Indonesia menyisakan Pulau Komodo yang masuk ke dalam nominasi 7 keajaiban dunia baru….

Komodo

Komodo

Komodo (Varamus komodoensis Ouwen) merupakan kadal terbesar di dunia. Komodo dapat dijumpai di kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Penduduk yang tinggal di sekitar Pulau Komodo menyebut binatang ini ora. Makhluk langka ini menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun asing. bisa dibayangi kalo ni binatang peninggalan djaman dulu. Kayaknya cuma ada di Indonesia de. So lindungi kekayaan alam Kita n Vote Pulau Komodo jadi 7 keajaiban dunia baru  di http://new7wonders.com/

Sebelum turun kita berdoa kembali. Kami tukeran jalur dengan rombongan dari singapura. Menurutku sih jalur yang kita lewati pas naek emang cukup berat terlalu berbelok dan banyak step-step yang terjal sekali. Berbeda dengan jalur turun yang kami ambil sekarang. Jarang ditemui step-step yang mengerikan. Kami turun dengan penuh semangat dengan penuh rasa bangga dan ingin segera cerita ke siapapun kalo kami baru dari Mahameru. Sungguh perjuangan yang sangat menakjubkan. Pada saat turun kami seperti maen ski di pasir. Meluncur dengan cepat dan seru sekali meskipun harus waspada kalo didepan ada jurang. Tapi yang bikin sakit pasir-pasirnya sering masuk ke dalam sepatu sehingga membuat luka di kaki. Jadi sekali-kali copot sepatu mnghilangkan kerikil yang masuk. Pukul set10an kami sudah nyampai arcopodo lagi. Mungkin karena kecapekan kami langsung pulas tertidur padahal rencana kita hari ini langsung turun ke Ranu Pane. Sejam kami tertidur sejenak di hutan arcopodo….. lelah…..

Keringnya tenggorokan menyadarkan kami dari mimpi. Aku bangun dan keluar dari ternyata waktu uda menunjukkan jam 11 lebih. Wah jadi turun nggak nie. Aku mencoba mencari botol air minum dan jerigen kami. Alangkah kagetnya hati ini karena semua botol-botol dan jerigen kami telah kosong. Mati aku, mana aku haus sekali. Kucoba kumpulkan beberapa tetesan dari sisa-sisa dalam botol. Setegukpun tak cukup. Tapi lumayan buat sejenak menawarkan rasa haus ini. Anak-anak bangun dan ada yang cari air tapi nggak ada air sama sekali. Kami harus segera packing dan turun. Ada satu jerigen yang kami sembunyikan di Kalimati. Packing sudah selesai kami siap untuk berangkat turun. Kami berkumpul dan pada waktu itu sang superhero “Aksan” mengeluarkan sebotol air minum kecil 500ml-an. Tapi dia bilang setelah dicari-cari air kita tinggal segini. Air minum ini dapat diminum jika itu emang uda kepepet. Itupun cuma steguk aja biar bisa bertahan. Sekitar 30 menit kami menuruni hutan Arcopodo. Debu-debu jalan setapak yang berhamburan ketika ku pijak semakin membuat tenggorokan kami kering. Langkah-langkah kami semakin cepat tak seperti biasanya karena segera ingin sampai di Kalimati dan mengambil air. Ketika kami sampai di Kalimati ternyata banyak pendaki juga yang sedang camp disini dan mau ke Mahameru. Kami mencari jerigen yang kami sembunyikan dibalik pohon, tak disangka jerigen kami ilang dengan airnya yang harusnya sudah membasahi tenggorokan kami. Emang kami nyembuiinnya setengah-tengah cuma dibalik pohon jadi wajar kalo ilang. Ah kami harus menahan haus kami lagi. Harapan kami hanya ada di hutan Cemoro Kandang. Tempat dimana kami menyimpan harta karun kami yang kedua. Semoga masih ada. Lumayan jauh dari Kalimati. Kami tak sempat lama-lama di Kalimati karena rasa haus ini sudah tak tertahankan. Langkah kami sudah begitu gontai kehausan. Perlahan-lahan kami melangkah mesti air dibotol sudah habis. Sejam berlalu, akhirnya kami ingat pada ditempat kami menyembunyikan harta karun. Si Fajri menurunkan tasnya mencari harta karun kita karena dia yang nyembunyiin dulu dan yang laen istirahat. Setelah fajri berputar-putar akhirnya dia menemukan harta karun kita, satu jerigen air menyegarkan…. Yang akan memperpanjang jejak langkah kami. Sejenak kami pesta air ditempat itu sampai kelempok’en orang jawa ngomong. Inilah pesta ternikmat yang pernah aku alami. Satu pejalaran yang harus diperhatikan dikemudian hari manajemen air harus sebaik mungkin.

Kami lanjutkan perjalanan kami pulang. Raga ini semakin segar dan langkah ini semakin mantap menyusuri hutan Cemoro Kandang. Seperempat jam kemudian kami sampai di oro-oro ombo. Kami sempatkan foto disini. Seperti didunia teletubbies. Ranu Kumbolo 30 menit lagi… Di Ranu Kumbolo kami cuma sebentar hanya foto-foto, istirahat makan siang dengan roti-roti sisa kami dan membersihkan diri biar raga ini menjadi lebih segar. Sejenak kami singgah disini. Pukul set3 sore kami mulai meneruskan perjalanan turun ke Ranu Pane. Perjalanan ini serasa panjang sekali. SeingatQ setelah watu rejeng kami hanya harus melewati 3 punggungan. Tetapi setelah kuitung-itung sudah lebih dari 6 punggungan tapi tetep nggak nyampe-nyampe. Waktu uda menunjukkan magrib… Tapi kami masih belum keluar dari hutan. Hati ini menjadi was-was takut ilang ditengah hutan. Sekitar pukul 7 malam akhirnya kami melihat remang-remang lampu desa. Langkah kami semakin semangat. Pukul 7 lebih kami nyampe pos Ranu Pane. Kami disambut banyak petugas pendakian-pendakian Semeru. Mereka sedang membuat api unggun. Dan mereka masih membicarakan orang yang hilang di Mahameru semenjak kami berangkat. Ternyata masih belum ketemu. Wah kasian tu anak!!! Ibu dan Bapaknya masih mengunggu ditemukan. Seinget 2 hari setelah aku turun akhirnya anaknya diketemukan dan masih hidup. Alhamdulillah. Kami istirahat meluruskan kaki-kaki kami sejenak sambil membicarakan pengalaman kami. Pak Sopir jep yang mengantarkan kami waktu berangkat kemudian menghampiri kami menawarkan jasanya nganter kami ke pasar Tumpang. Kami tawar menawar kena 25rb kalo nggak salah. Malam itu kami langsung turun ke pasar Tumpang, sebenarnya nek bisa langsung turun ke kota kostannya Aksan tapi ternyata pak sopir nggak berani katanya nanti bisa kena polisi. Malam sekali kami nyampe Tumpang. Laper banget langsung cari makan trus bingung mau tidur dimana. Akhirnya kami inget sama Pak Yon,salah satu pengurus pos Pendakain Semeru di Tumpang. Akhirnya malam itu kami singgah dulu di rumah Pak Yon. Lelah dan segera tidur.

