"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Wilis (Part 2)

15 juli 2007, pukul 06.00
Semuanya sudah bangun dan selesai “subuhan”. Segar dan sejuk yang Qt rasakan. Udara pagi terasa basah di wajah. Pagi-pagi sekali, Qt sudah membuat api unggun untuk memasak nasi untuk sarapan hari itu jua, bekal untuk naik ke puncak sana. Bagi-bagi tugas pun langsung menjadi pilhan utama Qt. Tejo, Pak Dhe, Juan, Nash bertugas mencari air di tempat yang sama. Yang lainnya merapikan tenda, dan menyiapkan makanan.  Dalam misi mencari air tersebut, ternyata sama halnya dengan Juan, secara ga sadar, di kakinya Satria ada bekas gigitan lintah yang sudah mengering. Tapi Satria tak seheboh dengan juan. Satria tenang-tenang aja.  Maklum,Satria adalah orang yang sabar..

makan bareng

Hello gank!!!!!
16!!!!!
Begitulah Qt saling memberikan semangat dan komunikasi.
Pukul 09.00, Qt semua sudah sarapan. Tenda juga sudah rapi. Air sudah Qt cukupkan. Sebelum meninggalkan watu godhek, Qt membersihkan sisa-sisa dari semalam. Diusahakan ketika Qt meninggalkan tempat ini, tidak ada sampah yang tertinggal. Sebelum berangkat Qt berdoa jua, membuat lingkaran persahabatan. ”semoga dalam perjalanan ke puncak nanti Qt diberi kemudahan”.
Pukul 09.30 Qt meninggalkan watu godhek menuju puncak. Berjalan ke puncak sama beratnya ketika Qt berangkat dari kaki gunung ke watu godhek. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Qt semua. Hanya teriakan “hello gank!!!!!” dan jawaban “16!!!” yang membuat Qt semakin semangat. Kadang-kadang, Untuk menjaga kelengkapan anggota, dari depan menginstruksikan untuk berhitung. “berhitung dari depan mulai!!!!!”
“1”
“2”
“3”
“4”
“5”
“6”
“7”
“8”
“9” alhamdulillah lengkap.
Kadang-kadang ada juga anak yang agak usil dan nglucu, sehingga membuat tawa semuanya, membuat suasananya asyik dan membuat perjalanan tidak terasa berat.
Break adalah saat – saat yang Qt tunggu. Di perjalanan yang dapat Qt rasakan adalah rasa penasaran terhadap puncak sana. Suara kicau burung, desiran angin gunung yang disertai kabut tebal seolah – olah menjadi  nyanyian pecinta alam yang hakiki. Entah sudah berapa lama Qt break di sela-sela perjalanan.

Jalanan yang sering menanjak, tiarap, menyusur membuat Qt semakin berhasrat untuk ke puncak. Selama itu Qt saling mengingatkan dari anak yang paling depan ke belakang, ”awas kanan!”, ”awas kiri!”, awas kayu!”, awas kotoran!”, dll.Yang membuat Qt bahagia adalah tulisan-tulisan “puncak ” yang menempel di pohon. Membuat kesan bahwa puncak tinggal sedikit perjalanan lagi. Kanan kiri Qt masih tetap sama, jurang yang licin, pohon-pohon yang menutupi cahaya langit.
Setelah beberapa lama Qt berjalan, akhirnya sampai di kawasan hutan homogen. Hutan ini terdiri dari 1 jenis tumbuhan yang Qt tidak tahu apa nama tumbuhan itu, hutan ini menandakan bahwa puncak ada di depan mata. Semangatnya bukan main ketika aku informasikan seperti itu. Meskipun semangat membara, Qt tidak bisa memungkiri kalau badan sudah sangat capek.
“Break,,,,,,,, lanjut,,,,,,,,,, break,,,,,,,,, lanjut,,,,,,,, belakang siap??? SIAP!!!!”
“OK LANJUT”
”Hello Gank!!!!!”
”16”.
Kata kata itulah yang sering Qt lontarkan, sampai membuat suara Qt serak.
Sampai di daerah ilalang (kayak rumput gajah, tapi tinggi-tinggi), kawasan setelah hutan homogen. Qt semakin yakin klo puncak ada di depan sana, tinggal beberapa meter. Tak ayal, setelah Qt berjalan beberapa meter, puncak yang menjadi tujuan Qt terlihat. Puncak yang di tandai dengan pohon pinus dan monumen batu setinggi 1 meter ini, tersenyum di hadapan Qt semua. Seolah-olah menyapa Qt “selamat kalian telah sampai di puncak wilis”

Terimakasih ya ALLAH……………..
Alhamdulillah…………………………..
Sungguh nikmat karuniaMU, pada Qt semua.

