"This is not about miles, every mountain has its own beauty to climb"

Catatan Perjalanan Gunung Gede – Menari di Antara Edelweiss Alun-Alun Surya Kencana (Part3)

Pagi itu, pukul 05.00 membangunkan anak-anak untuk segera bersiap-siap untuk summit dan mampir sejenak di Alun-Alun Surya Kencana. Dan seperti biasa, panggilan alam di pagi hari sudah mulai meronta-ronta dan sialnya memang tidak diijinkan untuk membawa golok. Tak bisa dibayangkan bagaimana caranya! (Silahkan dipikirin sendiri, hehe). Semua tenda dan ransel, kami tinggalkan di base camp. Kami hanya membawa daypack satu yang berisi snack dan botol-botol air yang akan kami isi di mata air alun-alun surya kencana. Jalan menuju puncak Gede dipenuhi dengan tugu-tugu hijau yang digunakan untuk berpegangan. Kanan kiri jalur adalah jurang kawah.  Apalagi jalurnya pasir berbatuan lepas. Pemandangan yang sangat mengagumkan. Kawah Gede dengan Puncak Pangrango yang eksotis. Sayang sekali sunrise tidak begitu terlihat karena tertutup awan. Tapi tidak mengurangi keindahan pemandangan di Puncak Gede. Dari sini kami bisa melihat alun-alun surya kencana yang membentang lurus dengan dipagari edelweiss. Allah Maha Agung! “Dan tak pernah berhenti mata ini memandang takjub akan kebesaranMu dari tanah tertinggi” . Tak akan lengkap jika tidak mengabadikan moment di Puncak Gede tanpa foto-foto. Pagi itu, suasana puncak Gede lumayan ramai. Banyak pendaki dari kota-kota lain yang kami temui disini. Saya juga bertemu dengan rombongan orang Australia. Akhirnya aku sampai juga di Gunung Gede, cita-cita dari kuliah. Karena G. Gede identik dengan Soe Hook Gie yang notabene adalah seorang yang aku kagumi.

Alun-Alun Surya Kencana Dari Puncak Gede

Foto Bareng di Puncak Gede

Yang paling unik di puncak ini adalah ketika kami sampai di Puncak Gede, ada yang menawarkan nasi uduk. Waduh, dipuncak Gede ada yang jualan nasi uduk. Akhirnya kami beli 5 bungkus. Lumayan murah 5 ribu aja, lagian kami masih belum sempat untuk masak. Lumayan dapat menambah energi untuk turun ke Alun-Alun Surya Kencana. Jalur dari Puncak ke Alun-Alun Surya Kencana sangatlah ekstrim. Bebatuan yang sangat curam. Kemiringan lebih dari 70 derajat. Turun pada jalur yang menurun, membuat kaki sangat berat karena tumpuan badan ada dipangkal paha. Sempat tergelincir dan terkapar karena saya salah menumpu. Namun akhirnya dengan sabar sejam, kami sampai di alun-alun surya kencana dengan melewati lembah yang ditumbuhi banyak bunga edelweiss. This is very nice view!

Taman Edelweiss

Alun-Alun Surya Kencana

Menikmati Taman Bermain

Alun-alun surya kencana adalah tempat yang paling bagus untuk mendirikan camp karena tempat yang luas seperti padang savana dengan mata air pada tengah padang. Disini kami menemui banyak tenda-tenda team lain. Seharusnya kami melakukan camp disini namun karena jalurnya yang sangat curam, kami merasa beruntung tidak jadi camp disini. Jika kami membawa ransel turun, akan sangat berat ketika kami harus kembali ke puncak. Paling cocok adalah lintas jalur, berangkat dari jalur putri turun ke jalur cibodas. Mengingat dari jalur putri ke puncak hanya 3 jam karena jalur langsung menanjak sehingga lebih cepat. Disini kami mencari mata air dan mengisi semua botol-botol kami untuk persediaan kami dan membersihkan diri. Suasana sejuk benar-benar kami temui di alun-alun surya kencana. Padang yang luas, dan angin yang sejuk disana disini dengan edelweiss bertebaran dimana-mana.

