"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Semeru – Puncak Para Dewa

Arcopodo, Minggu 6 Agustus 2006 …. Dini hari….

Waktu menunjukkan pukul 00.00 tanggal 6 Agustus 2006. Semua impian terwujud dari awal membuka mata dini hari itu. Jam weker kami berdering kencang mengisyaratkan untuk segera membangunkan diri, bersiap diri dan bergegas untuk menjejak tanah Mahameru kembali setelah kemarin-kemarin tiap saat bergelut dengan debu Mahameru. Semuanya sudah terbangun tapi rasanya masih malas karena dinginnya malam dan nikmatnya dunia mimpi. Tapi jika bukan sekarang kapan lagi ada kesempatan menjejakkan kaki di tanah tertinggi pulau jawa. Kita nggak bakalan tau hidup kita ke depan, masih adakah kesempatan untuk bernafas menikmati ciptaan Tuhan Yang Maha Agung. Segera keluar dari tenda dan mempersiapkan segala perlengkapan yang akan kita bawa ke Puncak. Kita bawa tas daypack yang kami isi dengan air, obat-obatan, makanan instan spt coklat dsb dan juga senter-senter kami. Kita masukkan semua perlengkapan yang tidak dibawa ke dalam tenda kemudian kita rantai agar semuanya aman ditinggalkan di Arcopodo. Setelah semua siap aku masih melihat sekitar Arcopodo yang tampak hitam kelam dan sangat gelap…. Hati ini sedikit merinding tapi yang terbayang dalam pikiranku cuma ada Mahameru. Kita merapatkan hati membentuk lingkaran persahabatan berdoa pada Tuhan untuk keselamatan kita, kemudahan kita Senter-senter sudah mulai kita nyalakan, memecah kegelapan malam… Sorot-sorot sinarnya seolah mencari jalan setapak yang akan menjadi jalan kita. Langkah pertama kita jejakkan dini hari itu dengan semangat membara dan deburan debu-debu yang berterbangan. Suasana malam itu cukup membuatku ngeri. Seperti melewati jalan-jalan di dunia lain. Kanan kiri banyak sekali jurang bekas aliran lahar. Tak berapa lama banyak sekali memoriam bertebaran di kiri kananku untuk mengingat pendaki-pendaki yang telah melepas hidupnya di bumi Mahameru. Sungguh mengiris hatiku, aku hanya berdo’a agar semua team bisa sampe puncak dan pulang dengan selamat. Aku nggak mau kehilangan sobat-sobatku. Mata ini sungguh berat membuka mata menyibak jalan setapak di depan kami. Setengah jam kemudian kita sampai dibatas vegetasi Puncak Mahameru. Semua yang terlihat diatas hanya ribuan pasir yang menggunung menjadi Mahameru. Besar sekali aku hanya seperti jarum diantara kumpulan jerami. Tinggi sekali puncak itu. Angin mulai berhembus kencang menggoyahkan badan kami. Di depan kita tampak pohon cemara berdiri sendiri tanpa teman menentang angin Mahameru. Inilah yang dinamakan cemoro tunggal. Pohon ini sebagai tanda jalur jalan setapak untuk menyambungkan jalur berpasir dengan jalan setapak dari arcopodo. Kami beristirahat disini. Trek yang menanjak membuat kita mengeluarkan banyak tenaga. Seteguk air cukup menawarkan rasa capek kami. Aksan bilang ke anak-anak, Kita nyantai aja naeknya pelan-pelan tapi sampe puncak. Istirahat ngga usah lama-lama kalo lama jadi males memulai lagi. Sambil ngecek anak-anak jangan sampe tidur. Takutnya nanti kena hipotermia.

Jalan didepan kami sungguh fantastis, menanjak dan hanya jalur-jalur bekas lahar yang akan menjadi jalan kami ke puncak Abadi. Tapi tetep semangat. Kami berjalan kembali mesti bentar-bentar break tapi yang penting nyampelah. Istirahat nggak lebih dari 5 menit. Jalur ini emang berpasir abis. Jika diinjak debu-debu pasir beterbangan, maka dari itu kasihan yang dibelakang banyak menghirup debu dan sakit mata. Peringatan buat yang didepan kakinya dijaga jangan pe buat bom debu buat yang belakang. Semua wajah kami ditutupi dengan slayer ma kerpus. Jadi yang kelihatan cuma mata biar nggak menghirup debu banyak. Sebenarnya harus pake mata biar matanya ngga sakit kena debu. Tapi nggak papalah mau gmn lagi? Batuan-batuan disini juga batuan lepas. Jadi yang ada didepan kalo nginjak batu dilihat dulu kalo batuannya ambrol bisa kena yang belakang. Pernah suatu saat aku  dan teman-teman yang dibelakang kena bonus dari temen yang diatas. Batu-batu yang cukup besar jatuh menyapa kami. Untung kami bisa sigap berlindung dibalik bebatuan. Perjanjian baru kalo yang diatas salah nginjak batu maka teriak “Rock!” artinya ada batu yang berjatuhan.

