"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Penanggungan – Penggalan Semeru, 1.653 mdpl

Penanggungan

Gunung Penanggungan

Alkisah bumi gonjang ganjing, Samudera Hindia mengamuk, membuat berbagai bencana di dataran bumi. Bathara Guru pun memerintahkan Dewa Brahma dan Wisnu agar Mahameru, puncak abadi para dewa, yang terletak di Jambudwipa (India) dipindahkan ke pulau Jawa. Sidang para dewa sepakat.

Gunung Semeru pun diletakkan di ujung Jawa Timur, dengan puncak Mahameru menyandar ke Gunung Brahma (Bromo). Ternyata setelah dipindahkan ke ujung Jawa Timur, pulau Jawa malah oleng ke Timur. Agar seimbang, Bhatara Guru pun memotong puncaknya sedikit ke arah barat. Potongan itu lah yang menjadi Gunung Penganggungan, terletak di Mojokerto. Tak heran puncak Penanggungan serupa mangkuk yang terbalik.

Begitulah kisah yang diyakini moyang kita sejak Kerajaan Mataram Kuno. Di kedua gunung, Semeru, maupun Penanggungan, banyak ditemukan arca-arca dan prasasti tertulis.

Minggu, 16 Agustus 2009

Aku, Imam dan Munir akan merencanakan untuk melakukan pendakian sekaligus upacara 17-an di puncak Penanggungan. Gunung ini terletak di Trawas. Pagi itu, imam dan munir masih berada di Tulungagung. Mereka berangkat naik kereta rapi dhoho jam 10 siang. Namun sialnya kereta api cepat tersebut mengalami gangguan sehingga jadwal keberangkatannya menjadi sangat terlambat. Kami merencakan untuk berangkat dari Surabaya ke Trawas pada sore hari dengan menggunakan sepeda motor. Terdapat 2 sepeda motor namun personil cuma bertiga sehingga aku mencari personil tambahan yang ingin ikut dalam ekspedisi ini daripada aku sendirian naik motor. Awalnya aku menghubungi Anjar dan mengajaknya ikut pendakian ini namun dia sudah terlanjur janji dengan ceweknya untuk pulang kampoeng menemuinya. Ya sudah Good Luck Njar, Jangan kencan aja! Pikiran ini akhirnya terlintas untuk mengajak adekku yang baru saja diterima di ITS Surabaya. Aku sms ternyata dia tertarik dan ku suruh untuk menyiapkan segala perlengkapan dia. Perlengkapan team sudah disiapin sama munir dan imam (semoga saja..hahahahaha). Adekku ini namanya Manda. Cewek tulen, ya sempat kepikiran kalau mengajak dia nanti malah ngrepotin sepertinya??? Hehehe, Peace. Sebenarnnya hari ini keadaan dapurku sudah tidak bisa mengepul, untuk beli makan saja sudah tak sanggup. Minggu kemarin baru pulang dari Ciremai, Jawa Barat lumayan menguras kantong. Ternyata, aku juga masih butuh uang untuk mengurus segala kelengkapan yudisiumku. Akhirnya sempat hutang teman nih. Makanya aku berani ke Penanggungan karena ada jaminan dari Imam yang mau ngutangin. (Curcol nih >_<) Payah!

Pukul 15.00 kuharap imam dan munir sudah sampai surabaya. Kabar terakhir mereka naik kereta penataran jurusan surabaya lewat malang dan sekarang baru sampai malang kota baru. Mau berangkat jam berapa ini pikirku. Mesti ini kereta sampai surabaya sekitar jam 6 malam. Ya mau gimana lagi, cuma bisa MENUNGGU. Pekerjaan yang tidak butuh tenaga tapi menghabiskan pikiran banget. Menjemukan sekali, bisa dibayangin gimana rasanya tu!! Jam diHaPeku sudah menunjukkan pukul 19.00 tapi tidak ada kabar dari imam dan munir. Aku sms tidak terkirim-kirim lagi. Akhirnya daripada pusing, aku makan aja dulu sama Manda. Semuanya jadi menggantung tanpa kejelasan jadi 17-an atau tidak? Padahal anak-anak sekostan sudah tau kalo aku mau naik gunung. Kalau tidak jadi berangkat pasti jadi bahan tertawaan anak sekost.

