"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Papandayan – Luasnya Tegal Alun Seluas Kedamaian Hatiku

Tititit tititit tititit….. (Grr HP siapa sih ini, Sejenak bangun diluar sadar)

Adit : “Sudah jam 3 ayo siap-siap berangkat, uda ada team yang berangkat nih”.

Setengah sadar tak kuasa menjawab, mata ini masih lengket sekali selengket lem alteco. Bunyi Alarm HPnya Baha’ begitu mengganggu. Ayolah matiin dalam hatiku. Ternyata yang punya masih tidur dengan terlelapnya. “Ha’ matiin dong” seruku. Alarmpun mati dan mendadak hidup ini kembali menjadi damai. #meneruskan tidur :0

Ritual pagi harilah yang akhirnya memaksaku untuk bangun. Pagi itu serasa di istana karena sudah ada WC dengan air melimpah di dekat Parkiran. Pikiran membawa golok dan menanam pupuk di pagi hari setiap awal kali pendakian sekejap musnah saat itu. Alhamdulillah lega sekali.

Dinginnya pagi itu, tak menyurutkan hati kami untuk mengambil wudhu dan menjalankan sholat Subuh. Sungguh damainya pagi itu. Packing semua alat-alat kami dan sejenak merapatkan barisan untuk berdoa demi kelancaran selama perjalanan. “Berdoa mulai”.

Perjalanan dimulai dengan melintasi jalan setapak yang merupakan sungai bentukan dari aliran lava kawah Papandayan. Tanah berkerikil (batuan vulkanik) dengan warna putih. Kepulan kepulan belerang di kawah Papandayan menjadi pemandangan yang indah di pagi hari. Tak sabar untuk segera sampai ke tempat itu. Ada 2 serigala yang mengikuti saat kami melintasi kawah. Sepertinya baru akan pulang ke hutan setelah pencarian mangsa tadi malam. Melintasi gudang belerang pagi itu sungguh sangat ramai sekali. Bunyi yang dihasilkan dari sumbu sumbu belerang yang berpacu mengeluarkan asap. Di tempat ini terdapat aliran air yang membentuk sungai. Jika kebetulan dalam aliran air itu terdapat sumbu belerang dibawahnya maka akan menghasilkan pemanasan alami belerang yang kadang dipakai oleh pengunjung untuk merebus telor. Tapi perjalanan yang masih panjang, membuat kami harus terus berjalan untuk mengejar Puncak Papandayan.

Kami berhenti pada titik diatas kawah yang menampilkan sunrise menakjubkan di pagi hari. Pemandangan kawah yang dibelah oleh Matahari yang akan menjalankan tugas hari itu. Anugerah penglihatan yang tiada tara dari Tuhan kita. “Alhamdulillah”, aku masih diberi kesempatan menjadi saksi kehebatan dan kebesaran Tuhan. Sejenak melepas lelah dan berfoto ria mengabadikan keindahan alam ini. Sayang jikalau dilewatkan begitu saja. Adit, Anjar, Baha’, Angga, Yuan dan aku sendiri sudah sibuk dengan pose yang paling bagus. Berharap akan menjadi pemandangan indah di Profile Picture Facebook atau Wallpaper Laptopku. Cuma si Arie yang begitu tenang menikmati alam dan sembari berdiam diri memandang sunrise.