Bendera ITS yang aku bawa langsung di tancapkan di monumen batu ini sebagai tanda klo Qt (GRS) sudah berada di puncak.

Puncak Wilis

GRS Team di Puncak Wilis

Tangis, tawa, duka, gembira,
impian, cita-cita,
harapan,
kesusahan,
penderitaan,
sahabat, saudara
, syair, puisi, pujian,
tumpuan, rasa sakit, peluh, arti hidup, aku,
ENGKAU,
pengorbanan, langit, tanah tertinggi,
lapar, haus, dan
kedewasaan. Seakan – akan berbaur dengan Qt semua, rasa yang jarang Qt rasakan selama ini.
Sekitar pukul 12.30 Qt sampai puncak wilis. Setelah sejenak melepas lelah, dan foto-foto bersama Qt semua langsung sholat dhuhur. Udara dingin adalah teman yang tetap setia menemani Qt selama perjalanan dan di puncak wilis ini. Qt langsung bagi tugas, beberapa orang ”kebagian” mendirikan tenda, membuat api unggun, menyiapkan makan siang, dan beberapa orang yang lagi gandrung dengan bunga eidelwise langsung berburu tanaman ini untuk di persembahkan kepada sang pujaan hati. Namun apes bin apes edelweisnya g’ktemu semuane jadi lemes dah muter2.
16 juli 2007
Sekira jam 2-an petinggi kos GRS-16, bang Tejo mendengar suara-suara yang aneh, suara endusan yang dikiranya berasal dari dengkuran mas Nash yang sedang tidur, selain si Tej, Imam juga mendengar suara ”Klothak-klothak” yang berasal dari luar tenda. Saking takutnya si Imam bergumam ”Hoey sopo neng njobo kuwi”, si Juan dengan bulu kuduk yang berdiri tegak laksana tugu ITS mengeluarkan desahan ”SSSSSHHHHH” (hayo nyapo kowe YU).
Dengan beribu-ribu kejadian yang terjadi malam itu aku Cuma bisa tidur walo kadang bangun bentar trus tidur lagi deh…….. pagi itu subuh hari anak masih pada tidur karena hawa yang begitu dingin menembus tulang-tulang Qt. Tapi semua udah bangun ja suruh sholat shubuh semua. Diluar tenda bener2 dinginnya minta ampun. Langit masih hitam menunggu mentari bangun dari sarangnya dibalik ujung bumi sebelah timur. Barapa lama termenung merasakan pagi, dasar aku yang udah biasa punya ritual pagi udah mulai kerasa bahwa ritualnya harus segera dilakukan. Indikasinya aja udah kelihatan. Bau entut udah menyebar ditendaku tapi yuan, imam, ma M yang masih didalam tenda tetep tenang aja padahal dia udah menghirup ber-puluh-puluh meter kubik gas penuh dengan bau itu. Hehehehehe,.. salah sendiri…..

Nyampe Penampihan, Pulaaaaaang!

Penampihan

2 responses

  1. Jadi teringat suara adzan di puncak Wilis ketika pengambilan scaft angkatan TAPA. Di ketinggian +2000 m dpl, kita mendengar suara adzan tanpa diketahui sumber suaranya … tidak ada pendaki lain selain kami, dan yang jelas kami tidak akan bergurau dengan adzan.

    Mungkin yang Kuasa telah menunjukkan sebagian dari Kuasa-Nya kepada kami supaya kami lebih mendekat kepada-Nya.

    25 June 2009 at 2:12 pm

    • rankga

      Hahaha iyo dim, aku sek eling biyen kok enek wong adzan …. Tapi anehnya ndak ada orang ketika dipanggil kembali

      25 June 2009 at 7:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s