"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Gede – Tanjakan Setan! (Part2)

Dini hari pukul 03.00 kami sampai di pertigaan Cibodas, kami turun dari Bus. Sambutan rasa dingin sudah mulai terasa. Ambil jaket dan coba menghangatkan badan. Kami bertemu dengan team lain dan akhirnya kita patungan untuk naik angkot. Dapatlah 4ribuan untuk sampai ke pasar Cibodas. Dini hari itu, kami mencoba untuk menginap dulu di Pos Pendakian di Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango. Setelah melewati pasar kami menemui bangunan yang sangat megah. Terlihat tulisan Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango. Semua beranggapan bahwa itu adalah villa bukan pos pendakian. Baru tersadar setelah kami jalan jauh dan bertemu dengan team lain. Ternyata benar gedung mewah itu adalah pos pendakian. Tak begitu percaya karena semua pos pendakian yang pernah aku temui tak pernah semegah itu. Kami bercerita mengenai SIMAKSI. Kata team lain, mereka sudah membawa SIMAKSI sehingga dapat langsung melakukan pendakian sedangkan kami masih membawa form draft ijin pendakian yang harus kami tukarkan dengan SIMAKSI. Dan lagi-lagi kami harus menunggu pos pendakian buka pukul 09.00. Akhirnya kami mencari warung untuk istirahat dulu dan ada dari sebagian dari kami, imam dan baha’ sudah terlelap di warung bakso. Dari warung ini kami bertemu dengan Pyan. Orangnya sangat bersahabat dan baik sekali. Banyak cerita yang tercipta dari mulut kami. Namun Pyan datang ke cibodas bukan untuk mendaki ke Puncak tetapi dia ada acara dengan teman-temannya di lembah Mandalawangi. Suara pemilik warung bakso sayup-sayup terdengar saat menyiapkan dagangannya. Jadi sungkan akhirnya subuh itu kami berpindah tempat dan Pyan menawarkan kami untuk istirahat dulu di warung Bu Le’ dekat pasar. Di warung ini terdapat Base Camp pendakinya. Sangat nyaman sekali sehingga team dapat meneruskan tidurnya di karpet merah kecuali aku yang tidak enak jika harus meninggalkan Pyan terjaga sendiri. Fajri dan Noko menjebakku. Haha Sial! Aku jadi tidak bisa tidur.

Base Camp Bu Le’

Foto dari kiri : Rangga, Fajri, Noko, Pyan, Imam dan Baha’

Pukul setengah 9 aku membangunkan semuanya untuk segera bersiap-siap dan segera mengurus SIMAKSI agar cepat bisa melakukan pendakian. Aku putuskan Imam, Baha’ dan Fajri pesan makan sedangkan aku dan Noko mengurus SIMAKSI ke Pos Pendakian TNGGP. Untung pos pendakian sudah buka namun pelayanannya begitu lama. Kalau dihitung-hitung ada sejam lebih kami menunggu SIMAKSI turun. Ada yang unik disini. Sebelum aku mendapatkan SIMAKSI, ada ujian tertulis yang harus aku lalui. Ampun deh! Fajri aku panggil untuk menyelesaikan ujian ini bareng-bareng. Apa itu navigasi, apa itu survival, apa itu konservasi. Ah sudahlah, yang penting SIMAKSI sudah ada ditangan dan kami segera mengisi energy dengan makan nasi goreng. Jam 11.00 kami sampai di pos penjagaan jalur 1 dan ditempat ini semua perlengkapan kami diperiksa. Kami harus mengisi form daftar barang bawaan. Kami diingatkan untuk membawa sampah ke bawah. Tenang Pak! Itu sudah kewajiban kami. Taman Nasional ini memang sangat terjaga terbukti dengan perijinan yang rumit sekali.

TNGGP

Pendakian ini diawali dengan jalur batu yang ditata. Awal pemanasan yang lancar karena belum ada tanjakan sama sekali. Sering kali kami menemui orang asing dan pengunjung yang akan menuju ke Air Terjun. Coba-coba untuk belajar bahasa Inggris, mengajak ngobrol orang Prancis. Setengah jam kami sudah sampai di Telaga Biru. Di pos ini terdapat mata air yang mengalir jernih sepanjang jalur pendakian dan Telaga Biru yang terlihat membiru magis. Kalau dilihat-lihat seperti menyimpan misteri yang tak terlihat oleh mata awam. Dan tak lupa kami menyempatkan untuk berfoto ria.

Telaga Biru

Telaga Biru

Pendakian ke Gunung Gede sangat mudah untuk mencari air. Jadi untuk masalah supply air sangatlah aman. Jika memilih jalur cibodas sering kita jumpai sungai-sungai yang jernih mengalir deras di samping jalur kecuali dari Pos Kandang Badak ke Puncak. Setelah telaga biru, kami melewati rawa-rawa yang dibangun jembatan diatasnya dengan pemandangan puncak Pangrango. Sangat menghibur sekali apalagi ketika hati sedang penat memikirkan pekerjaan yang tiada habisnya.

Rawa

Rawa

Ternyata banyak sekali pengunjung yang akan ke air terjun Cibereum, kami sempat istirahat di pertigaan antara turun ke air terjun Cibereum dan naik ke puncak Gede / Pangrango. Dari pertigaan ini kurang lebih 300 meter untuk menuju ke air terjun. Karena keinginan kami untuk mendaki Gede sekaligus Pangrango maka kami tak banyak waktu, kami segera melanjutkan pendakian pukul 12.00 menuju pos Air Panas. Jalur setapak telah kami jumpai mulai dari pertigaan tadi dan sudah mulai menanjak terus. Hutan disini masih sangat lebat. Dari pertigaan Cibereum ke Air Panas memakan waktu yang cukup lama. Tetapi karena rimbunnya hutan jadi tidak terlalu terasa capek. Setelah berjalan 2 jam setengah akhirnya kami menjumpai air panas. Medannya lumayan ekstrim. Jalur ini berada di pinggir jurang dengan bantuan pembatas tali untuk berpegangan. Selain itu dari dinding gunung keluar air panas yang sangat panas dan berasap. Jadi jangan sampai salah tumpu kalau menginjak air pasti sangat berasa panasnya. Sangat mengagumkan sekali. Sekalian sauna-sauna agar tambah putih kulitku. Haha, Ngarep!

