"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Penanggungan – Mencintai Merah Putih

“Tereret”

Bangun bangun ternyata diluar tenda sudah ramai dengan orang yang berkemas-kemas. Ah tidak, Upacara 17an telah selesai dilakukan oleh Para Pendaki. Kami kesiangan bangun pukul 06.00. Terlihat sudah banyak para pendaki yang turun dari Puncak Penanggungan. Namun, kami akan tetap melakukan pendakian untuk sekedar mengibarkan bendera “Merah Putih” di Puncak. Kami segera menyiapkan sarapan pagi ala sekedarnya untuk modal mendaki pagi ini.

Ada yang aneh saat kita melakukan pendakian, saat semua pendaki berbondong-bondong turun kami malah terengah-engah mendaki Penanggungan. Karena jalur ramai untuk turun maka dengan sangat terpaksa harus sering berhenti untuk memberi jalan yang turun terlebih dulu. Atau kadang kala harus mencari jalan lain. Tumbuhan yang tumbuh di sekitar puncak di dominasi oleh alang-alang. Suasana seperti di Indonesia Timur dengan sabana-sabananya yang indah. Sebenarnya banyak pendaki yang mempertanyakan “Kok baru mau naik Mas?” Pertanyaan yang sangat menohok (dalam hati). “Bangunnya kesiangan Mas” jawabku.

Dengan penuh semangat, pukul 09.00 kami sampai di Puncak Penanggungan. Masih ada beberapa pendaki yang masih menikmati keindahan Puncak. View saat itu masih sangat bagus sekali. Gunung Arjuna – Welirang dengan kumpulan awan yang fantastis. Sejenak kami kibarkan Bendera Arismaduta dan sejenak mengenang perjuangan Pahlawan-Pahlawan kita. Merdeka!

Gunung Penanggungan

Gunung Penanggungan

Harapanku : “Semoga Indonesia bisa semakin aman, sejahtera dan sentosa. Rakyatnya makmur. Pemimpinnya semakin berbudi luhur dan nggak rebutan kekuasaan”

Sesi yang paling ditunggu-tunggu adalah foto-foto. Jepret sana jepret sini sampai hati ini puas sepuas-puasnya. Vegetasi puncak sangat gundul sekali. Jarang sekali ada pohon. Sebelah utara puncak terdapat kawah kecil yang untuk sampai kesana harus menuruni jalan setapak. Kawasan kawah kecil ini biasanya digunakan untuk mendirikan tenda.

Namun yang tidak menyenangkan di Puncak adalah masih terasa panas karena gunung ini tidak terlalu tinggi. Terik matahari masih terasa menyengat meskipun angin bertiup kencang. Jika ada awan yang melintas, itu akan menjadi bonus kami.

Di Puncak, kami bertemu dengan pendaki suami istri. Melihat mereka sungguh harmoni sekali. Sebenarnya istrinya dulu bukan seorang pendaki, namun karena disupport oleh suaminya maka sekarang menjadi pendaki juga. Mereka sering bercerita tentang pengalaman mendaki bersama. Kami sempat bertukar-tukaran no. HP untuk komunikasi jika ada rencana untuk main bersama.

Mereka memutuskan untuk turun lebih dulu dan kami masih ingin menikmati puncak dengan menyantap beberapa perbekalan kami. Kami memutuskan untuk turun pukul 11.00. Dalam perjalanan turun, kami sempatkan foto-foto di tempat-tempat yang viewnya bagus. Sungguh indah berfoto di Padang Ilalang yang sangat luas. Narsisnya keluar semua deh.

Perjalanan Turun

Perjalanan Turun

Sabana Penanggungan

Sabana Penanggungan

Perjalanan turun lebih banyak didominasi oleh terik matahari sehingga lebih banyak berlari agar cepat sampai pos pendakian. Kami rencana istirahat di Shelter, namun karena sangat jarang ada pohon disini maka kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dehidrasi menyerangku. Ah pengen segera merasakan nikmatnya es degan, es teh atau apalah yang penting es. Di dekat pos pendakian ternyata ada warung dan kitapun berpesta es degan dan gorengan. Nikmatnya dunia disertai ngobrol asik bareng teman.

Kami sampai di Parkiran sekitar pukul 14.00. Kami membersihkan diri mandi dan sholat dulu sebelum pulang ke Surabaya. Dan akhirnya sekitar pukul 15.30, aku sampai di kost Surabaya.

Demikian cerita singkat saya saat melakukan pendakian di Gunung Penanggungan untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Merdeka !!! Semoga perjuangan para Pahlawan bisa kita teruskan dengan berkontribusi demi kemajuan Indonesia. Hidup Indonesia.”

12 responses

  1. manda

    apanya kos?? gubeng benernya, dan salah naik kereta -_- dan sampai Tulungagung jam 00.00 zzzzzzZZZZzzzz

    9 April 2011 at 9:33 pm

    • rankga

      Hehe kan ke kos dulu nda critane.. Trus baru ke gubeng n akhirnya salah kreto.. Geje nang sta. Kertosono. Jan nasib…

      9 April 2011 at 10:05 pm

  2. kencrenk

    Mantap Jeeehhhhh……

    10 April 2011 at 1:07 am

    • rankga

      Terima kasihhhh..

      10 April 2011 at 1:20 am

  3. assalamu’alaykum..afwan..mampir nh di blog antum…http://tentarakecilku.blogspot.com

    11 May 2011 at 10:53 am

  4. wow….
    smoga suatu saat bisa kesana🙂

    13 July 2011 at 4:49 pm

    • rankga

      Amin, kalau ke sana lebih enak perjalanan malam bro. Karena tidak banyak tumbuhan besar yang tumbuh. Kebanyakan ilalang

      14 July 2011 at 9:56 am

  5. teringat kenangan wktu kesana….

    8 December 2011 at 9:06 am

  6. rankga

    gmn kesannya brooo

    6 January 2012 at 12:17 am

    • ivan

      mas..
      ada CP perijinan penanggungan kagak? saya mau kesana januari ini, kira” aman kagak ya mas?
      mohon pencerahanya..
      makasih..
      kamtis.ivan@yahoo.com

      8 January 2013 at 11:56 pm

      • rankga

        Saya nggak punya CPnya perijinan penanggungan. Sepertinya aman asal semua perlengkapan dan peralatan disiapkan dengan baik.

        9 January 2013 at 8:25 am

  7. Kita adakan reboisasi aja,jadi setiap orang/grup mapala yg mau mendaki kita anjurkan utk membawa bibit pohon berbuah/perdu utk ditanam di gunung utk melestarikan lingkunggan dan buat kenanggan kita……..

    30 September 2013 at 7:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s