Dan waktu yang dinantikan pun tiba. Pukul 21.00 kita berkumpul dan segera menyiapkan semua perlengkapan kami. Meskipun Imam dan Munir baru sampai Surabaya. Ternyata baterai mereka habis dijalan, makanya tidak bisa dihubungi. Kami naik motor menuju trawas dengan jalur Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto-Trawas. Sempat diserang hujan di sidoarjo namun perjalanan kami dapat dilanjutkan. Dalam perjalanan kami sering menemui jalanan gelap dengan hutan dikanan kiri. Menambah seram perjalanan ini, karena jujur saja pikiran saya sudah berandai-andai ada perampok dari belakang dan menendang saya dari belakang. Semoga saja tidak, sedangkan Manda ternyata tertidur saat aku bonceng. Hadehhh, dasar Manda.

Pukul 11.00 kami sampai di Pos Pendakian dengan menitipkan motor kami agar aman. Ternyata malam itu sangat ramai sekali, meskipun malam tapi banyak pendaki yang masih akan memulai pendakiannya. Tidak sabar untuk segera memulai pendakian ini, kami bersiap-siap dengan mengisi stock air di Pos Pendakian karena tidak ada mata air lagi diatas. Di pintu masuk pendakian, kami diharuskan untuk membayar bea masuk. Malam itu, Pendakian serasa asing sekali. Seperti menyibak keheningan dan kegelapan malam yang begitu pekat meskipun kadang cahaya bulan sebentar-sebentar menerangi jalan kami. Untung sekali ada sinar bulan yang cukup menemani kami diperjalanan.

Beberapa saat jalan imam teringat kunci motor pinjamannya saat dicari tidak ada. Terinspirasi oleh kejadian motor hilang akhirnya dia balik lagi ke parkiran untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Aku, munir dan manda dibuatnya menunggu cukup lama dikeheningan malam. Bahayanya jika diam seperti ini membuat kantuk datang menyerang. Ayolah mam, cepatlah kau balik. Akhirnya dengan penuh perjuangan imam balik dengan kabar bahagia bahwa kuncinya tertinggal di parkiran dan sudah diamankan oleh penjaga parkiran. Alhamdulillah… Perjalanan kami lanjutkan. Awal perjalanan kami dihiasi oleh hutan yang masih lebat, namun semakin mendapatkan ketinggian panorama luar biasa bisa kami temukan disini. Hamparan bumi dengan lampu kota yang terang sungguh sangat menghibur. Dinginnya malam sudah tak terasa lagi meskipun nafas kami yang sudah mulai terengah-engah. Tapi semua itu terbayarkan saat kami istirahat di lereng-lereng gunung terlihat kota pasuruan dimalam hari itu. Semakin ke atas vegetasi tanaman mulai berkurang. Sehingga jalan setapaknya terlihat sangat terbuka lebar.

Semakin dekat kami dengan shelter sebelum puncak, suara ramai dan pendaran cahaya semakin mendekat. Menambah semangat kami untuk segera sampai di shelter. 2 jam perjalanan telah kami lalui dan akhirnya kami sampai di Shelter sebelum puncak. Saya takjub melihat suasana disini. Belum pernah saya mengalami hal seperti ini. Shelter ini dipenuhi dengan banyak tenda dan orang. Sudah selayaknya pasar malam saja. Banyak sekali pendaki-pendaki yang akan merayakan 17-an dan camp disini. Pemandangan disini cukup bagus sekali karena keindahan lampu kota pasuruan dan malang terlihat jelas dari sini. Lampu senter juga banyak yang menyorot ke arah puncak. Tanda bahwa masih ada beberapa orang yang melakukan summit pada dini hari itu. Menurut kabar berita, di Puncak sudah banyak sekali pendaki yang membuat tenda disana. Sehingga kami mencoba untuk memutuskan istirahat dulu di shelter untuk mendirikan tenda. Rencana kami, kami akan summit attack di 5 pagi sehingga bisa menikmati sunrise dan ikut Upacara 17 Agustus di Puncak.

to be continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s