"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Sempu Island – Kingdom of Mud (Part 1)

Segara Anak

Segara Anak

Bau sawah mulai terasa polos di indera penciumku. Hamparan sawah di kota kebesaranku mulai terlihat dari jendela kereta Senja Kediri. Pukul 05.00, aku sudah sampai kediri. Sesuai kesepakatan dengan teman-temanku SMA, pada  tanggal 02 Juni 2011 kumpul pukul 07.00 di sta. Tulungagung. Tapi kuputuskan untuk pulang ke Rumah dulu karena masih jam 06 pagi. Sambutan hangat dan senyum dari Ibuku sungguh menyenangkan hati.

“Jarene ape nang malang?” tanya Ibu (ind: katanya mau ke malang?)

“Mari ngene Bu, jam 7 janjian di sta. Tulungagung karo Anjar, Noko, terus budhal nang malang.” jawabku (ind: habis ini Bu, jam 7 janji bertemu di sta. Tulungagung sama Anjar dan Noko terus berangkat ke Malang)

“Opo ndak kesel? Yo wes ati-ati.” lanjut Ibu (ind: Apa nggak capek? Ya sudah hati-hati)

“Nggih Bu” jawabku (ind: iya bu)

Sarapan nasi pecel, mengobati rasa kangen dengan makanan-makanan desa setelah hidup berbulan-bulan di Jakarta. Sebelum berangkat ke sta. Tulungagung, aku menghubungi Noko via telpon. Ternyata dia baru bangun tidur, padahal hampir jam 7. Wake up the Mad Man!

Mandi, bongkar tas dan berharap yang ku bawa adalah barang-barang yang memang perlu dibawa. Aku minta diantar sama adikku ke stasiun sekaligus ingin cari tiket kereta untuk balik ke Jakarta hari minggu. Namun na’as tiket sudah habis dan aku minta tolong Ayahku untuk pesan bus Harapan Jaya saja.

Pukul 07.00 sta. Tulungagung,

Hanya ada aku dan Anjar. Dari kejauhan muncul sesosok makhluk kecil dengan ransel yang begitu besar. Ternyata Candra alias Mecil, cewek adik kelas Arismaduta yang ingin ikut juga ke Sempu. Dengan wajah yang sayu, dia bercerita tentang keapesannya hari ini. Alat masaknya yang pecah, jaketnya yang jatuh 2 kali dijalan dan lanjut minta tolong pak Polisi untuk membantu mencari jaketnya yang jatuh. Tapi untungnya jaketnya ketemu juga di Selatan perempatan tamanan. Alhamdulillah.

Tak lama kemudian, Noko datang dan sekaligus membawa mobil untuk mengantarkan kami ke perempatan Jepun. Anas sudah menunggu disana. Rencananya akan naik bus sampai ke Kepanjen. Baru saja turun dari mobil noko, langsung aja para kernet bus merebut ransel kita dan dimasukkan ke dalam bagasi. Wah seenaknya saja nih kernet busnya. Padahal aku lihat didalam bus sudah penuh dengan orang berdiri. Terpaksa masuk ke dalam bus dan mencoba complain. Tapi biasalah, si kernet hanya mengelak dan beralasan kalau akan banyak yang turun habis ini dengan tampang innocent. Menyebalkan sekali.

Di Terminal Patria Blitar, kami dioper ke Bus Bagong untuk lanjut ke Kepanjen. Lebih nyaman karena banyak bangku yang kosong. Selama perjalanan Anjar dan Candra tidur didepan. Maklum kalau Anjar kan takut mabuk. Sedangkan aku, noko dan anas lebih banyak cerita karena lumayan lama nggak ketemu. Cerita-cerita hal menarik dari kehidupan, kerjaan ataupun percintaan.

Perjalanan yang cukup panjang dan kami sampai juga di pertigaan Kepanjen pukul 11.00 siang. Sempat bingung dan coba tanya-tanya ke penduduk sekitar karena memang tidak tau harus naik angkot apa. Menurut informasi ibu toko, harus naik angkot berwarna hijau (warna gas tabung elpiji) sampai ke Gondang Legi dulu. Kemudian oper ke turen. Dari turen baru akan ada angkot yang menuju langsung Sendang Biru. Anjar bilang masih 3 jam lagi untuk menuju Sendang Biru. Ternyata Anjar pernah ke Sendang Biru tapi tidak sampai menyeberang ke Pulau Sempu. Wah, perjalanan masih panjang (nggak kebayang capeknya).