Sunrise Papandayan

Sunrise Papandayan

Kawah Papandayan

Kawah Papandayan

Dari titik ini, jalan bercabang antara ke arah kanan dan ke arah kiri. Namun jika dilihat untuk arah kanan melewati tebing dan jalan setapak tidak begitu kelihatan. Sebenarnya aku ingat pesan dari Noko (temanku yang sudah pernah ke Papandayan) untuk mengambil jalur kanan karena lebih cepat dan tidak memutar jalurnya tetapi memang menanjak. Akhirnya diputuskan ke arah kiri karena jalan setapak lebih jelas. Pertimbanganku adalah mengambil jalan yang landai agar pendakian lebih enak. Kami susuri jalan setapak ke kiri dengan model memutari gunung. Tak lama kemudian kami menemui jurang yang memutuskan jalur setapak. Daerah ini adalah bekas longsoran seperti yang diceritakan di catatan perjalanan yang aku pernah baca. Itulah gunanya membaca catatan perjalanan sebelum naik gunung yang belum pernah kita singgahi. Akhirnya kami mencari jalur yang turun untuk menjauhi tempat longsoran tersebut. Jalurnya menuruni bukit sampai kami menemui suara sungai yang mengalir deras. Sungguh seru sekali perjalanan ini. Setelah melewati sungai ini, kami langsung disuguhi jalur menanjak. Bisa dibayangkan tanjakannya karena jalur terusan yang terputus tersebut terlihat dari kejauhan. Dalam pikiranku track pendakian sudah terbayang akan seperti apa rutenya. Setelah sampai diujung bukit, jalur berbalik arah.

Diujung bukit, kami bertemu dengan beberapa orang yang camp untuk beroffroad ria. Banyak jeep-jeep disini. Cukup terfasilitasi persediaan air karena bisa mengambil dari selang-selang air penduduk. Tempat ini merupakan pertigaan pertemuan antara jalur dari Cileuleuy – Pengalengan (Bandung) dan dari Arah Parkiran Papandayan. Sedangkan jika ingin menuju ke Pondok Salada, ambil jalan ke arah kiri memasuki hutan (jika pendakian dari arah parkiran). Lega sudah memasuki hutan dan suasana pendakian mulai terasa. Pondok Salada tidak jauh dari sini. 15 menit kami sudah sampai di Pondok Salada. Ternyata sedang ada summer camp disini, sehingga banyak sekali tenda tenda yang berdiri disini. Ada sekitar 50 an tenda. Suasana begitu ramai. Lihat jam tangan, masih menunjukkan pukul 07.30. Sejenak menikmati keramahan Pondok Salada dan berbincang-bincang dengan pendaki lain. Sempat menanyakan jalur menuju puncak kepada pendaki yang kami temui, ternyata tidak tau juga. Namun dari sini terlihat ada team lain yang sedang mendaki dengan jalur yang cukup ekstrim. Sempat merasa ragu namun aku yakinkan teman-teman karena rugi jika tidak sampai Tegal Alun karena disana ada Padang Edelweiss.

Puas istirahat, kami lanjutkan pendakian dengan menuju arah team yang sempat kami lihat tadi. Kami turun ke mata air dan mencoba untuk menuju ke tempat kerumunan orang. Tapi apesnya jalur yang aku ambil memang bukan jalur semestinya. Potong kompas lebih tepatnya. Mencoba menyebrangi mata air dan akhirnya terjebak lumpur yang ambles sampai diatas mata kaki. Tak pelak sempat terendam air sampai lutut. Basah semua deh, maap teman-teman aku nggak tau. Kasian sepatu Adit, Angga, Arie dan Baha’ jadi basah terendam lumpur. Kami bertemu dengan orang yang camp diatas mata air. Cukup bagus tempat ini karena ada serangkaian pohon edelweiss tumbuh. Kami menanyakan jalur ke orang tersebut dan dia bilang salah jalan. Astaga! Sejenak berbincang-bincang tentang pengalaman si Akang yang sudah berkali-kali naik Papandayan. Dia bercerita kalau sudah sangat jarang Pendaki yang menuju Puncak  namun kebanyakan hanya sampai Pondok Salada karena berlimpahnya air disini dan enak untuk dijadikan camping ground. Di Puncak Papandayan memang tidak begitu istimewa karena tertutup pepohonan lebat. Tapi Tegal Alun tetap menguatkan semangatku! Akhirnya kami dibantu si Akang itu menemukan jalur ke Puncak. Sampailah diantar ke depan jalur sebenarnya. Nuhun Kang! Setelah itu jalan memang jelas sekali namun masih sempat pula kami salah jalan lagi. Kami malah menuju ke mata air tempat yang biasanya digunakan untuk Para Pendaki bersih-bersih dan cuci muka. Dan kami diarahkan untuk mengambil jalur ke arah kanan.