Senin 7 Agustus 06

Pagi itu kami berpamitan ke Pak Yon, kami mau pulang. Tak terasa kemarin kami uda nyampe puncak Mahameru. Makasih Pak Yon atas bantuannya. Akhirnya kami berenam berpisah dengan Aksan, dia langsung ke kostannya di Malang. Dan kami berenam menuju stasiun Blimbing menuju kota kami tercinta Tulungagung……

Matur Sembah Nuwun Kagem :

Allah SWT, atas Mahameru-Nya yang sangat menakjubkan dan kesempatan untuk merasakan semua keindahannya.

Temen-temen penjejak Mahameru, makasih uda nganter aku ke Mahameru… Moga ada kesempatan naek gunung bareng-bareng kalian lagi.

Pak Yon, rela memberikan tempat dirumah Bapak padahal wujud kami sudah sangat blepotan.

Pak Sopir… Thanks ya uda ngasih diskon ongkos jeepnya…..

Arcopodo, Minggu 6 Agustus 06 …. Dini hari….

Waktu menunjukkan pukul 00.00 tanggal 6 Agustus 06…. Semua impian terwujud dari awal membuka mata dini hari itu. Jam weker kami berdering kencang mengisyaratkan untuk segera membangunkan diri, bersiap diri dan bergegas untuk menjejak tanah Mahameru kembali setelah kemarin-kemarin tiap saat bergelut dengan debu Mahameru. Semuanya sudah terbangun tapi rasanya masih malas karena dinginnya malam dan nikmatnya dunia mimpi. Tapi jika bukan sekarang kapan lagi ada kesempatan menjejakkan kaki di tanah tertinggi pulau jawa. Kita nggak bakalan tau hidup kita ke depan, masih adakah kesempatan untuk bernafas menikmati ciptaan Tuhan Yang Maha Agung. Segera keluar dari tenda dan mempersiapkan segala perlengkapan yang akan kita bawa ke Puncak. Kita bawa tas daypack yang kami isi dengan air, obat-obatan, makanan instan spt coklat dsb dan juga senter-senter kami. Kita masukkan semua perlengkapan yang tidak dibawa ke dalam tenda kemudian kita rantai agar semuanya aman ditinggalkan di Arcopodo. Setelah semua siap aku masih melihat sekitar Arcopodo yang tampak hitam kelam dan sangat gelap…. Hati ini sedikit merinding tapi yang terbayang dalam pikiranku cuma ada Mahameru. Kita merapatkan hati membentuk lingkaran persahabatan berdoa pada Tuhan untuk keselamatan kita, kemudahan kita Senter-senter sudah mulai kita nyalakan, memecah kegelapan malam… Sorot-sorot sinarnya seolah mencari jalan setapak yang akan menjadi jalan kita. Langkah pertama kita jejakkan dini hari itu dengan semangat membara dan deburan debu-debu yang berterbangan. Suasana malam itu cukup membuatku ngeri. Seperti melewati jalan-jalan di dunia lain. Kanan kiri banyak sekali jurang bekas aliran lahar. Tak berapa lama banyak sekali memoriam bertebaran di kiri kananku untuk mengingat pendaki-pendaki yang telah melepas hidupnya di bumi Mahameru. Sungguh mengiris hatiku, aku hanya berdo’a agar semua team bisa sampe puncak dan pulang dengan selamat. Aku nggak mau kehilangan sobat-sobatku. Mata ini sungguh berat membuka mata menyibak jalan setapak di depan kami. Setengah jam kemudian kita sampai dibatas vegetasi Puncak Mahameru. Semua yang terlihat diatas hanya ribuan pasir yang menggunung menjadi Mahameru. Besar sekali aku hanya seperti jarum diantara kumpulan jerami. Tinggi sekali puncak itu. Angin mulai berhembus kencang menggoyahkan badan kami. Di depan kita tampak pohon cemara berdiri sendiri tanpa teman menentang angin Mahameru. Inilah yang dinamakan cemoro tunggal. Pohon ini sebagai tanda jalur jalan setapak untuk menyambungkan jalur berpasir dengan jalan setapak dari arcopodo. Kami beristirahat disini. Trek yang menanjak membuat kita mengeluarkan banyak tenaga. Seteguk air cukup menawarkan rasa capek kami. Aksan bilang ke anak-anak, Kita nyantai aja naeknya pelan-pelan tapi sampe puncak. Istirahat ngga usah lama-lama kalo lama jadi males memulai lagi. Sambil ngecek anak-anak jangan sampe tidur. Takutnya nanti kena hipotermia.

Jalan didepan kami sungguh fantastis, menanjak dan hanya jalur-jalur bekas lahar yang akan menjadi jalan kami ke puncak Abadi. Tapi tetep semangat. Kami berjalan kembali mesti bentar-bentar break tapi yang penting nyampelah. Istirahat nggak lebih dari 5 menit. Jalur ini emang berpasir abis. Jika diinjak debu-debu pasir beterbangan, maka dari itu kasihan yang dibelakang banyak menghirup debu dan sakit mata. Peringatan buat yang didepan kakinya dijaga jangan pe buat bom debu buat yang belakang. Semua wajah kami ditutupi dengan slayer ma kerpus. Jadi yang kelihatan cuma mata biar nggak menghirup debu banyak. Sebenarnya harus pake mata biar matanya ngga sakit kena debu. Tapi nggak papalah mau gmn lagi? Batuan-batuan disini juga batuan lepas. Jadi yang ada didepan kalo nginjak batu dilihat dulu kalo batuannya ambrol bisa kena yang belakang. Pernah suatu saat aku  dan teman-teman yang dibelakang kena bonus dari temen yang diatas. Batu-batu yang cukup besar jatuh menyapa kami. Untung kami bisa sigap berlindung dibalik bebatuan. Perjanjian baru kalo yang diatas salah nginjak batu maka teriak “Rock!” artinya ada batu yang berjatuhan.

Jam tangan kami sudah menunjukkan pukul 03.00 tapi puncak serasa masih jauh kalau dilihat dari posisi kami. Mungkin kita banyak break tapi emang pendakian ini emang bener-bener bikin frustasi. Kalo kita menjejakkan kaki 5 langkah ke atas nanti pasti turun 2 langkah ke bawah. Pasirnya emang licin banget. Ketinggian kami sudah cukup tinggi, kami bisa melihat gemerlap kota malang dan lumajang. Sungguh indah banget. Aku nggak bisa lupakan kenangan itu. Beberapa kali kami juga menemukan bintang jatuh sembari kami istirahat melepas lelah, membasahi tenggorokan, mengisi tenaga dengan coklat batangan yang sangat susah sekali digigit. Kami juga melihat rombongan orang singapura dan gaetnya mulai mendaki melalui cahaya senternya. Dibelakang kelihatan puncak Mahameru yang mulai mengeluarkan wedus gembelnya. Begitu besar awan itu, membuat diri kami menjadi kecil sekali seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan besarnya asap itu. Sungguh mengagumkan.

