"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Ciremai – Air adalah Kehidupan

Waktu menunjukkan pukul 11.00, saatnya kami harus meninggalkan puncak ini. Karena target kami, malam ini sudah sampai pos pendakian dan lansung pulang. Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata-rata membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun. Ketika akan persiapan turun ternyata persediaan air yang kami bawa sudah habis. Dengan kata lain kami harus menahan haus sampai di bertemu tenda. Alamak inilah yang berat.

Medan berdebu, berbatu, dan panas yang begitu menyegat begitu mematikan tenggorakan kami. Tenggorokan begitu kering dan sangat menyiksa. Sampai aku tak mampu menahan lagi. Iseng aja aku lakukan sweeping botol yang kutemui dalam perjalanan. Semua botol yang kutemui tak ada yang berisi air setetespun. Tapi aku tak pantang menyerah, dan beruntungnya aku menemukan botol kratingdaeng di jalan dan lumayan ada 5 tetes air yang bisa membasahi tenggorokanku. Lumayan untuk sedikit mengobati. Perjalanan sudah terasa lama namun kami tak kunjung bertemu dengan tenda kami. Alangkah tidak sabarnya kami untuk segera menjumpai tenda kami dan kami pengen pesta air. Karena sudah tak tahan aku ingat kalau aku membawa antangin cair. Karena cair pikirku bisa untuk mengobati haus ni. Dan fery pun juga ikut tergoda untuk merasakan antanginku. Ternyata segar sejenak langsung panas berikutnya. Ah Sial! Namun tak berapa lama kami sampai di tenda dan pesta air. Begitu nikmatnya dan inilah salah satu kenikmatan yang diberikan Tuhan namun kita tidak pernah menyadarinya. Kami istirahat dan memasak makan siang. Dan sayapun jadi chef kali ini walaupun hasilnya tidak begitu memuaskan karena nasinya tidak begitu masak, jadi ya keras-keras dikitlah. Hehe, Peace Reks. Bukan Maksudku!

Setelah makan siang selesai kami segera packing tenda dan perlengkapan kami, berharap kami akan sudah sampai di pos pendakian Sore hari. Sekitar jam 13.00 kami sudah siap memulai perjalanan turun. Dan tidak lupa sebelum beranjak, kami menyatukan diri dan berdoa untuk keselamatan kami sampai dibawah. Bismillah! Perjalanan turunpun kami mulai cuaca masih cerah dan tak ada tanda hujan akan turun. Langkah kami seperti pelari-pelari nasional tetapi berbeda medan karena kami berlari dengan medan menurun dan kanan kiri jurang. Menurut saya, turun merupakan perjalanan yang biasanya membuat sakit paha dan pergelangan kaki karena kita harus selalu menjaga tubuh kita untuk tidak jatuh dan menahan beban.

Perjalanan turun sangat cepat sampai di Pos Pengalap, Fajri mengalami cedera kaki. Tepatnya dipergelangan kaki. Karena saya didepan saya tak tahu kalo fajri tertinggal jauh dibelakang. Seperti biasa memang fajri dan sodiq selalu menjadi penyapu dibelakang. Sudah bertahun-tahun posisi mereka selalu dibelakang. Akhirnya aku tunggu, fajri dan sodiq di pos pengalap. Kami istirahat lumayan lama disini dan mencoba untuk mengobati sakitnya fajri. Sekitar pukul 17.00 kami memutuskan tetap melanjutkan perjalanan dengan fajri di depan agar laju kami bisa terkontrol dan tidak terpisah. Laju kami semakin lambat karena fajri tetap mengalami sakit dikakinya tapi dia tetap berusaha untuk terus melanjutkan perjalanan. Baru kali ini dia beralih fungsi menjadi leader didepan, biasanya ditakdirkan sebagai penyapu alias belakang sendiri. Meskipun kaki sakit aku rasa lajunya lumayan cepat. Sampai heran aku, ni anak kakinya masih sakit apa nggak? Hari sudah mulai menghitam di dalam keheningan hutan. Yang terlihat hanyalah hitam dan hanya cahaya senter kami yang menerangi jalan setapak kami. Identifikasi jalur semakin susah jika kondisi malam hari banyak sekali cabang-cabang jalan yang harus kita pilih menurut ingatan kita kemarin. Semoga jalan kami tidak salah. Sesekali hati ini menjadi nyaman ketika bertemu dengan tanah datar dan di sudutnya terdapat tulisan nama pos tersebut. Tanda bahwa kami masih dijalur yang benar. Alhamdulillah! Kaki ini rasanya sudah sangat lelah sekali dan waktupun sudah menunjukkan pukul 19.00 berharap dibalik bukit ini aku sudah bisa melihat lampu kota tanda bahwa kami sudah dekat depan pos pendakian. Dan benar saja setelah melewati bukit saya melihat lampu-lampu kota yang sangat gemerlap dari kota Cirebon dengan laut jawa di sebelah utaranya. Sungguh menakjubkan malam itu, di kaki Ciremai. Kami berhenti sejenak dan menikmati keindahan ini.

Pukul 20.00 lebih kami telah sampai di pos pendakian Ciremai, dan kami langsung membersihkan diri (mandi, ganti baju dan merapikan tas ransel kami sembari memesan makanan). Kami juga langsung menghubungi sopir yang kemarin mengantar kemarin dari pertigaan linggarjati untuk negoisasi mengantar kami ke sta. Cirebon dengan 75ribu saja dengan berbagai alasan akhirnya boleh juga. Terima kasih Pak! Kami butuh segera karena kami mengejar jadwal kereta ke arah jogja namun fajri turun dipertigaan linggarjati dan langsung ke Jakarta naik bus. Selamat jalan Jri! Sampai ketemu di pendakian lain. Selama perjalanan menuju sta. Cirebon kami kebanyakan tidur dan ketika kami sampai di sta. Cirebon untungnya masih ada kereta yang menuju ke arah jogja. Sebelum kereta datang kami makan nasi dari beli di pos pendakian. Enak banget, mungkin karena lapar kali ya. Sekitar pukul 22.00 kereta kami datang dengan penuh sesak orang karena ini adalah kereta rakyat. Ampun, nggak ada tempat duduk dan sebenarnya kami sudah capek sekali dan ngantuk! Akhirnya kami tidur di jalan meskipun membuat orang susah lewat. Terlelap sampai di sta. Lempuyangan – Yogyakarta pagi hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s