Perjalanan rock n roll pun dimulai, kami menemukan sungai diujung jalan setapak ini. Tanjakan di medan sungai dengan batu-batu yang besar jadi jalur tantangan selanjutnya. Cukup menguras tenaga dan konsentrasi karena jika salah mengambil tumpuan batu bisa jatuh bertubi-tubi menuruni tebing sungai ini. Pelan pelan kami daki jalur ekstrim yang ada didepan kami. Aku hanya tidak dapat membayangkan bagaimana cara turunnya nanti. Ah, itu kita pikirkan nanti saja.

Tanpa ampun, sampai juga di akhir jalur sungai. Jalur selanjutnya memasuki hutan dan mulai banyak tumbuhan edelweiss di kanan kiri. Nice view guys! Sepertinya sebentar lagi sudah sampai Tegal Alun karena tanda-tandanya mulai terasa. Sampailah kami di suatu tempat agak luas dan banyak edelweiss tumbuh. Apa ini Tegal Alun pikirku? tapi aku tidak yakin karena tempat ini tidak luas seperti apa yang kubayangkan dari yang pernah orang ceritakan ke aku. Akhirnya diputuskan untuk sarapan dulu ditempat ini. Bongkar carier, siapkan alat memasak dan mulai. Haha. Menu hari ini sosis sambel dengan sarapan simple ala pendaki yaitu mie instant. Nggak pernah bosen-bosennya ya setiap kali mendaki selalu saja makan mie instant. Sambil menghabiskan camilan didalam tas juga sih.

Tak lama kemudian ada pendaki yang dalam perjalanan turun. Kami ajak untuk mampir sebentar sekedar berpesta kacang. Banyak cerita yang muncul dari pendaki tersebut. Dia bilang “Lo mas kok masak disini, nanggung banget deh didepan sudah Tegal Alun. Tempatnya lebih luas dan bagus”.  “Aku kira disini Tegal Alun mas, ternyata masih di 15 menit lagi ya dari sini. Wah uda terlanjur masak nih Mas, nggak apa apa disini dulu aja” Jawabku. Pendaki itu bilang jalurnya ke Tegal Alun masih jelas, baru setelah danau kecil jalan tidak jelas. Dari danau itu, kami disarankan untuk mengambil jalan orientasi ke kanan terus sampai ketemu jurang tebing. Ke kanan terus sampai ketemu mata air. Baru dari mata air itu akan ada jalan setapak yang jelas sekali ke arah Puncak. “Intinya adalah menemukan mata air dulu” kata pendaki itu. Ternyata pendaki tersebut sudah punya jam terbang tinggi, jika dilihat dari cerita ceritanya. Setelah cukup istirahat pendaki itu melanjutkan perjalanan turunnya. Terima kasih Mang, untuk sharing infonya.

20 menit berlalu, akhirnya menu masakannya sudah masak. “Dan kita mulai pesta pagi ini” seruku. Awalnya kesusahan mencari sendok-sendok yang kami beli dari Pondok di Parkiran kemarin. Tapi sialnya nggak ketemu-ketemu. Jadi deh satu garpu hadiah mie bungkus menjadi senjata kami untuk sarapan pagi itu. Bergiliran menyantap nasi dan mie goreng sungguh nikmat sekali. Memang jika sudah di hutan semua menjadi serba nikmat. Ide-ide kreatif mulai muncul. Anjar yang sudah siap sedia dengan sendok buatannya dari bekas bungkus mie, Baha’ dengan tutup tekonya (sebenarnya nggak aku ijinin tapi biarlah asalkan dibersihin) dan yang lain rebutan pakai garpu ajaib. Susah-susah, akhirnya pake tangan juga deh. “Kebersamaan yang begitu indah”.