Jalan kami semakin lama semakin menanjak dan sangat menguras tenaga. Aku, Andi, Annas, Matrik, Fajri, Aji setiap berhenti selalu bertanya ke Aksan. “Masih jauh San!” Smua mulai frustasi. “Paling masih separo!” Jawab Aksan yang segera merontokkan hati kami. Jauh, jauh, jauh, jauh…… Kapan jalan ini berakhir? pikirku. Setapak demi setapak kami raih dengan penuh perjuangan. Tampak seperti sudah mendekati puncak. Namun ketika kita sudah sampai tempat itu ternyata masih ada puncak lagi didepan. Semua sudah frustasi tapi Aksan selalu menghibur dengan bilang Puncak sudah didepan. Tapi kenyataannya ngga sampe-sampe. Apalagi matahari udah mulai muncul di ufuk timur tapi kita masih belum nyampai Puncak. Padahal target kita bisa liat sunrise di Mahameru. Jalan setapak kami didepan sudah mulai tak terbayangkan, kanan kiri jurang curam yang ada. Nggak ada pegangan dan semua loss. Jika salah injak habislah Kita.  Di suatu tempat yang menurut aku dan Annas telah membuat aku frustasi. Kami hampir menyerah. Kata-kata hiburan dari Aksan kalo puncak sudah didepan nggak kami percaya lagi. Mungkin karna tenaga kami sudah terkuras banyak sekali. Annas bilang ke temen-temen “Aku disini aja aku uda nggak kuat lagi”. Semua hanya diam. Tapi si Aksan yang notabene uda pernah sampe puncak bilang “Puncak uda di depan beneran, kali ini aku nggak menghibur. Kita tinggal lewati puncak itu trus langsung uda nyampe puncak”. Dengan penuh berat hati kita berdiri lagi mencoba mendaki lagi… Walaupun sebenarnya kaki ini uda berat banget. Perlahan-lahan, setapak demi setapak akhirnya kami bisa lewati puncak kecil itu. Dan akhirnya kami menemukan tempat yang datar dan lumayan luas…. Gaet singapura itu memeluk kami satu persatu dan memberi selamat kalian sudah sampai puncak Mahameru. Dengan langkah terbata-bata Annas menginjakkan kaki di Mahameru dengan tetesan air mata. Kami saling bersalaman memberikan selamat untuk kami semua. Terima kasih Tuhan kami masih diberi kesempatan menikmati ciptaanmu yang sungguh mempesona. Hatiku mengharu biru….

Wedus Gembel

Wedus Gembel

Aku bisa

Aku bisa

Puncak Mahameru Pukul 7an

Sejauh mata memandang ke selatan adalah Samudra Hindia, ke utara terdapat gugusan kaldera Bromo yang besar dengan awan-awan mengelilingi serasa kami di atas awan. Terlihat juga G. Arjuno, G. Welirang, G. Raung. Sesuatu yang ingin kita cari disini adalah salah satu memoriam orang hebat di negeri ini.

Memoriam Soe Hok Gie

Memoriam Soe Hok Gie

Memoriam

Memoriam

Memoriam Soe Hok Gie yang meninggal ketika mendaki Mahameru. Ketika aku menemukannya dan memegang memoriamnya tak terasa air mataku jatuh membasahi pasir Mahameru. Aku bangga bisa mencapai tanah tertinggi ini bersama sahabat-sahabatku sejati. Angin dipuncak sangat kencang sekali terasa sangat dingin sekali meskipun Matahari seperti diatas kita. Tak beberapa lama kawah jonggring saloka mengeluarkan awan panasnya. Momen yang sangat disayangkan kalo tidak diabadikan. Kami foto bersama-sama mengabadikan keindahan ini… Tak ada kata-kata yang dapat melukiskan semua ini. Kami kibarkan bendera Arismaduta di Puncak Mahameru. Almamater organisasi kami. Annas, Fajri, Matrik, dan aku foto dengan memakai baju khas SMA kami dengan berdasi. Ini merupakan bentuk kecintaan kami terhadap almamater SMA kami. Di puncak Mahameru, kami memperoleh 2 letusan yang bisa kami abadikan. Kami tidak dapat lama-lama di puncak karena sudah begitu kencang dan dingin. Apalagi awan panas yang kedua mengarah ke kami sehingga ada perasaan was-was didalam hati kami. Kami di Puncak Mahameru sekitar 30 menit. Setelah itu kami berpamitan turun.

Kalimati, Sabtu pagi 5 Agustus 06

dingin hanya dingin

seperti jarum-jarum menusuk tulang

angin berlarian membawa dingin

entah apa itu! hanya dingin yang ada

Kalimati

Kalimati

Tersadar oleh dinginnya angin dan rangkaian kata dari orang-orang tenda sebelah yang sudah ribut menengemasi tenda dan barangnya, aku membuka mata. Ahh silau mentari dari dalam tenda membuatku enggan membuka mata. Aku mau keluar tenda tapi apa sobat-sobatku juga masih belum sadar. Aku coba perlahan menenangkan diri dari kondisi yang ada. Beberapa saat Anas, Matrik, dan Aji juga ikut bangun. Kayaknya diluar dingin banget coz dari dalam suara angin terdengar bergemuruh kencang sekali. Setelah berdiam diri didalam tenda lumayan lama akhirnya kami memberanikan diri keluar dari tenda. Ih dinginya serem, dingin banget apalagi anginnya kuenceng. Aku liat tenda sebelah udah agak bersih tinggal beberapa porter turis membereskan barang-barangnya sedang para turisnya berangkat tuk kembali alias gak nerusin ke puncak. Sesaat setelah aku keluar dari tenda buat cari matahari segar, aku dipanggil sama salah satu porter orang Prancis tersebut. Dia menawarkan air karena daripada dibawa balik berat dan dekat lagi sudah ranu kumbolo. Beruntung banget dapat supply air, sehingga kita g’perlu cari air. “Kok g’naek Puncak Pak!” tanyaku kepada Bapak yang beri air tadi sambil ngisi jerigen kosong kami. “Waduh anginnya kenceng di puncak, turisnya g’jadi naek dan juga cuma dua hari kok ijinnya.” Jawabnya. Dalam hati aku jadi berfikir kalau angin semalam emang bener-bener kenceng, wah bisa enggak aku sampai puncak. Tak lama kemudian rombongan porter pergi balik. Waduh tinggal kita sendirian nech di Kalimati dengan angin-angin yang kenceng n dingin. Akhirnya aku, Matrik, Aji, ma Annas coba berpanas-panas ria dibawah matahari tapi kayaknya g’ngefek sama aja tetep dingin. Dari tadi kok cuma kita bertiga yang nongol mana tiga sobat yang laen. Ternyata Aksan, Andi, n Fajri masih tidur tuch di tenda coz tadi malam tidurnya agak malam. Aji sama Matrik tau-tau ngilang mereka deketin api unggun dari rombongan orang Prancis buat ngangetin badan. Sedang aku sama Annas disuruh fotoin dia. Dia nulis pesen buat temennya di Surabaya kata-katane ”VQ salammu da ta’ sampein tapi mereka jahat anginnya dingin + kencang, pasirnya menusuk mata tapi burung2nya ramah”. Gantian aku minta difoto dengan background puncak semeru dan tulisan Kalimati. Abis dah terlalu kedinginan akhirnya aku ma Annas pergi ke api unggun gabung ma Matrik n Aji. Kayaknya mereka udah anget. Lama-lama perut dah mulai keroncongan nich akhirnya Matrik ambil Energen sama mie instant buat dimakan langsung. Eh ternyata tiga anak yang tidur akhire bangun juga, mereka langsung gabung ma kita buat anget-angetan. Sambil makan-makan kecil kita ngobrol n cerita-cerita yang kadang bercanda juga. Kita juga ngobrolin cerita tentang rencana kita ntar siang buat lanjutin ke Arcopodo. Rencananya sich ntar berangkat jam 12 siang, n sekarang masak dulu buat g’kelaparan. Kita wajib makan untuk hidup. Heee2x. Bergegas komandan dapur Andi n Fajri siapin buat masak di pondok pendaki biar g’terlalu kena angin. Sedang yang laen packing n bongkar tenda. Abis selesai packing sambil nunggu makan kita nyantai-nyantai, duduk-duduk buat manas-manas di bawah terik matahari walau g’kerasa panasnya.