Pukul 08.30, kami menargetkan untuk berangkat menuju ke camp kami di shelter Kawasan Puncak diatas. Kami berangkat awal karena kami memperkirakan jalur untuk kembali ke puncak sangatlah eksrim dengan tanjakan-tanjakan yang tiada habisnya. Namun, diluar dugaan kami dapat melalui dengan lebih cepat (hanya dalam waktu setengah jam).  Pukul 09.30 kami tiba di camp, untung semuanya masih utuh dan kami pun segera membuka peralatan masak kami. Kami memasak mie goreng dan kebetulan orang yang berjualan nasi uduk lewat di depan tenda kami sehingga kami beli lagi 3 bungkus dan lauknya kami masak sendiri. Setelah makan bersama-sama, kami melakukan packing untuk segera turun mengingat besok pagi kami sudah harus masuk kantor. Pangrango pun kami urungkan niat mengingat waktu yang sangat singkat. Pukul 11.00 kami mulai melakukan perjalanan turun.

Puncak Gede

Makan Bareng

Dari camp ke Kandang Badak, terlalui dengan cepat karena kami lebih sering berlari. Jam 12.00 kami sudah sampai di Kandang Badak, dan saya sempat diserang gatal-gatal pada seluruh badan. Sempet dikira saya kena cacar oleh pendaki lain. Akhirnya saya membersihkan tubuh saya di mata air dan segera ganti baju yang bersih. Perjalanan dari Kandang Badak ke pertigaan Cibereum sangat terasa lama, namun sangat mengasikkan karena kami melewati air panas kembali. Aku dan noko juga sempat mengalami keseleo sehingga perjalanan menjadi lambat dan lama. Tiga jam kami melaluinya sampai di pertigaan Cibereum. Imam dan Baha’ sangat ingin melihat air terjun di Cibereum. Maka kami menunggu mereka turun ke air terjun sedangkan aku, noko dan fajri istirahat bersama pendaki-pendaki lain di pertigaan cibereum . Makan snack kami yang masih tersisa. Dari sini pos pendakian sudah sangat dekat. Ternyata kalau hari minggu seperti ini sangat banyak pengunjung dari luar kota yang ingin ke air terjun. Banyak pemandangan yang lewat. Dan tak perlu disia-siakan. Hahahahahahaha…….

Cibereum

15.30 kami lanjutkan perjalanan turun ke cibodas. Satu jam perjalanan kami lalui dan akhirnya sampai di kawasan pos pendakian. Kami serahkan sampah yang kami bawa dari perjalanan kami ke pos pendakian. Sampai dibawah kami langsung menuju ke Pondok Bu Le’. Langsung aku pesen es teh dan yang lain pesen teh anget sembari istirahat di pondoknya. Selain itu kami langsung mandi dan membersihkan diri. Kami sempat bertemu dengan Pyan dan bercerita banyak tentang perjalananan kami. Namun dia turun  ke Jakarta lebih dulu pukul 17.00. Sedangkan kami masih istirahat dulu menunggu magrib untuk pulang ke Jakarta. Menikmati dinginnya cibodas dengan soto ayamnya Bu Le’. Begitu perjalanan yang menyenangkan dan sangat banyak sekali spot-spot bagus yang kami lalui. Semoga alam Indonesia tetap lestari dan menyenangkan untuk menjadi tempat bermain.

Salam Lestari!!!

About these ads

2 responses

  1. Must_Imam

    mantafh…
    tapi pitoQ ng air tejun og d cropp? :-(

    15 August 2010 at 3:10 pm

    • rankga

      Agar tidak menimbulkan fitnah mam. Hahaha, Soale pemandangannya jadi jelek nek nggak di crop

      16 August 2010 at 7:46 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.