Puas dengan sarapan pagi, kami bersih-bersih, packing dan melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan menuju Tegal Alun sempat salah jalur karena jalur agak tidak jelas. Namun akhirnya 15 menit kemudian sampai juga di sebuah danau kecil dengan lautan edelweis yang begitu luas. Inilah yang dinamakan Tegal Alun. Pemandangan yang begitu indah. Ruang yang luas dan berbataskan 2 Gunung. Sebenarnya mirip dengan Alun-Alun Surya Kencana namun masih luas Tegal Alun. Tegal Alun berbentuk lapangan dengan luas sekitar 32 ha. Sebelum letusan November 2002, areal ini banyak ditumbuhi Edelweis. Ketika letusan terjadi, hampir semua tanaman itu rusak. Setelah lima tahun berlalu, bunga abadi itu mulai tumbuh kembali. Seperti saat ini, sejauh mata memandang banyak sekali tanaman Edelweis dimana-mana.

Tegal Alun

Tegal Alun

Ternyata ada beberapa anggota team yang ingin istirahat di Tegal Alun dan tidak ingin mendaki Puncak. Mereka terprovokasi cerita pendaki lain yang berkata di Puncak Papandayan jelek. Okelah tidak apa. Hanya aku dan Yuan yang berangkat summit siang itu. Aku sarankan ke teman-teman untuk membuka tenda dan istirahat dulu. Aku pinjam tas daypack Anjar, memasukkan beberapa logistik (telur asin, mie dan P3K), jas hujan dan air minum. Pukul 11.00 aku dan Yuan berangkat, meskipun kami berdua tidak tau jalur pendakian ke Puncaknya. Berharap nanti di perjalanan bertemu team lain yang akan ke Puncak juga. Sempat kebingungan karena memang tidak terlihat jalurnya. Mencoba jalan menuju tempat beberapa pendaki yang berfoto-foto. Setelah coba tanya-tanya ternyata tidak tau juga. Dari sini aku berkenalan dengan Team Novi dan Team Pak Jumari. Team kita, masing-masing berpersonil 2 orang. Inget cerita dari Pendaki yang ketemu di tempat masak, aku akhirnya mencari jurang tebing kemudian ambil jalur ke kanan terus sampai bertemu dengan sungai kecil. Mungkin ini yang dimaksud mata air itu. Terlihat bahwa diseberang sungai terdapat bekas jalur yang lumayan jelas.

Mata Air

Mata Air

Mata air ini banyak ditumbuhi dengan lumut. Airnya begitu jernih sepertinya bagus untuk dibuat camping ground namun menurut cerita di tempat ini masih banyak terdapat Babi Hutan. Kami harus menyebrangi sungai dengan berbasah-basahan. Untung pakai sandal gunung, hehe. Kami ikuti jalur itu, jalan setapak memang begitu jelas. Arah jalur ke kiri dan kemudian memutar ke kanan. Beberapa saat menemukan tali rafia dan ada bekas tumbuhan yang sepertinya baru saja terinjak-injak. Tanda ini semakin memantapkan hatiku bahwa memang inilah jalurnya. Masih banyak dijumpai pohon-pohon mati berwarna hitam. Pohon-pohon yang mati akibat letusan pada tahun 2002 sepertinya. Kerapatan hutan cukup tinggi. Sesekali harus merunduk karena banyak pohon-pohon besar yang melintang. Tanjakan antara 30-45 derajat menghiasi perjalanan. Cukup menguras tenaga. Banyak melintasi punggungan turun naik. Dari sebelah kiri terlihat jurang yang sangat curam sekali. Sesekali terlihat pemandangan areal sabana yang luas sekali.

