"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Papandayan – Truly Sunda

Papandayan

Kawah Papandayan

Sunter – Jum’at, 22 April 2011

Pagi itu, masih tertidur pulas karena tadi malam begadang menyiapkan logistik untuk rencana pendakian ke Papandayan. Anjar masih belum sampai juga di Jakarta. Kabarnya masih terjebak di kereta gaya baru malam selatan di Bekasi. Rasanya masih berat banget untuk membuka dunia. Akhirnya dengan penuh kekuatan, ku beranikan mandi dan segera memulai hari ini. Ternyata Baha’ sudah sms pagi-pagi, namun tak berefek bagiku. Sekarang dia tidur lagi pulas dikamarnya. Aku bangunin, ternyata hanya bangun dan pindah tidur ke kamarku. Ampun deh Baha’. Pukul 09.00 berlalu, sarapan menjadi tujuanku, Baha’ dan Yuan. Aku memesankan makanan untuk Anjar berharap nanti bisa langsung berangkat dan Anjar makan di Bus. Ada sms masuk dari Anjar untuk tidak usah menunggunya lagi karena kecapekan dan keretanya belum juga beranjak melanjutkan perjalanan. Wah, tidak bisa begitu pikirku. Aku coba telp Anjar tetapi tidak aktif HP-nya. Jadi kebingungan menentukan keputusan. Dengan berat hati karena tidak ada berita lagi dari Anjar, akhirnya diputuskan untuk berangkat naik busway ke Kampung Rambutan. “We must go on!”. Jalan kaki menuju shelter busway menjadi pemanasan hari ini.

Dalam perjalanan busway menuju kampung rambutan, ada telp masuk. Rupanya Anjar menelepon dan menanyakan keberadaanku. Ternyata tadi tidak bisa dihubungi karena HPnya kehabisan baterai. Dia sudah panik karena mengira aku meninggalkannya. Akhirnya kita sepekat untuk janjian di Terminal Kampung Rambutan. Aku beri tahu rute busway menuju Kampung Rambutan dan aku tunggu disana. Santai Njar, Jangan Panik. Sepertinya dia agak panik, ketakutan kalau-kalau tidak tau jalan dan aku tinggal. Kami transit di halte busway UKI. Menunggu cukup lama untuk bus jurusan Kampung Rambutan. Kami sampai Kampung Rambutan pukul 11.00, diputuskan untuk sholat jum’at dulu bagi yang menjalankan. Hehe, kebetulan aku dan Yuan jaga tas (Maklum lagi dalam perjalanan jauh) sekalian menunggu Anjar agar dia tidak tambah bingung. Baha’ pergi mencari masjid untuk sholat Jum’at. Titip absen ya Ha’ ! Tak lama kemudian Anjar telepon dan menanyakan posisiku. Fenomena pertemuan yang mengharukan sepertinya buat Anjar karena dia sudah dalam perjalanan jauh sampai ke Tanah Jakarta ini. Dia bilang ” Akhirnya aku menginjakkan kaki di Jakarta”. Dia menceritakan kejadian ketika sampai di Stasiun Senen langsung menghentak-hentakkan kakinya ke Tanah, tanda dia sudah pernah ke Jakarta. Ada hal yang paling menggelikan yang dia ceritakan ke aku. Saat akan naik bus way dari shelter Senen,  dia orang terakhir yang tidak bisa masuk ke dalam busway karena memang busway sudah akan jalan. Langsung deh, Anjar turun dari tangga menuju depan bus dan menggedor-ngedor kaca depan berharap sopir bus membuka kembali pintu Busway. Kejadian itu tak luput dari pantauan satpam di shelter tersebut. Anjar disuruh naik dan menunggu bus yang akan datang selanjutnya. Hadeh Njar >_< !

Jam 13.00 team Jakarta dan Surabaya telah komplit. Sekarang berjalan menuju ke tempat menunggu bus. Aku bbm-an dengan Adit, memberi kabar kalau kita sedang menunggu bus ke arah Garut. Cukup lama menunggu bus Karunia Bhakti jurusan Garut. Namun ternyata setelah masuk bus ini tidak ber-AC. Hanya bisa berharap semoga tidak macet saja. Bisa jadi pindang bakar didalam bus. Dalam perjalananan bus lebih didominasi dengan mendung dan hujan. Perjalanan bus sangat lama karena ternyata bus ini lewat ke cianjur dulu dengan lewat jalan-jalan yang kecil namun lumayan banyak pemandangan yang dilihat. Melintasi bandung (tol Cipularang) dengan hujan lebat di sore hari. Namun semakin dekat dengan Garut, bus terjebak macet cukup panjang di daerah Leles. Kasian Adit dan 2 temannya yang sudah menunggu kedatangan kami di Garut dari sore hari. Sabar ya Dit!!! Salah naik bus nih.