Siang hari, kami mau melanjutkan perjalanan ke Arcopodo. Arcopodo sudah dekat tinggal naek dari Kalimati sekitar 2 jam. Beberapa saat meninggalkan Kalimati kita menjumpai sungai yang lebar namun isinya adalah bebatuan dan pasir yang terlihat cukup angker. Disinilah tempat lava muntahan letusan Semeru mengalir turun jika Gunung ini meletus. Dalam perjalanan ini sangat banyak dijumpai debu-debu yang ketika kita menginjak jalan setapak ini maka debu-debu akan beterbangan. Medan mulai menanjak tajam disini karena kita sudah berada dalam Gunung Utama Semeru. Nafasku yang ngos-ngosan disertai debu yang beterbangan membuatku menjadi susah untuk bernafas. Rasanya ingin menghirup udara yang bebas dengan loss. Dua jam berselang akhirnya kita sampai di Arcopodo tempat camp terakhir sebelum kita mendaki sampai puncak Semeru. Kita sampai pada siang hari. Sehingga kita punya banyak waktu untuk menyiapkan tenaga untuk pendakian ke Puncak nanti malam. Seperti biasa kita bagi tugas antara memasak, perapian, dan bikin tenda setelah berfoto-foto ria. Disini kita sempat bisa bersms-an ria dengan teman-teman kita dirumah. Kita menikmati alam hutan Arcopodo sampai malam mulai turun ke bumi.

Malam itu, kami membuat api unggun. Terdengar ada seseorang dari kejauhan. Mendekat dan trus mendekat dan ternyata orang tersebut adalah tim SAR yang sedang mencari orang hilang disekitar Kalimati dan Arcopodo. kita sempet ngobrol-ngobrol dengan bapak tersebut yang menurut informasi orang hilang tersebut belom diketemukan. Hari mulai menunjukkan sekitar jam 7an. Kita menunggu masakan matang. Menu kewajiban para pendaki sarden dan mie instan. Tiba-tiba ada rombongan orang Singapura dan gaetnya tiba di Arcopodo. Gaet tersebut minta ijin kita untuk numpang menghangatkan badan di api unggun kita untuk ke dua orang Singapura tersebut. Otomatis kita iyakan dong. Hih, Keren bisa ketemu orang Singapura di sini. Kita bingung ni mau ngomong apa dengan orang Singapuranya. Ya asal nyeplos aja de akhirnya. Setelah tenda mereka selesai maka orang-orang tersebut menuju tendanya yang sudah didirikan ma gaet mereka. Akhirnya kita makan deh, trus langsung tidur. Soalnya katanya Aksan malam ini kita harus tidur awal soalnya besok dini hari kita muncak. Akhirnya jam 9an kita tertidur di hutan Arcopodo………..

dear Semeru,

Sebelumnya da cerita seru, pas kita nyari foto digital kemana-mana tapi belum dapet. Padahalku dah coba cari pinjaman ke temen-temen di Surabaya tapi di pake semua, g’da yang nganggur. Annas katane juga cari di Surabaya hasilnya juga nihil. Di Tulungagung ku dah coba cari-cari juga ma temen’e temenku padahal baru kenal, pertama boleh tapi satu hari sebelum berangkat ternyata dipake ma bapaknya. Dasar apes, akhire pake kamera manual aja tapi sebenarnya sayang di Mahameru tuch jarang-jarang bahkan bisa jadi seumur hidup sekali. Kenangan-kenangan indah haruse diabadikan dengan dapet foto yang banyak. Tapi waktu tuch dah berangkat dasar mimpi apa semalam Annas yang juga udah frustasi akhire dapat pinjaman kamera digital’e tetangga padahal dia jarang banget ngomong-ngomong ma tu orang. Dasar orang g’tahu malu, tapi aku acungin jempol dech lo Nas. Hidup Annas!

Rabu, 2 Agustus 2006

Rabu sore jam 14.30 kami berangkat ke Malang, mau nginep di kost’e Aksan biar besok bisa berangkat pagi-pagi ke Tumpang. Aksan adalah ketua rombongan karena dari semua yang berangkat ke Semeru cuma dia yang udah pernah nyampe’ puncak Semeru. Tapi kali ini dia masih da masalah di Tulungagung, pacare lagi sakit makanya dia nyusul ke Malang esok hari. Kalo Aksan g’jadi berangkat bisa gawat kita juga g’jadi berangkat deh. Kaya’e ceweknya g’sepenuhnya ngasih ijin Aksan naek Semeru. Tapi emang dia benar-benar sakit. Namaku Rangga n temen-temenku Matrik, Annas, Aji, Andi, Fajri, dan Sodiq berangkat dech ke Malang duluan naek kreta jam set.4. Sodiq g’bisa ikut naek dia lagi da final project kuliahnya padahal dia pengen banget bisa naek ma kita-kita. Dia juga belum pernah ke Puncak Semeru.

Kamis, 3 Agustus 2006

Kamis pagi, kita mo berangkat ke Tumpang tapi kita nunggu Aksan dulu yang masih di Tulungagung, yang menurut kabar terakhir dia kepancal sepur. Wah ternyata kreta da kakinya ya! Pasti sakit banget rasane. Akhire dia naek bus n sampe di kostannya jam 10 siang. Wah udah kesiangan kaya’nya. Aksan langsung packing barang-barangnya n ngecek semua perlengkapan yang dibutuhkan. Aksan dah terlalu capek, makanya kita bantuin dia biar bisa cepet berangkat. Jam kita nunjukin angka 11 siang, kita berangkat naek angkot yang sebelumnya dah pemanasan jalan kaki ke tempat cari angkot lumayan bikin pundak n kaki capek. Tapi semangatnya g’pernah padam donk, so pasti geto!