Hutan Mati

Hutan Mati

Akhirnya pukul 12.15 kami sampai di Puncak Papandayan dengan suasana yang ramai. Banyak pendaki dari acara summer camp juga melakukan summit siang itu juga. Kesan pertama sampai di Puncak Papandayan 2.665 mdpl memang sangat biasa sekali. Puncaknya tertutup dengan Pohon-Pohon tinggi sehingga tidak dapat melihat secara leluasa.

Menikmati bekal dan sekedar meluruskan kaki sambil berbincang-bincang dengan Novi dan Gopenk. Ternyata Pak Jumari dan temannya ketinggalan di belakang. Mereka memang jalan santai sambil foto-foto kalo tadi aku lihat. View dipuncak siang itu tidak begitu bagus karena berkabut. Sungguh sayang sekali, tidak bisa melihat pemandangan yang indah.

Novi ternyata membuka peralatan masaknya dan memasak mie dengan telur. Aku dan Yuan diajak bergabung. Ahh rejeki di Puncak Papandayan nih. Terima kasih ya Novi & Gopenk. Cocok sekali di suasana dingin makan yang hangat-hangat. Mantap abis. Kalau Pak Bondan bilang “Mak Nyus”. Sembari bercerita panjang lebar tentang pengalaman kami dalam melakukan pendakian terdahulu.

Tak lama kemudian Pak Jumari dan temannya sampai juga di Puncak. Panjang cerita setelah Pak Jumari meminta bertukar no. HP denganku ternyata orang Blitar juga. Sama dengan kelahiranku. Wah jauh-jauh dari Jawa Timur ketemunya di Puncak Papandayan. Memang kadang tak tertuga jalan hidup ini. Cukup senang sekali dalam pendakian Papandayan ini banyak menemukan teman-teman baru yang baik hati. Mas Novi team dan Pak Jumari team, kami bertukar contact agar jika memang ada rencana jalan-jalan lagi bisa saling mengundang. Hehe “Oke Pak, aku tunggu undangan jalan-jalannya”.

Papandayan

Papandayan

Puncak Papandayan

Puncak Papandayan

Seperti biasa tidak lengkap kalau moment ini terlewatkan begitu saja tanpa berfoto. Rame-rame berfoto di Puncak Papandayan. Setelah itu baru aku dan Yuan yang bernarsis ria. Pose sana dan pose sini. Dan yang paling memuaskan adalah berfoto dengan menggunakan syal Indonesia yang kemarin dipakai Yuan untuk mendukung Indonesia di Turnamen AFF. Hidup Indonesia! Bagaimanapun juga saya begitu mencintai Negeriku, INDONESIA.

Garuda Di Dadaku

Garuda Di Dadaku

Pukul 13.15, kami putuskan untuk turun ke Tegal Alun lewat jalur semula. Novi dan Gopenk ikut turun juga ke Tegal Alun yang langsung lanjut ke Pondok Salada. Karena dia akan camp disana lagi untuk malam ini. Sedangkan untuk Pak Jumari dan temannya dari Puncak langsung terus melewati jalur yang memang lebih cepat untuk turun ke Parkiran. Menurut cerita hanya 2 jam saja jika lewat jalur ini namun agak curam dan jarang dilewati Pendaki. Oke, hati-hati Pak Jumari dan keep contact!

Perjalanan turun tidak begitu banyak cerita, hanya sesekali cuaca menjadi cerah dan pemandangan permadani dapat terlihat dengan jelas. Nice view, rugi banget kalau tidak diabadikan. Novi, Yuan dan Gopenk cepat sekali turunnya. Memang mereka berlari, hehe aku santai saja. Mencoba menikmati suasana hutan dengan pohon-pohon mati terbakar karena letusan Papandayan. Sampai di mata air, kami puaskan untuk mengambil gambar. Suasananya yang damai, memaksaku untuk sejenak tinggal menikmati keindahan. Sesekali kabut menghampiri hutan mati. Suasana menjadi tampak mistis. Airnya yang jernih dengan tumbuhan Edelweis disana sini menjadikan tempat ini favorit bagiku. Seandainya bisa, ingin ku bawa pulang agar halaman belakang rumahku menjadi indah seperti tempat ini. Tempat yang indah, tempat kedamaian dan tempat untuk menjaga semangat hidup.