Kami disarankan untuk jalan terlebih dulu ke arah timur menuju tempat ngetem angkot hijau. Tepatnya sih disebelah palang pintu kereta (dekat stasiun Kepanjen). Tak berapa lama, ada angkot hijau yang datang. Dan coba untuk nego carter angkot tersebut langsung ke Sendang Biru. Pak Sopir minta biaya 300ribu tapi coba kami tawar 150ribu tidak mau. Karena jaraknya cukup jauh sekitar 70Km. Akhirnya sopir tersebut mau mengantar ke Turen langsung dengan 10 ribu saja. Kami berlima menuju ke Sendang Biru naik angkot namun ada satu teman dari Malang (Pong) naik motor ke Sendang Biru.

Sampai di Turen, rasanya perut ini sudah begitu lapar sekali. Akhirnya diputuskan untuk cari makan terlebih dahulu sambil cari angkot ke Sendang Biru. Soto pun menjadi pelabuhan kelaparan perut kami. Lumayan enak dengan dinginnya es teh di siang hari yang terik. Saat akan menikmati makanan di warung Soto. Ada sopir angkot yang datang, menawarkan perjalanan ke Sendang Biru.

Sopir Angkot “Mau ke Sendang Biru ya Mas?”.

“Iya, mas. Berapa kalau mau kesana” Jawabku.

“Langsung ke Pos KSDA cuma 12 ribu mas” Sahutnya.

“Nggak boleh kurang ya mas, 10 ribu ajalah” aku coba nawar.

Sopir itu menjawab “Wah nggak boleh mas, 12 ribu uda paling murah. Kalau iya, angkotku tak bawanya kesini”.

tiba-tiba ibu yang jualan soto menimpali “Iyo biar makan dulu mas-masnya ini. Berangkatnya masih nanti habis makan”.

“Ya sudah mas” kataku.

Setelah selesai makan soto, angkotnya pun datang dengan kondisi yang sudah penuh. “Walah mau ditaruh mana nih badan, kami kan berlima” pikirku. Ransel-ransel diikat diatas angkot. Kursi angkot depan diisi 4 dan belakang ada sekitar 12an. Gila bener nih sopir. Aku dan Noko terjepit di pintu. Tapi yang paling keren, Anas duduk berbagi di kursi sopir. Teknik sopir terbaru sepertinya kalau mau ke kiri biar Anas yang belokin kalau ke kanan Abang Sopirnya. Hahaha. Itupun kernetnya, akhirnya tidak bisa masuk.

Dari sinilah perjalanan Rock ‘n Roll dimulai dan hal tergila yang pernah aku temui. Angkot sudah penuh sesak, hanya berharap cepat sampai tujuan. Angkot mulai dilajukan dan mampir dulu ke Pom Bensin. Sopirnya bermodal utang 20 ribu ke penumpang untuk beli bensin (jiah ampun deh). Masih di Turen, tiba di sebuah pertigaan laju angkot di berhentikan sama si sopir. Katanya mau nunggu kernetnya yang ditinggal tadi. Gila amat, mau ditaruh mana kernetnya. Di dalam angkot sudah penuh sesak kayak pepes berjajar di jepit-jepit. Cukup lama menunggu sehingga membuat badan terasa pegal dan panas minta ampun. Para penumpang sudah mulai menggerutu kepanasan dan posisi tidak wueeenak.

Akhirnya datang juga kedua kernetnya (satu aja tidak cukup malah bawa 2 orang lagi). Namun tidak disangka kernetnya naik ke atas angkot. Tanpa basa basi meluncurlah ke Sendang Biru. Seratus persen Gokil buat nih Sopir. Tidak bisa dibayangkan dengan jalur yang naik turun dan harus duduk diatas angkot itupun di jalan masih sempat naikin penumpang satu lagi ke atas angkot (judul yang paling pas sepertinya demi sesuap nasi). Semoga selamet semua deh Mas >_<

Betapa beruntungnya selama perjalanan tidak terdeteksi keberadaan polisi. Kalaulah ada pasti tilangnya banyak sekali nominalnya. LOL

Setelah 2 jam kepejit dalam angkot ajaib (sampai nggak bisa bergerak sedikitpun-tanya aja sama noko kalau nggak percaya. hehehe), akhirnya sampai juga di depan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ah serasa hidup kembali dan terbebas dari kegokilan didalam angkot. Bau-bau ikan asin sudah tercium dimana-mana. Suasana ramai cukup kental disini. Banyak pengunjung yang sedang menyiapkan perbekalan dan ada pula yang baru saja pulang dari Pulau Sempu.