Air Panas

Air Panas

Dari Pos Air Panas kami langsung menerukan perjalanan ke Kandang Batu. Antara pos ini sangat dekat, hanya memerlukan waktu 15 menit. Kami sempat istirahat di Kandang Batu karena tempatnya yang luas dan enak untuk melepaskan lelah sejenak mengisi perut dengan nutrisi-nutrisi ala kadarnya. Perjalanan dilanjutkan menuju pos Kandang Badak yang merupakan percabangan antara ke Puncak Gede dan Puncak Pangrango. Di perjalanan antara pos kandang batu dengan kandang badak, kami menemukan gua dan air terjun yang sangat bagus.  Lumayan untuk menghilangkan rasa capek dan kami tak sempat untuk berhenti. Perjalanan kami masih panjang, dan kami masih mengejar Pangrango juga. Sejam kemudian kami akhirnya sampai di Pos Kandang Badak. Kami singgah untuk sejenak menghadap sang Maha Kuasa dan menyiapkan persediaan air kami. Kami menuju mata air dan mengisi semua botol-botol kami. Di dekat mata air terdapat bangunan yang lumayan besar mungkin ini yang dinamakan kandang badak. Tetapi baunya membuat saya tidak betah berlama-lama di mata air.

Air Terjun

Air Terjun

Pukul 16.00 kami putuskan untuk segera berangkat menuju Puncak Gede, karena estimasi waktu di catatan perjalanan adalah 4 jam dan medan akan sangat terjal menanjak setelah Kandang Badak. Benar saja, apa yang ditulis di catatan perjalanan yang kami dapat. Medan tebing telah tegak berdiri didepan jalur kami. Sungguh keren! Dengan tali yang telah ada di jalur saya dan teman-teman memanjak dinding ini dengan ransel-ransel dipunggung kami.

Panjat Dinding

Panjat Dinding

Dan semuanya pun aman meskipun saya sempat salah tumpu yang mengakibatkan cedera kakiku saat bermain futsal kemarin kambuh. Aku coba mengurangi sakitnya dengan mengoleskan balsam dan memijatnya pelan-pelan. Semoga kaki ini masih dapat diajak kompromi. Dari sini sudah tidak ada lagi bonus, karena jalur ini banyak yang mengatakan adalah tanjakan setan. Tanjakan berbatu untuk mencapai puncak. Kemiringan dapat mencapai 75 derajat lebih. Sangat menguras tenaga tapi kami ingin sampai Alun-Alun Surya Kencana untuk Camp kami malam ini. Namun, terlihat sekali kalau banyak yang sudah kecapekan sehingga kami sering melakukan istirahat disini. Mungkin energi kami yang sudah mulai habis. Pelan-pelan kami melangkahkan kaki ini. Dengan penuh susah payah, magrib akhirnya kami sampai di shelter sebelum puncak. Karena kondisi medan yang kanan kiri jurang dan gelap akhirnya kami memutuskan untuk camp di shelter sebelum puncak. Untungnya kami dapat tempat yang bagus terlindung dari angin yang sore itu sangat dingin dan kencang. Tak banyak kata, kami bangun camp ditempat ini dan segera masak. Imam, Fajri dan Noko bertugas membangun tenda, aku dan baha memasak. Semoga tidak terjadi lagi, gagal masak nasi seperti yang terjadi di Ciremai. Menu malam ini adalah nasi kornet dan mie rebus. Cukup untuk mengembalikan energi. Malam itu, lampu kota begitu gemerlap. Suasana yang sudah lama tidak ku alami lagi. Jadi aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Meskipun dengan dinginnya angin malam yang berhembus kencang. Aku, Baha’, Noko, dan Fajri bersama-sama menikmati gemerlap lampu kota. Aku tak tahu kota mana itu, mungkin kota Cianjur. Very Nice View, sayang aku tak bisa mengabadikan pemandangan ini. Kapan punya SLR? Mupeng!! Dan malam itu kami terlelap di Kawasan Puncak Gede.

5 responses

  1. andika

    cadas bgt brooo… wktu tu jg smpe2 di air terjun ciberum.. tapi w mau tanya kan mang angker yc pas di telaga biru….

    1 November 2010 at 1:35 am

    • rankga

      Nggak tau seh kalo angker nggak nya… Kalo aku belum sempet ke cibereumnya. Hanya 2 temenku yang turun. Katanya seh bagus banget..

      4 November 2010 at 7:53 am

  2. Kalo berpikir itu angker, akan menjadi angker tapi kalo berpikir itu indah ya indah banget. pengalaman pernah naik sampai puncak dan itu sangat seru🙂 intinya kalo kita mengahargai alam dan isinya maka mereka akan timbal balik.

    22 December 2012 at 11:12 am

  3. achenk gempala

    Salut dgn team kalian 2 gunung di tempuh selai gus,benar itu kawan kita hrs buang pikiran negativ,jika ada kembalikan kppd yg maha kuasa..

    3 November 2013 at 11:12 pm

    • rankga

      betul gan. Harus selalu positif thinking.

      6 November 2013 at 9:10 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s