"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Pangrango – Mencumbu Guguran Air Hutan Pangrango

Pangrango is one of the mountains in my dreams because its proximity to my idol Soe Hok Gie. About all the beauty that Pangrango have from the writings of Gie. He told about the valley Mandalawangi in verse Gie’s poem. That’s what made me curious, about beauty, life and peace in Mandalawangi.

Berbekal ide antara aku dengan Novi, rencana perjalanan ini memang tidak sampai sebulan menjalankannya. Terhitung 2 minggu sebelum keberangkatan, aku sudah booking rencana pendakian di www.gedepangrango.org/ (Taman Nasional Gede Pangrango) dengan mengurus SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konsevasi). Seperti biasanya ada beberapa anggota yang sudah terdaftar, mengundurkan diri. Seleksi alamlah yang memilih orang-orang siap dan tepat dengan sendirinya. Kami mendaftarkan dua group pendakian, satu group Bagas dengan Fitra dan satu lagi Novi dengan aku. Dari beberapa artikel yang saya baca, perlu 7 jam perjalanan untuk sampai Puncak Pangrango dari Pos Cibodas (exclude kalau sering istirahat ya). Pengalaman pendakian Gede sebelumnya, proses pengeluaran SIMAKSI lumayan lama dan bisa keluar setelah jam 10 siang. Alhamdulillah, Bagas dapat kenalan penduduk di Cibodas yang menawarkan proses pengurusan SIMAKSI sehingga Jum’at malam SIMAKSI sudah ditangan. Meskipun menambah biaya sedikit untuk  mengganti ongkos keringat Penduduk itu.

Malam selepas pulang kantor langsung siap-siap untuk berangkat ke kampung rambutan. Janjian sama Bagas, Hatta, Dias dan Fitra pukul 20.00. Bertemu dengan beberapa rombongan lain yang ternyata juga mau ke Pangrango. Kami ditawari untuk carter mobil dari kampung rambutan ke cibodas. Boleh sih, kalau 20 ribu saja. Negoisasi berjalan alot dan akhirnyapun dapat juga dengan tambahan biaya 5 ribu. Lumayan berjepit-jepit di dalam mobil karena diisi dengan 9 orang.

Pukul 01 dini hari, kami sampai di pasar cibodas. Saya dan team menuju ke podok Bu Le’ sedangan rombongan lain ke pondok Mang Idi. Fitra langsung menghubungi penduduk yang mengurus SIMAKSI untuk mengambil surat ijin kami agar besok bisa berangkat pagi. Tak berapa lama kemudian teman saya Novi yang dari nonton konser sampai juga di Cibodas. Selain itu ada teman Bagas satu lagi yang datang dari bandung, Mas Rudi. Semua personel sudah lengkap dan akhirnya dini hari itu beristirahat sejenak di Pondok Bu Le’.

23 Juli 2011,

Cibodas - Background Pangrango

Cibodas – Background Pangrango

Pukul 06.00 kita siap-siap untuk memulai perjalanan. Pagi itu suasana cerah di Puncak Pangrango sehingga sayang kalau dilewatkan tanpa berfoto ria. Seperti biasa di pintu masuk hutan dilakukan pengecekan terhadap peralatan yang dibawa. Kita diminta untuk mendaftar bahan makanan kemasan yang ada dalam ransel. Setelah itu baru pendakian dimulai dengan memasuki komplek pengurus Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Let Go Together

Let Go Together

Suasana dingin dipayungi dengan hutan hujan tropis menemani awal langkah kami. Jalanan berbentuk susunan batu yang sebenarnya kalau menurut saya malah bikin kaki sakit. Sempat berhenti di Telaga Biru, sekedar merasakan segarnya aliran sungai. Membasuh muka.

Lanjut melintasi jembatan kayu di rawa Gayonggong, tambah fantastis suasana cerah menampilkan ketegaran dan ketangguhan puncak Pangrango sebagai backgroundnya. Perlu agak hati-hati untuk melintasi medan jembatan ini karena ada beberapa kayu yang patah. Bisa jadi salah pijak lubang, akhirnya jatuh ke dalam rawa.

Rawa Gayonggong

Rawa Gayonggong

Gemercik suara aliran sungainya memang tak pernah bisa tertandingi. Sempat berhenti di pertigaan jalur Puncak dan Air Terjun Cibereum menunggu teman-teman yang semakin jauh ketinggalan. Dari pertigaan Panyangcangan ini menuju air panas akan sangat panjang, jalan setapak yang memutar-mutar. Kanan kiri di dominasi jurang, namun vegetasi masih rapat. Trek dengan tanjangan yang biasa dan lebih banyak didominasi dengan bonus. Perlu sekitar 2 jam perjalanan untuk sampai di air panas.

Dari trek pertigaan Panyangcangan ke  Kandang Badak, team terpecah menjadi dua team. Saya dan Novi berada di depan. Setelah melewati air panas, jalur akan kembali masuk ke dalam kerapatan hutan namun jarak antar pos sangat dekat. 15 menit dari Air panas, kita ada jumpai pos dengan medan datar yang luas. Cukup untuk 7-10 tenda. Nama pos ini adalah Kandang Batu. Dan tak ada setengah jam kemudian sampai di Kandang Badak. Pukul 11.30 saya dan Novi sampai di Kandang Badak dan diputuskan makan siang sambil menunggu teman-teman yang dibelakang.

Sekitar pukul 15.00, batang hidung teman-teman yang lain baru muncul. Ternyata ada masalah dengan kaki Bagas. Sebenarnya target saya, bisa mendirikan tenda di Mandalawangi. Tapi karena faktor cuaca hutan jalur ke  Pangrango sedang hujan deras dan beberapa kondisi fisik teman-teman ada yang drop akhirnya di putuskan untuk membuka tenda di Kandang Badak. Planning diubah dengan memulihkan tenaga di Kandang Badak untuk sore ini. Dan dini harinya akan melanjutkan perjalanan ke Pangrango.

Sore itu, kami bangun 2 tenda dan langsung buka trangia untuk pesta malam ini. Cukup banyak nasi yang dimasak. Omlette super duper besar, akhirnya susah juga untuk dibalik. Pecah ditengah jalan deh omlettenya. Meskipun nggak bulat lagi, rasanya tetap maknyus sih. Apalagi ditambahi saos sambal yang kami bawa. Dengan melihat Fitra dan Hatta lahap makan, sudah cukup mengenyangkan perutku.

Dan malam itu terlewatkan begitu hangat di dalam tenda. Guguran air hutan pangrango kami lewatkan dengan memejamkan mata lebih awal.

“Sweet dream all my friend”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s