Sodiq temen kita yang paling baek hati, sayang banget g’bisa ikut bareng ma kita-kita naek ke Mahameru coz lagi da tugas padahal dia pengen banget. Kalo liat dia aku kaya’e merasa kasihan banget. Dia sempat nganterin kita sampe’ Tumpang. Nyampe’ Tumpang rencananya sich cepet cari Engkel ato Jep buat naek ke Ranu Pani. Dari Pak Sopir angkotnya katane suruh cari truck engkel di belakang pasar tetapi biasanya adanya pagi. Yach daripada g’dicoba kita coba kesana. Ternyata bener dah berangkat dari jam 5 pagi. Kita jadi kebingungan coz kayaknya plan kita ke Ranu Kumbolo ntar sore g’bakalan terlaksana coz jamnya dah molor lama, mana belum nyampe Ranu Pani coz susah cari jeep ma truck engkel. Akhirnya kita bagi tugas Aku n Andi cari kartu remi biar ntar kalo istirahat bisa sambil maen-maen (g’ngebosenin), sedang Aksan ma Fajri cari gembok coz kita g’da yang bawa gembok buat ngembok barang kita di Arcopodo.  Kita naek ke Puncaknya g’bawa ransel gedhe. Lain lagi ceritanya Annas ma Sodiq yang muter-muter cari Jeep atau kendaraan ke Ranu Pani. Akhirnya setelah dapat informasi dari orang-orang pasar kita ketemu ma orang yang biasanya nyediakan jeep buat para pendaki namanya Pak Yon. Dia yang ngurusin kalo da pendaki-pendaki yang mau ke Puncak Semeru. Pak Yon bilang kalau ntar sore jam 3 sore da Jeep yang mau ke Ranu Pani tapi harganya 30 ribu. Sebenarnya kalo kita punya uang ya langsung ambil tapi sayangnya temen-temen punya uangnya cuma ngepress. Jadi kita coba sabar ja cari truck yang lain. Aji ma Annas cari lagi truck engkel yang da dibelakang pasar Tumpang. Mereka ketemu ma Pak Rus. Katanya Pak Rus dia bisa nyariin truck buat kita tapi berangkatnya besok jam 3 pagi dengan harga 25 Ribu. Wah temen-temen jadi bingung lagi akhirnya kita coba tenang n mikir dengan nyantai ja. Kita coba ngomong-ngomong ke Pak Yon buat nurunin harga jeep tapi sama Pak Yon kita suruh nego ma Sopir Jeep. Suruh bilang kalo uang kita emang benar-benar pas-pasan. Dan setelah nunggu cukup lama, Jeepnya datang n kita nego ma Sopirnya, Alhamdulillah bisa turun dengan harga 25 Ribu. Beredar isu kalo di post perijinan pendaki setiap tenda, kamera, n handycamp dikenai restribusi. Wah bisa gawat, uang kita g’bakalan cukup. Tapi sama Pak Yon kita disuruh ngomong kalo g’tahu apa-apa tetang informasi itu n sekarang g’punya uang lebih. Waktu naek Jeep seru banget jalannya serem dengan pemandangan yang luar biasa keren. G’terbayangkan sebelumnya. kita sempat ketemu ma teman kita yang ada di Ranu Pani yang sedang da KKN anak Unibraw seniorku yang rumahnya dekat rumahku. Kaget aja kok bisa da ditempat yang sepi dari peradaban manusia. Namanya Prasetyo angkatan 2003 SMABOY. Temennya Annas, Matrik n Aksan. Kita nyampe post pendaki di Ranu Pani udah Magrib. Kita segera urus ijin, n cari tempat buat camp. Ternyata isu tentang penarikan untuk foto, tenda, n handycamp g’bener-bener terjadi. Kita mah seneng banget. Kita ngecamp di pondok Pendaki Ranu Pani. Kita bagi tugas da yang masak, n bikin tenda. Wuih rasanya udah bener-bener dingin banget. Jaket-jaket udah mulai dipake dibadannya anak-anak. Habis itu kita langsung tidur coz udah capek n besok perjalanan Kita jauh banget. Menurut rencana kita ke Kalimati coz menurut pengalaman Aksan n pendaki yang laen di Ranu Kumbolo suhunya bisa nyampe’ – 4 derajat celcius. Bisa dibayangin????! ……….

Ranu Pane, Jum’at 4 Agustus 2006

Jum’at pagi sekali…… Annas turun ke perkampungan ma Aji buat beli beras coz kaya’e persediaan kita g’cukup. Sedang aku ma yang laen bongkar tenda ma Packing. Juru masak kita kali ini Andi ma Fajri dia masak buat makan ntar. Aku cari air di Danau tapi airnya keruh akhirnya minta ke Penduduk. Wuih badanku serasa kaku sulit buat gerak n ngrasain semua yang aku pegang. Semua anggota badan rasanya tebal semua. Abis semuanya beres, pukul 8 kurang seperempat Kita siap buat berangkat ke Kalimati. Perjalanan cukup jauh diperkirakan 8 jam perjalanan. Uih keren jeh, belum-belum jalannya udah nanjak banget. Perjuangan baru dimulai. Tapi abis dapat ketinggian jalannya jadi agak enak cuma nyisir bukit-bukit. Tetapi jalannya jauh banget nyampe Ranu Kumbolo, aku g’sabar liat danau ini yang menurut cerita dari temen-temen yang laen Danau paling keren.Udah sekitar jalan 2,5 jam tapi kok g’nyampe-nyampe weh capek banget trus juga dingin banget. Kita nyampe’ di tempat tebing besar banget kalo g’salah namanya watu rejeng. Keren megah banget dari sini kita juga bisa liat Mahameru jelas banget dengan sesekali terlihat mengeluarkan kepulan asapnya. Kita sempat  foto-foto Mahameru di waju rajeng coz rugi banget kalo dilewatin. Tak lama kita nyampe’ jembatan katane Aksan berarti kita udah nyampe’ separo perjalanan Ranu Pane – Ranu Kumbolo. Waduh jauh banget deh????? Kita istirahat di situ ketemu ma rombongan org Prancis yang disertai porternya. Mereka kuat-kuat, kalo kita ma sibuk lemes sendiri. Trus anak sok ngomong Inggris semua.hehehehe skalian blajar bahasa Inggris kayaknya. Kira-kira seperempat jam jalan Kita ketemu ma tanjakan lumayan nanjak tapi aku kuat-kuatin padahal capek bgt. Aku genjot aja kakiku, ntar di atas istirahat pikirku. Wah di sini ku bener-bener jadi orang yang udah hampir patah smangat. Abis istirahat trus mo brangkat eh ternyata kakiku tiba-tiba kram. Gila ku g’prnh ngrasain kram yang sungguh-sungguh amat menyakitkan. Awalnya cuma satu kaki tapi satu sembuh kakiku, kaki yang lain ikut kram. Hal itu bolak-balik terjadi hampir dua jam. Aku dah putus asa rasanya, ku g’bisa nerusin deh kayaknya. Wah ku nyesel bgt, g’enak ma temen-temen tapi mereka nyantae aja malah nambah semangatku. Dukungku trus. Mereka malah bilang klo salah satu dari kita g’lanjut, semua juga g’bkalan lanjut sesuai janji kita dibawah. Wah hebatku punya sobat-sobat yang hebat. Tiba-tiba matrik usul buat foto-foto dech bikin suasana jadi rame lagi. Kita foto sedang cari sinyal coz kita sempet bisa sms ma temen-temen di rumah. Setelah kondisi kakiku dah membaik kita coba lanjutin perjalanan. Kata aksan sech tinggal dikit perjalanan kita ke ranu kumbolo. Tapi perasaan dah setengah jam kok g’nyampe-nyampe… udah mulai frustasiku. Emang sech jalannya bonus semua tapi ya pengen cepet-cepet ketemu ma ranu kumbolo. Dengan segala kecapekan kami tiba-tiba ku liat sesuatu yang sangat indah di depanku. Danau biru luas membentang dihadapan kita…. Sungguh takjub kami memandang membuat rasa lelah dipundak kami mulai memudar perlahan melihat pesona dari ciptaan yang Maha Besar. Mungkin salah satu keajaiban hidupku bisa tersenyum melihat indahnya surga dunia. Serasa berada di lain dunia. Tak sabar untuk segera menjamah dinginnya ranu kumbolo, kami segera untuk turun menuju pondok ranu kumbolo.

