii, yo melu lah mba… Lagian arek-arek sek akeh seng nang jawa timur.. Aku yang nggak enek kancane.. hiks

    7 February 2012 at 7:01 pm

  4. keren sob ceritanya…..

    22 October 2013 at 9:06 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s