Pukul 21.00, sampai di Garut dan bertemu dengan team dari Bandung. Ternyata Adit mengajak temannya dari Garut satu lagi namanya Ari. Disini aku juga dikenalkan dengan teman kos Adit yang juga dari Bandung bernama Angga. Kami berkumpul di Toko temannya Adit di Garut. Aku lupa namanya, terima kasih ya Mas Mba atas tempat singgahnya. Kami langsung berencana untuk mencari angkutan bus mini menuju Cikajang “Gerbang pendakian Papandayan”. Di dalam angkutan ini benar-benar penuh sesak. Maklum memang ongkosnya begitu murah yaitu 5rb saja. Berdesak-desakan sampai kernet angkotnya jongkok dengan pintu yang terbuka sambil memeganginya. Bahasa Sunda membahana disini, dan aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Ah, seperti hidup didunia lain. Untung ada Adit, Ari dan Angga yang bisa nawar memakai bahasa Sunda. Memang jika berbicara dengan bahasa Sunda bisa lebih mudah bernegoisasi. Alhamdulillah. “Kumaha atu Kang?”

Kami sampai di Gerbang menuju Papandayan sudah terlalu larut. Disambut dengan gerimis dan kerumunan ojek-ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar sampai di Parkiran Pondok Papandayan. Perut sebenarnya sudah lapar tiada tara karena hanya sarapan tadi pagi yang menjadi pengganjal perut. Sejenak berkumpul dulu ditempat teduh sembari teman-teman kami “Sang Pangeran Sunda” yang bernegoisasi dengan Ojek. Bahasa sunda menjadi bahasa utama disini. Adit dan 2 temannya lah yang menjadi translator untuk negoisasi dengan Mang Ojeknya. Setelah lama dan perjuangan yang berbelit belit akhirnya, mang Ojeknya mau mengantarkan kami dengan pick up bak terbuka dan cukup dengan harga 115 ribu. Dalam perjalanan menggunakan pick up ini sungguh menyiksa, mengingat jalannya lubang disana sini dan menanjak abis. Rasanya seperti dilempar kesana kemari dan terbentur-bentur bak yang begitu kerasnya. Ah Nikmatnya dunia, jarang-jarang bisa naik angkutan seperti ini. Melewati perumahan penduduk yang jika dilihat sepertinya sudah sejahtera kehidupan masyarat sekitar Papandayan. Rumahnya lumayan bagus-bagus kalau dilihat menurut padangan kacamataku (haha, gaya banget sih). Meninggalkan perkampungan, kami memasuki hutan pinus. Malam yang pekat tetapi tidak begitu menggetarkan hati untuk tetap menuju pos pendakian Papandayan. Hamparan lampu kota sejenak terlihat dari belakang. Sungguh menakjubkan. Perlahan bayangan model kawah Papandayan terlihat dari kejauhan. Sama persis dengan foto-foto yang kulihat di Internet kemarin. Ternyata lumayan sangat jauh jarak antara Parkiran Papandayan dengan gerbang Papandayan. Akhirnya kami diberhentikan di suatu pondok. Pondok itu merupakan pondok perijinan Papandayan. Petugas perijinan meminta kami untuk mendaftarkan anggota pendakian. Cukup dengan membayar 2 ribu per orang. Ternyata di belakang pondok tersebut adalah Parkiran Papandayan. Banyak pondok-pondok yang menyediakan makanan dan tempat penginapan disini. Kedatangan kami disambut dengan dinginnya malam dan Mang Atok. Mang Atok adalah salah satu orang yang menyediakan jasa transportasi dari Garut ke Parkiran Papandayan. Dia bercerita banyak hal tentang Papandayan. Tentang letusannya, jalur pendakiannya dan juga menceritakan pekerjaannya yang biasanya mengantarkan para pendaki turun langsung ke Terminal Garut. Adit sudah menyimpan no.HPnya untuk jaga-jaga jika kami butuh nanti. Kami putuskan untuk membuka tenda dan mencari tempat yang bagus untuk membuka tenda. Disini tempatnya lumayan enak, karena ada fasilitas toilet dan musholla. Malam itu, perut kami sudah sangat keroncongan. Memasak seperlunya dan tidur. Rencananya besuk berangkat jam 3 pagi. Adit dan Angga tidur diluar tenda dengan menggunakan sleeping bag. Sedangkan yang lainnya terlelap didalam tenda.

“Dinginnya dekapan alam Papandayan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s