Di pondok ranu kumbolo kami bertemu dengan seorang team SAR yang sedang mencari anak hilang di Semeru.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Kami kaget dengan adanya kabar ini….. semakin buat hati kami was-was. Bapaknya bilang kalo kami menginap di ranu kumbolo lebih baek kami kembali ja ke ranu pane coz semeru mau ditutup untuk pencarian anak hilang. Tapi jika langsung ke Kalimati atau arcopodo g’papa lanjut perjalanannya. Sesuai rencana awal kita emang mo ngecamp ke kalimati jadinya ya kita diijinin buat nerusin perjalanan. Di pondok ranu kumbolo kami istirahat untuk menyiapkan tenaga dan makan siang coz kita belom makan siang sekalian cari air buat persediaan perjalanan coz diatas dah g’da air. Disini adalah supply air yang terakhir. Ada sech air di kalimati tapi harus turun sejam. Katanya airnya cuma menetes dari batu blom tentu ada dan biasanya banyak macannya coz buat minum macan-macan di semeru…… Jadi siap-siap banyak air dari sini. Wah anak-anak pada mengeluarkan semua bekalnya. kusech mencoba buat pulihkan kakiku yang baru ja kram tadi. Setengah jam kita makan siang n ngisi air.

Dah seger kita dah siap buat berangkat lagi sekitar jam satu siangan. Setelah cek packing semua n foto-foto kita siap nglanjutin perjalanan. Sebelum berangkat seperti biasa bikin lingkaran persahabatan n berdo’a biar perjalanan kita lancar. Di depan udah nunggu tanjakan yang bener-bener nanjak namanya tanjakan cinta. Denger-denger sech katanya kalo kita lewati tanjakan Cinta tanpa berhenti, trus g’liat blakang n mbanyangin orang yang kita cintai ntar bisa jadi pasangan beneran. Rada percaya n g’percaya tapi ya gimana coba ja dech buat nglewati tanjakan cinta tapi ya geto akhirnya sampe’ tengah ya bener-bener megap-megap kehabisan oksigen jadinya ya berhenti deh…… Sumpah bener-bener nanjak banget dech g’bisa bayangin capeknya udah kaki baru ja kram…. tenaga yang baru diisi harus dikeluarkan banyak buat naek tanjakan  cinta tapi sampe’ atas bukit ku g’nyangka da pemandangan yang indah banget. Ada padang rumput luas banget di depan kita. Nech tempat diberi nama Oro-Oro Ombo. Tapi memang bener-bener luas. Wuih bener-bener Semeru selalu buat kejutan bagi para pendakinya. Kita berjalan ditengah padang rumput serasa dialam yang sejuk dan indah tiada duanya didunia ini. This very Great!!!!!! Angin bertiupan menggoyangkan tangkai alang-alang yang begitu banyak mendiami dataran Oro-Oro Ombo.

Setelah beberapa saat kita melewati Oro-Oro Ombo, muncul vegetasi pinus yang lumayan lebat. Tempat ini dinamakan Cemoro Kandang. Diperjalanan Cemoro Kandang kita menyembunyikan persedian air sebesar satu jerigen 5 Liter. Jalan setapak didaerah ini terdapat tanjakan yang cukup menguras tenaga karena udah lama kita berjalan dari Ranu Pane tadi pagi. Sore itu, akhirnya kita sampai di Jambangan, lembah yang berisi tanaman edelweis disana sini. Kalimati sudah dekat dari sini. Akhirnya kita segera menuju Kalimati karena waktu yang sudah memasuki sore hari. Setelah beberapa saat kami akhirnya sampai di Kalimati tepat pada magrib hari. Disini anginnya kencang sekali karena letaknya yang berada di punggungan antara dua gunung. Sehingga angin masuk ke hutan lewat Kalimati. Tempat ini dipenuhi pasir-pasir dari letusan Semeru dan beberapa tanaman Edelweis. Didepan adalah Gunung Utama dari Semeru. Terlihat megah dan sangat menakutkan dengan kepulan asapnya. Akhirnya kita segera mendirikan tenda dan memasak karena hari sudah memasuki malam dan dinginnya bukan main. Bahkan rasanya api sudah tidak terasa panas lagi. Tenda yang kami pasang sempat terjungkal lari terbawa angin. Tidak tahan dengan angin dan dinginnya Kalimati, kita segera makan dan tidur karena hari ini sudah terlalu berat perjalanan yang telah kita lalui. Malam itu kita tertidur di bawah dingin dan angin yang terus bernyanyi meniupkan pepohonan yang ada. Kamipun tertidur…..

15 juli 2007, pukul 06.00
Semuanya sudah bangun dan selesai “subuhan”. Segar dan sejuk yang Qt rasakan. Udara pagi terasa basah di wajah. Pagi-pagi sekali, Qt sudah membuat api unggun untuk memasak nasi untuk sarapan hari itu jua, bekal untuk naik ke puncak sana. Bagi-bagi tugas pun langsung menjadi pilhan utama Qt. Tejo, Pak Dhe, Juan, Nash bertugas mencari air di tempat yang sama. Yang lainnya merapikan tenda, dan menyiapkan makanan.  Dalam misi mencari air tersebut, ternyata sama halnya dengan Juan, secara ga sadar, di kakinya Satria ada bekas gigitan lintah yang sudah mengering. Tapi Satria tak seheboh dengan juan. Satria tenang-tenang aja.  Maklum,Satria adalah orang yang sabar..

makan bareng

Hello gank!!!!!
16!!!!!
Begitulah Qt saling memberikan semangat dan komunikasi.
Pukul 09.00, Qt semua sudah sarapan. Tenda juga sudah rapi. Air sudah Qt cukupkan. Sebelum meninggalkan watu godhek, Qt membersihkan sisa-sisa dari semalam. Diusahakan ketika Qt meninggalkan tempat ini, tidak ada sampah yang tertinggal. Sebelum berangkat Qt berdoa jua, membuat lingkaran persahabatan. ”semoga dalam perjalanan ke puncak nanti Qt diberi kemudahan”.
Pukul 09.30 Qt meninggalkan watu godhek menuju puncak. Berjalan ke puncak sama beratnya ketika Qt berangkat dari kaki gunung ke watu godhek. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Qt semua. Hanya teriakan “hello gank!!!!!” dan jawaban “16!!!” yang membuat Qt semakin semangat. Kadang-kadang, Untuk menjaga kelengkapan anggota, dari depan menginstruksikan untuk berhitung. “berhitung dari depan mulai!!!!!”
“1”
“2”
“3”
“4”
“5”
“6”
“7”
“8”
“9” alhamdulillah lengkap. Read the rest of this entry »