Jam tangan kami sudah menunjukkan pukul 03.00 tapi puncak serasa masih jauh kalau dilihat dari posisi kami. Mungkin kita banyak break tapi emang pendakian ini emang bener-bener bikin frustasi. Kalo kita menjejakkan kaki 5 langkah ke atas nanti pasti turun 2 langkah ke bawah. Pasirnya emang licin banget. Ketinggian kami sudah cukup tinggi, kami bisa melihat gemerlap kota malang dan lumajang. Sungguh indah banget. Aku nggak bisa lupakan kenangan itu. Beberapa kali kami juga menemukan bintang jatuh sembari kami istirahat melepas lelah, membasahi tenggorokan, mengisi tenaga dengan coklat batangan yang sangat susah sekali digigit. Kami juga melihat rombongan orang singapura dan gaetnya mulai mendaki melalui cahaya senternya. Dibelakang kelihatan puncak Mahameru yang mulai mengeluarkan wedus gembelnya. Begitu besar awan itu, membuat diri kami menjadi kecil sekali seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan besarnya asap itu. Sungguh mengagumkan.

Jalan kami semakin lama semakin menanjak dan sangat menguras tenaga. Aku, Andi, Annas, Matrik, Fajri, Aji setiap berhenti selalu bertanya ke Aksan. “Masih jauh San!” Smua mulai frustasi. “Paling masih separo!” Jawab Aksan yang segera merontokkan hati kami. Jauh, jauh, jauh, jauh…… Kapan jalan ini berakhir? pikirku. Setapak demi setapak kami raih dengan penuh perjuangan. Tampak seperti sudah mendekati puncak. Namun ketika kita sudah sampai tempat itu ternyata masih ada puncak lagi didepan. Semua sudah frustasi tapi Aksan selalu menghibur dengan bilang Puncak sudah didepan. Tapi kenyataannya ngga sampe-sampe. Apalagi matahari udah mulai muncul di ufuk timur tapi kita masih belum nyampai Puncak. Padahal target kita bisa liat sunrise di Mahameru. Jalan setapak kami didepan sudah mulai tak terbayangkan, kanan kiri jurang curam yang ada. Nggak ada pegangan dan semua loss. Jika salah injak habislah Kita.  Di suatu tempat yang menurut aku dan Annas telah membuat aku frustasi. Kami hampir menyerah. Kata-kata hiburan dari Aksan kalo puncak sudah didepan nggak kami percaya lagi. Mungkin karna tenaga kami sudah terkuras banyak sekali. Annas bilang ke temen-temen “Aku disini aja aku uda nggak kuat lagi”. Semua hanya diam. Tapi si Aksan yang notabene uda pernah sampe puncak bilang “Puncak uda di depan beneran, kali ini aku nggak menghibur. Kita tinggal lewati puncak itu trus langsung uda nyampe puncak”. Dengan penuh berat hati kita berdiri lagi mencoba mendaki lagi… Walaupun sebenarnya kaki ini uda berat banget. Perlahan-lahan, setapak demi setapak akhirnya kami bisa lewati puncak kecil itu. Dan akhirnya kami menemukan tempat yang datar dan lumayan luas…. Gaet singapura itu memeluk kami satu persatu dan memberi selamat kalian sudah sampai puncak Mahameru. Dengan langkah terbata-bata Annas menginjakkan kaki di Mahameru dengan tetesan air mata. Kami saling bersalaman memberikan selamat untuk kami semua. Terima kasih Tuhan kami masih diberi kesempatan menikmati ciptaanmu yang sungguh mempesona. Hatiku mengharu biru….

Puncak Mahameru Pukul 7an

Sejauh mata memandang ke selatan adalah Samudra Hindia, ke utara terdapat gugusan kaldera Bromo yang besar dengan awan-awan mengelilingi serasa kami di atas awan. Terlihat juga G. Arjuno, G. Welirang, G. Raung. Sesuatu yang ingin kita cari disini adalah salah satu memoriam orang hebat di negeri ini.

Memoriam Soe Hok Gie yang meninggal ketika mendaki Mahameru. Ketika aku menemukannya dan memegang memoriamnya tak terasa air mataku jatuh membasahi pasir Mahameru. Aku bangga bisa mencapai tanah tertinggi ini bersama sahabat-sahabatku sejati. Angin dipuncak sangat kencang sekali terasa sangat dingin sekali meskipun Matahari seperti diatas kita. Tak beberapa lama kawah jonggring saloka mengeluarkan awan panasnya. Momen yang sangat disayangkan kalo tidak diabadikan. Kami foto bersama-sama mengabadikan keindahan ini… Tak ada kata-kata yang dapat melukiskan semua ini. Kami kibarkan bendera Arismaduta di Puncak Mahameru. Almamater organisasi kami. Annas, Fajri, Matrik, dan aku foto dengan memakai baju khas SMA kami dengan berdasi. Ini merupakan bentuk kecintaan kami terhadap almamater SMA kami. Di puncak Mahameru, kami memperoleh 2 letusan yang bisa kami abadikan. Kami tidak dapat lama-lama di puncak karena sudah begitu kencang dan dingin. Apalagi awan panas yang kedua mengarah ke kami sehingga ada perasaan was-was didalam hati kami. Kami di Puncak Mahameru sekitar 30 menit. Setelah itu kami berpamitan turun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s