Suara Guntur akhirnya memaksa kami untuk meninggalkan mata air. Rintik-rintik mulai jatuh dari langit. Aku dan Yuan mempercepat langkah untuk sampai ke tenda di sebelah danau kecil. Ternyata anak-anak, sudah berkerumun di dalam tenda. Akhirnya disinilah kami berpisah dengan Team Novi. Apa yang kami kerjakan di dalam tenda? Ahh, mencari makanan-makanan yang masih tersisa sambil menunggu hujan lebatnya reda. Sebenarnya agak kawatir jika semua perbekalan dihabiskan sore ini. Nanti kalau ada apa-apa di jalan bisa gawat. Berpikir positif dan memang masih ada beberapa makanan dari Ibuku yang dititipkan sama Anjar kemarin. Sampai pukul 15.00, hujan masih saja turun. Akhirnya diputuskan untuk turun dengan menggunakan ponco. Packing semua barang dan ternyata tenda menjadi berat karena terkena air hujan. Ranselku menjadi berat sebelah.

Perjalanan turun dimulai. Baru saja masuk hutan, sudah dibingungkan dengan jalur yang tidak jelas karena terkena hujan. Memang aku merasa nggak pernah lewat jalan yang kita ambil sekarang. Namun aku yakin meskipun salah jalan mesti ini akan sampai di perkampungan penduduk. Karena ada tanda-tanda rafia di beberapa Pohon. Dan yang aku cari adalah tempat dimana kami melakukan sarapan tadi pagi. Sungguh melegakan sekali ketika menyadari spot itu ada didepanku. Hujan masih setia menemani perjalanan turun. Apalagi harus melewati jalur jurang yang berbentuk sungai. Dibutuhkan ekstra hati-hati. Tak hanya satu dua kali, jatuh terpeleset karena licinnya medan. Sungguh melelahkan memang melewati jurang berbatu. Harus memiliki kuda-kuda yang kuat agar tidak jatuh. Sampai di ujung jalur sungai, hujan berhenti dan pemandangan menakjubkan tersaji secara nyata. Bukit dengan banyak sekali tenda-tenda di Pondok Salada mewarnai sore itu. Dari kejauhan tampak hutan mati dengan tanah putihnya. Sepertinya itu jalur yang pernah aku lihat di catatan perjalanan orang lain. Ada pula danau di sebelah hutan mati itu. “Tahan” samar samar aku dengar suara itu dari arah Pondok Salada. Aku tak tau maksud dari orang-orang di Pondok Salada. Namun, sempat ada kilatan-kilatan blitz kamera. Aku pikir ada beberapa orang yang ingin mengabadikan moment ini dari bawah. Setelah cukup lama berhenti, akhirnya kami paksa turun meskipun teriakan-teriakan dari bawah tetap terdengar. Ahh Bodo amat pikirku. Karena memang dikejar waktu harus segera sampai Parkiran sebelum malam tiba. Tak lama kemudian ada pendaki dari bawah yang menemui kami, ternyata ada dari teman-teman mereka yang belum kembali dari Puncak. Dia kira kami teman-teman mereka yang belum kembali.

“Di atas tadi masih ada orang nggak mas?” tanya mereka. Seruku “Ada mas, tadi masih ada beberapa orang yang naik ke Puncak sewaktu aku turun”. “Oke mas, makasih infonya. Mau nyusul teman-teman kami yang belum balik. Karena mereka nggak tau jalan” kata pendaki itu lagi.

Jam 16.30 sampailah kami di Pondok Salada. Tidak berlama-lama kami lanjut perjalanan ke Parkiran. Terus berjalan dan terus berjalan berharap cepat sampai. Sempat meminta bantuan Anjar untuk bertukar ransel karena memang agak kecapekan dan ranselku tidak seimbang.