Saat itu 14-16 Juli 2007, aku ‘Rankga’ dan teman-teman kost GRS (Gebang Roda Sekolahan) akan melakukan pendakian ke Gunung Wilis yang berada di kabupaten Tulungagung. Mungkin banyak yang belum tau Tulungagung itu dimana sih? Tulungagung adalah kota dimana aku dibesarkan yang terletak di Jawa Timur bagian Selatan, dekat sekali dengan pesisir Pantai Selatan. Rencana sebelumnya adalah Qt akan mendaki ke Gunung Kawi namun berhubung yang tau jalan nggak jadi ikut ya akhirnya banting setir ke Gunung Wilis soalnya aku uda naek 2 Kali ke puncak. Lagian temen-temenQ masih awam mendaki gunung. Masih pertama kali ini mereka berminat untuk melakukan pendakian. Berangkat dari rasa penat yang melanda dalam hati setelah menempuh UAS dan hidup bergelut dengan jadwal-jadwal kuliah yang semakin membosankan. Maka rekan rekan (GRS) mencoba mencari sebuah solusi terhadap permasalahan ini. Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya dapat ditarik satu kesimpulan untuk menghilangkan penat bersama akhir semester 4 ini. Semangat awal pun bergelora, bagaikan api yang berkobar-kobar hendak membakar apa saja yang ada dihadapannya namun banyak anggota yang akhirnya mengundurkan diri karena banyak hal. Tetapi nggak apa-apa Qt tetap harus berangkat. Mereka-mereka adalah aku, Juan, Ikin, Tejo, Pak Dhe, Imam, Nash, Laemri, dan M. Beruntunglah dari 12 orang, hilang 5 orang, dan mendapatkan “additional team” 2 orang, jadi jumlah  fix yang  ikut dalam pendakian ada 9 orang.
Puncak Wilis berketinggian 2.169 mdpl yang merupakan tempat tertinggi di Kabupaten Tulungagung. Puncak Wilis berada dalam satu lingkup pengunungan Wilis. Terdapat pula Puncak Liman yang berada di kabupaten Kediri. Pegunungan Wilis cukup luas karena masuk ke dalam 5 Kabupaten. Vegetasi Gunung Wilis masih sangat perawan karena hutannya masih alami dan lebat. Masih belum banyak orang yang mendaki puncak Wilis karena keberadaan gunung Wilis yang masih belum dikenal banyak orang. Maka dari itu, aku ingin memperkenalkan Puncak Wilis.
14 Juli 2007
Jam 9 pagi Qt bersembilan berkumpul di Rumah Tejo karena Colt yang kami pesan di terminal Tulungagung kemarin akan menunggu disana. Biasanya kalo ingin ke Puncak Wilis dari Terminal Tulungagung langsung aja naek colt kecil jurusan Sendang langsung turun pabrik susu Penampihan biayanya 5 ribuan. Sebelum berangkat aku, Juan, Ikin, Tejo, Pak Dhe, Imam, Nash, Laemri, dan M saling merapatkan jiwa dan hati masing-masing kepada Sang Ilahi, Sang Penjaga Hayat dan Maut hamba-hamba-Nya. Pukul 09.45 berangkat. Pukul 10.45 rombongan tiba di penampihan. Untuk lebih menambah semangat, Qt mengabadikan “jiwa-jiwa kosong pencari kerinduan” dalam jepretan camera HP 6600nya tejo. Qt istirahat dan mengecek perlengakapan agar tidak ada yang ketinggalan. Sebelum berangkat Qt berdoa dulu. Inget temen “Qt semua adalah teman, apapun yang terjadi Qt harus tetap bersama, kekuatan rantai ada pada mata rantai yang terlemah” jadi jaga temen Qt yang tidak kuat. Setelah itu,kami langsung menuju rumah pak RT setempat untuk minta ijin melakukan pendakian. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi klo terjadi  hal-hal di luar kemampuan team. Beberapa saat Qt sampai di pertigaan Candi Penampihan yang merupakan salah satu cagar wisata Tulungagung dari kejauhan gunung Wilis tertutup kabut begitu menyeramkan karena yang terlihat hanyalah hamparan hutan yang begitu lebat dan gelap tertutup kabut.

Hatiq merinding tapi aku yakin jika Qt nggak aneh-aneh semua pasti berjalan lancar. Udara yang dingin-dingin sejuk seolah-olah membasahi wajah kami, menemani setiap langkah kaki kami. Jalanan yang menanjak, dengan ilalang yang tumbuh subur yang ditepinya dialiri air sungai yang menjadi mata air kehidupan bagi warga sekitar, seakan-akan menyapa kita semua. Sejauh mata memandang yang kami lihat adalah  gunung, sawah, rerumputan, air, awan, udara dingin, dan…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….s a h a b a t yang harus dilindungi.
Read the rest of this entry »

7 summits, istilah ini berdasarkan perbedaan interpretasi dari batasan benua (secara geografi, geologi, dan geopolitik), ada juga beranggpan berdasarkan dari 7 puncak tertinggi dari 7 benua.

Mount Everest

Mount Everest

The Seven Summits, jumlah dari 7 benua berdasarkan model kontinen (benua) yang diistilahkan oleh Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Everest (Nepal)

Ketinggian : 8850 m, bertambah 6 inci pada 1999

Posisi 27° 59′ N/ 86° 56′ E

Nama di Nepal : Sagarmatha (Dewa Langit)

Nama di Tibet : Chomolungma: (Dewi Alam Semesta)

Nama Sebelum diubah oleh Sir George Everest 1865 (British surveyor-general di India): Peak 15

Punggungannya memisahkan Nepal dan Tibet

Merupakan gunung tertinggi di dunia

Pendaki Pertama mencapai puncak: 29 Mei 1953 oleh Sir Edmund Hillary (Selandia Baru) dan Tenzing Norgay (Nepal), via South Col Route

Pendaki Solo pertama: 20 Agustus 1980, Reinhold Messner (Italia) via NE Ridge to North Face

Pendaki pertama di musim dingin: 17 Feb 1980 – L.Cichy dan K. Wielicki (Polandia)

Pendaki wanita pertama: 16 Mei 1975, Junko Tabei (Jepang), via South-Col

Pendaki pertama tanpa bantuan tabung oksigen: 8 Mei 1978 – Reinhold Messner(Itali), dan Peter Habeler (Austria), lewat jalur South-East Ridge

Pendakian tercepat dari Selatan: Babu Chhiri Sherpa 34 (Nepal)16 jam dan 56 menit (21 Feb 2000)

Pendakian tercepat dari Utara: Hans Kammerlander (Itali) 24 Mei 1996, via standard North Col Ridge Route, 16 jam 45 menit.

Pendaki Termuda: Temba Tsheri (Nepal) 15 tahun pada 22 Mei 2001.

Pendaki Tertua: Sherman Bull 64 tahun (Amerika) 25 Mei 2001. (Rekor ini sudah dipecahkan oleh pendaki jepang berumur 70 tahun pada 2003)

Pendaki Tuna Netra pertama: Erik Weihenmeyer, 25 Mei 2001

Pendaki yg paling sering muncak: 11 kali , Appa Sherpa 24 Mei 2000, semua pendakian tanpa bantuan tabung oksigen

Kejadian luar biasa di Everest :

- Tahun 1993, 129 pendaki mencapai puncak and 8 tewas (rasio 16:1), rasio bagus

- Tahun 1996, 98 pendaki mencapai puncak dan 15 tewas (rasio 6½:1), rasio buruk

Penyebab Utama Kematian: 1 dari 2 kematian diakibatkan oleh longsoran salju (Avalanches)

Negara yg pendakinya paling banyak tewas: Nepal – 46 pendaki tewas.

Daerah paling berbahaya: Khumbu Ice Fall – 19 meninggal

Tahun terakhir tanpa pendakian: 1977

Jumlah pendaki terbanyak di Puncak Everest: sekitar 120 orang

Yg Paling Lama di Puncak: Babu Chiri Sherpa 21,5 jam

Tim Terbesar: Tahun 1975, XPDC China dengan 410 orang.

Yg Turun Tercepat: Tahun 1988, Jean-Marc Boivin (Perancis) hanya 11 menit dengan paragliding.

Pendaki pertama dari 4 jalur: Kushang Sherpa

Pendaki pertama yang mendaki dari titik 0 meter (sea level – pantai India) dan tanpa bantuan oksigen:11 Mei 1990, Tim Macartney-Snape (Australia)

Jumlah pendaki terbanyak dalam satu hari: 40 pendaki, 10 Mei 1993.

Pendaki wanita tertua:Anna Czerwinska, 22 May 2000.