Kami mampir dulu ke Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu. Kantor ini dijaga oleh Petugas Konservasi Pulau Sempu. Pulau Sempu termasuk dalam kawasan konservasi dan cagar alam, bukan kawasan wisata. Pulau ini dibiarkan alami begitu saja, sebagai habitat dari berbagai hewan dan tumbuhan disana. Untuk masuk ke dalam kawasan Konservasi, diperlukan surat ijin masuk kawasan konservasi (SIMAKSI). Prosedurnya sama dengan seperti perijinan yang pernah saya lakukan untuk melakukan pendakian Gunung Gede. SIMAKSI bisa diurus dari kantor BKSDA Surabaya (atau bisa juga di BKSDA Probolinggo dan Jember) dengan mengajukan ijin berkegiatan observasi, penelitian satwa serta operasi bersih. Kalau untuk kegiatan wisata jangan harap mendapatkan ijin karena Pulau Sempu merupakan daerah konservasi. Meskipun sangat ribet tetapi saya setuju karena demi menjaga kelestarian habitat dan alam. SIMAKSI tidak dapat langsung diurus di Pos BKSDA Pulau Sempu karena pos ini tidak berwenang untuk menerbitkan ijin. Jadi saran saya, jika Anda ingin pergi ke Pulau Sempu siapkan SIMAKSI terlebih dahulu. Adapun informasi alamat tempat pengurusan SIMAKSI adalah sebagai berikut

  • Balai Besar KSDA Jawa Timur
    http://www.baungcamp.com/
    Jl. Bandara Juanda Airport Surabaya 61253
    Tlp. (031) 8667239
    Fax. (031) 8671985
  • Seksi Konservasi Wilayah VI, di Jl.Mastrip No.88 Probolinggo
  • Kantor Bidang KSDA Wilayah III, di Jl.Jawa No.36 Jember

Setelah melakukan perijinan kepada petugas konservasi, saatnya cek persediaan air. Maklum menurut informasi, sumber air tawar jarang ditemui. Sebenarnya ada namun untuk menuju ke sumber air tawar diperlukan waktu yang lumayan lama. Dari segara anakan harus ke kiri melewati  tiga pantai.

Kami isi botol-botol dan jerigen dengan air dari warung makan. Packing ulang dan siap menuju ke Pantai Sendang Biru untuk selanjutnya menyeberang ke Pulau Sempu. Terliat dari jauh, Pong yang sedang mau mencari tempat parkiran motor. Selamat bergabung bro!!! and we are full team now.

Langsung menuju bibir pantai Sendang Biru untuk carter perahu menyeberang ke Pulau Sempu. Sebenarnya Pulau Sempu terlihat sangat dekat dari bibir pantai. Mungkin kalau diukur jarak lurus kurang dari satu kilometer. Di pinggir pantai, sudah ada koordinator peyeberangan ke Pulau Sempu. Ongkos penyeberangan adalah 100 ribu pulang pergi. Pembayaran dilakukan dimuka dan setelah sepakat kami diberi no. perahu yang akan kami tumpangi.

Berlayar

Berlayar

Deru mesin perahu nelayan mulai terdengar macho diantara riuh deburan ombak. Sang Nelayan sibuk mengoperasikan perahunya. Suasana senja menemani kami saat menyeberang ke Teluk Semut, Pulau Sempu. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menyeberang ke Pulau Sempu. Teluk semut sore itu sedang surut sehingga terlihat sekali gugusan karang di pinggir pantai sehingga nelayan tidak berani mengantarkan sampai masuk teluk.

Senja itu banyak juga yang kembali dari segara anak. Melihat dari penampilan pengunjung yang pulang, jalan setapak ke Segara Anak pasti sangat dipenuhi lumpur. Sepertinya aku salah kostum (siap guling-guling pakai sandal gunung >_<). Cuaca mendung menyelimuti senja itu. Sepertinya akan kemalaman di jalan lagi. Damn!

Sebenarnya secara jarak antara Teluk Semut dengan Segara Anak berjarak 2 Km, namun menurut cerita bisa sampai 4 jam untuk melewati jalan setapak ke Segara Anak. Faktor hujan yang sangat mempengaruhi medan sehingga jalan kadang sangat berlumpur. Sampai di teluk semut langsung masuk ke dalam hutan, ingin banget nggak kemalaman dijalan. Di awal etape saja sudah tumbang berkali-kali dengan posisi pantat jatuh sampai tanah. Benar-benar medan yang sangat asing bagiku. Dengan cadangan air berliter-liter di pundak semakin sulit untuk menjaga keseimbangan di medan licin. Tak butuh waktu lama, akupun menyerah untuk tetap memakai sandal. Terpaksa jalan tanpa alas kaki. Berharap tidak ada barang tajam yang aku injak.