Tidak banyak hal spesial yang kami temui sampai saat melewati kawah Papandayan. Dalam pikiranku, sebentar lagi sampai karena memang sudah dekat dengan Parkiran. Jalur hilang saat sampai ditengah bagian kawah. Di sana sini terlihat asap belerang mengepul menambah ngeri petang itu. Saat kami mengikuti jalur, mengarah ke tempat yang asapnya lebih tebal dan aku melihat tulisan tanda tempat untuk merebus telur berubah menjadi hitam terbakar. Aku minta Adit untuk ambil jalur ke atas, namun sama pula belerang cukup tebal menjadikan jalan buntu lagi. Hujan pun turun dan sesekali petir menyambar. Betapa paniknya pikiranku. Gelap, Hujan Deras, Petir, Asap Belerang dan tersesat. Sungguh lengkap sekali. Hanya beberapa lampu senter yang dapat diambil dari dalam ransel. Kondisi kawah benar-benar berubah, tidak seperti posisi pada tadi Pagi. Aku bener-bener blank, karena jalur tidak terlihat kemungkinan terkena hujan. Hanya Arie yang jadi andalan kami, karena dia sudah sering kesini. Dia bilang kita cari jalur lebar bekas aliran lava dari kawah, jika sudah menemukan itu sudah pasti kita sampai Parkiran.

Keadaan panik memang sepertinya membuat semua team tak terkendali. Adit berjalan cepat di depan. Arie dan Anjar masih tertinggal di belakang. Team terpecah menjadi tiga bagian. Aku memanggil Adit agar menunggu dan berharap bisa tetap merapat.  Sungguh sudah tidak bisa berpikir, hanya bisa terus melangkahkan kaki. Berharap cepat menemukan Parkiran. Jalur semakin lebar dengan sisi kanan hutan. Dari jalur ini air mengalir deras dari atas ke arah bawah. Cemas kalau-kalau jalur ini adalah sungai dan air bah datang. Dan apa yang akhirnya melegakanku adalah ada tenda dengan lampu ala kadarnya terlihat di rimbunan hutan. Tak lama kemudian sampai di Parkiran dan segera menuju Pondok untuk memesan Teh Anget dan Makan Malam. Basah kuyup dengan perut lapar. Pukul 18.30, hujan deras dengan petir yang menggelegar tiada tara. Memang menakutkan dan untung kami sudah sampai di Parkiran.

Alhamdulillah….

terima kasih Allah SWT,

terima kasih Ari, Adit, Angga, Baha, Yuan dan Anjar

teman-teman Pendaki lainnya

terima kasih Papandayan

see u next time

6 responses

  1. adi

    nice journey..

    18 May 2011 at 7:50 pm

    • rankga

      Thanks ya.. Indonesia memang indah

      18 May 2011 at 8:54 pm

  2. Halo sobb..
    Punya koordinatnya Tegal Alun ga?

    share sini yaa, atau tolong kirim ke email astaka_sarwiyanto@yahoo.com

    thanks sobb

    6 November 2011 at 10:39 pm

    • rankga

      Waduh maap bro pas kemarin ke Papandayan, nggak bawa kompas. Jadi nggak sempet nyari koordinatnya di PETA.

      7 November 2011 at 2:33 pm

  3. Halo bro mau tanya skrg Gn Papandayan udah bisa dipakai lagi belum untuk camping khususnya di Pondok Salada..?

    Halo bro mau tanya sekarang Gn Papandayan udah bisa di pakai camping lagi belum yg dilokasi Pobdok Salada..?

    19 March 2012 at 12:59 pm

    • rankga

      Terakhir saya ke sana tahun 2011, Pondok Salada masih rame di pakai untuk base camp. Air masih melimpah dan tempatnya memang cocok untuk lokasi camping.

      19 March 2012 at 1:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s