Etape tanjakan bukit diawal sukses dilalui meskipun aku sudah berkali-kali guling-guling dengan lumpur. Rasanya kakiku yang baru saja cedera agak kerasa sakit sehingga aku sering ketinggalan rombongan. Akhirnya tukeran ransel dengan noko. Sedangkan Mecil dan Anas sudah jalan jauh didepan. Jalan semakin sulit karena tingkat kelembaban hutan semakin tinggi. Hutan di pulau Sempu sangatlah rimbun, sampai-sampai sinar matahari susah untuk masuk sampai ke tanah.

Sampai di Puncak bukit pertama jalan akan menurun dengan jalan semakin berlumpur. Kedalaman lumpur ada yang sampai selutut. Kalau anas sebut, “ZONK”. Perlu hati-hati untuk menuruni bukit dengan medan licin seperti ini, bisa-bisa terpeleset dan jatuh ke jurang. Kami melakukan beberapa teknik untuk mencari jalur potong kompas yang lebih kering agar tidak sering jatuh tentunya. Diujung turunan terdapat sungai kecil dengan pohon kayu ala kadarnya sebagai jembatan. Namun sepertinya presentase jatuh lebih besar kalau melewati badan kayu tersebut. Lebih baik melompat saja.

Trekking kembali menanjak untuk melewati bukit kedua. Jalur semakin basah dan kondisi tubuh semakin capek. Maklum saja baru dari Jakarta langsung berangkat bertualang.

Sempat ada kejadian konyol saat perjalanan sore itu, kebetulan kami melakukan trekking berbarengan dengan kelompok mahasiswa. Sepertinya sih memang bukan pecinta alam tapi wisatawan lokal. Tanpa sadar ada cewek yang membuang botol air minum ke jalan.

Spontanlah Pong tanya “Loh Mbak kok dibuang!”

“Emang buat apa mas.” jawab cewek itu. Serentak jawaban itu serasa menohok hati (masih ada aja orang kayak gini).

“Jangan dibuang dijalan dong mba, ini kan ngotorin tempat ini”. Sahut pong sambil ketawa sinis dan mengambil botol air minum itu untuk dibawa.

Hal mengecewakan tentunya, banyak sekali sampah dijalanan. Sebagai cagar alam, tentunya orang-orang yang dapat masuk kawasan ini adalah orang-orang terpilih. Selayaknya juga harus ikut menjaga kawasan ini agar tetap bersih. Bukan malah mengotori. Pilihan untuk mengadakan kegiatan operasi bersih perlu dilakukan rutin.

“Come on Guys, Save Our Earth.” Jangan hanya ingin menikmati saja tapi jaga juga dong alam kita. 

Hari semakin malam, kondisi gelap semakin menyulitkan perjalanan kami. Keluarkan senter dan perjalanan semakin terasa panjang. Kondisi seperti ini, sangat sulit untuk memilih jalur. Lebih enak melewati jalur normal meskipun kadang lumpurnya lumayan dalam.

Setelah melewati turunan kedua, kami bertemu lagi dengan sungai. Namun, semangat ini seperti kembali lagi setelah terlihat lampu tenda menyala dari kejauhan. Ayo sudah dekat nih. Jalur berubah memutari bukit dengan sebelah kanan jurang yang curam. Setelah dilihat dengan seksama ternyata di kanan adalah segara anak dengan airnya yang jernih. Tak sabar untuk sampai Pantai Segara Anak akhirnya kami potong kompas dengan langsung menceburkan diri ke pantai. Segar sekali rasanya. Noko baru ingat kalau iphone dan BB-nya ada didalam tas. Langsung bingung berharap barang-barang elektroniknya masih bisa berfungsi mengingat tas kecilnya sudah basah tercebur ke air segara anak. Menjejak di air dengan buliran pasir putih benar-benar melegakan hati.

Kami sampai di Segara Anakan pukul 7an. Langsung mencari tempat camp di Pinggir Segara Anakan dan mendirikan tenda. Malam ini, yang jadi chef adalah noko dan mecil. Rencana mau buat perkedel kentang dan oseng-oseng sawi. Menikmati malam tenang dengan beberapa tenda di sebelah sambil bercerita kehidupan dengan teman-teman begitu mengasikkan.

Malam Keakraban Di Segara Anak

Malam Keakraban Di Segara Anak

Pesta makan malam dimulai pukul 9an. Rasanya lumayan nikmat. Akhirnya ganti menu juga, setelah sekian lama kalau jalan-jalan makannya selalu nasi dan mie instant. Top markotop buat hasil karya noko, cuma oseng sawinya agak asin (mau membunuh kita lo nok, hahaha).

Disini angin tidak terlalu kencang dan herannya tidak banyak nyamuk. Lanjut cerita kehidupan sambil tidur-tiduran di luar tenda. Berbekal lilin yang menyala, melalui malam dengan kedamaian. Sampai tak terasa akhirnya tertidur di pelukan Pulau Sempu. Nice day!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s