Aconcagua (Argentina)

Ketinggian : 6962 meter

Posisi : 32° 39′ S/ 70° 14′ W Read the rest of this entry »

Jum’at 6 Maret 2009 malam,

aq ma imam uda siap-siap perlengkapan Qt untuk pendakian Merapi sama temen Qt Feri dan Fajri. Fajri udah kerja di Jakarta sedangkan Feri masih kuliah di Jogja. Qt uda rencanain pendakian ini sekitar sebulan kemarin. Qt janjian ketemu di pos pendakian Plalangan, Merapi jalur Selo. Malam itu aq ma imam nginap di tempat kosnya temenku UNAIR soalnya deket ma stasiun Gubeng. Besok keretanya jam 6 pagi berangkat. Biar nggak telat ke stasiunnya besok.

Sabtu itu,

aq sama imam bangun pagi… Kayaknya bukan kebiasaan Qt untuk bangun pagi karena susah banget… Kereta Pasundan yang mau ke Solo berangkat jam 6 pagi jadi Qt harus bangun pagi banget… Siap-siap perlengkapan buat ndaki Merapi ma team dari jogja ma Jakarta (Ferry ma Fajri)…. Nyampe stasiun pukul 6 pagi kurang sedikit ternyata yang antri banyak banget uda geto kreta Pasundan nya uda dateng. Wah cilaka nek kpancal sepur (ketinggalan kereta) jadi bisa amburadul rencana Qt. Akhirnya dengan rasa cemas dan lari-lari aq sama imam bisa naek kreta Pasundan sampe ke Solo Jebres. Abis turun di Solo Jebres ya bingung,  ya namanya orang nggak ngerti ya nanya-nanya orang tentang jalan ke terminal tirto nadi.. Kata pedagang disitu aku disuruh naek komuter trus turun solo balapan baru jalan ke tirtonadi…. Trus naek aja bus ke Bololali turun pertigaan selo…Cuma bayar 3rb doang katanya si Feri 7rb bokies abis de…. Kapok fer kamu diakalin ma kernetnya… hehehe

Abis dari pertigaan Selo qt naek colt kecil ke Pasar Cepogo cuma 3rb. Nah waktu itu kebetulan ketemu ma Ibu yang baek banget. Anaknya kuliah di UNAIR ma suka naek gunung. Jadi pas waktu itu aku pake baju yang ada tulisan ITS-nya jadi tau, trus tanya aku : mas kuliah di ITS ya?? Dari situ ada banyak cerita dari ibunya. Cerita panjang lebar tentang anaknya.  Saat uda nyampe Cepogo Qt berniat ganti colt yang ke Post Pendakian Merapi sambil mbungkus beli nasi eh ibunya malah ngasih marning ma roti banyak banget… Alhamdulillah Makasih ya bu… Mungkin kelihatan kalo Qt tu bekalnya pas-pasan…hehehe. Selanjutnya naek colt lagi dari Pasar Cepogo ke post pendakian Plalangan dengan ongkos 3 rb. Nyampe di post pendakian ternyata si Fajri masih nyampe Tegal. Mati aku! Kapan nyampenya di pos pendakian nie si Feri ma Fajri???!!!!… Bete deh nungguin lama banget dari jam 2 siang sampe jam 9 malam di Pos tanpa kepastian jadi naek nggak? Tapi akhirnya datang juga si Fajri ma Feri bawa makan…. Padahal aku ma imam uda laper banget. Tengkyu buat nasi lalapan ayamnya yang gratisan jadi bisa tak maafin keterlambatan kalian. Hehehehe, Rasanya mak nyus banget lha gratis.

Beberapa waktu untuk siap-siap, rencana jam 10 malam Qt berempat langsung mau ndaki Merapi. Walau ujan sempat turun tapi Qt nunggu reda n langsung go on to hike. Sebelum berangkat berdoa dulu de. Uda lama g’kumpul ma anak-anak jadi ya diperjalanan banyak cerita dan temu kangen ma temen-temen. Walaupun malam tapi suasana nggak seperti malam, terlihat ramai dan nggak terlalu serem. Apa mungkin banyak yang lagi ndaki bareng Qt ya? Lha baru sekarang ni ndaki gunung salip-salipan ma pendaki yang laennya.  Tujuan utama Qt istirahat adalah Pasar Bubrah tetapi karena namanya malam dan capek perjalanan dari Surabaya rasanya badanQ capek banget. Uda mata ngantuk banget jadi nggak bisa fokus ndaki. Trek pendakiannya sungguh terjal dan berbatu ketika sudah melewati patok 1 dan 2. Akhirnya karena ngantuk Qt putuskan untuk istirahat tidur n ngecamp di pos Tugu. Qt buka tenda makan bekal dari bawah. Wah enak ternyata nek naek gunung bawa bontrot apalagi lele penyet ma lalapan… Terasa nikmatnya tiada terasa. Mak nyus-nya Pak Bondan ae kalah karo sedepnya lele penyetku. Abis makan enaknya seh ya tidur. Terlelap de sampai pagi di pelukan bumi Merapi malam itu….

Minggu pagi,

Qt nggak bangun sesuai rencana. Telat bangun nie critanya. Tapi view pemandangan dari sini bener-bener bagus. Sungguh pemandangan yang indah bisa lihat G. Sinduro, Sumbing, Slamet dari kejauhan. Gunung Merbabu yang eksotis dan menantang di depan. Gunung Lawu yang ada di Timur juga muncul dengan megahnya. Pagi yang indah buatku. Dari sinilah aku bisa melihat puncak Merapi, sungguh puncak yang berisi batu-batuan yang terjal. Gimana cara ndaki-nya? Pikirku. Jam 7 pagi Qt uda siap-siap buat packing lagi dan let’s go to puncak Merapi. Seperti biasa berdoa dulu. Belum lama berjalan Qt dapat pemandangan bagus tepat didepan gunung Merbabu sungguh fantastis.  Di dalam pikiranku tetep aja aku bingung gmn cara naeknya ya?? Tapi emang keren deh. Beberapa saat aku ketemu orang Belanda. Dia cerita kalo perjalanannya sungguh berat tapi sangat bagus… Ya dikit aku ngertilah apa yang dia omongin mesti bilangnya pake bahasa inggris. 30 Menit aku uda nyampe Pasar Bubrah. Capek tapi medan yang didepanku lebih keren dan bingung aku naeknya gimana? Terjal banget.

Dengan langkah meyakinkan Qt mulai naek kerucut Merapi yang penuh dengan batu-batu besar dan terjal. Emang berat kalo ngliat ke atas tapi ya dijalani aja. Aku naek duluan soalnya capek kalo nungguin si Fery kebanyakan berhenti. Mending naek duluan trus kalo capek nungguin mereka. Kalo bentar-bentar istirahat pasti berat buat memulai pendakiannya lagi. Ada hal yang berkesan saat itu. Pada saat itu yang naek Merapi lumayan banyak. Nah pas saat itu yang pendaki uda nyampe atas salah numpu ke batu karena batunya pecah akhirnya batunya jatuh ke bawah dan mengenai pendaki yang dibawahnya. Untung kena kakinya dan nggak papa. Wah gawat nek pendaki yang atas nggak hati-hati bisa ngasih bonus batu ke Qt.  Setengah jam berlalu akhirnya Qt nyampe Kawah Mati. Saat itu ada yang turun ke bawah tapi Qt cuma foto-foto bentar trus langsung ke Puncak Garuda. Akhirnya Qt uda nyampe di Puncak Garuda bentuknya dulu kaya’ kepala garuda dan sayapnya tetapi sekarang tinggal kepalanya aja yang mirip. Tapi keren banget! Qt lama foto-foto di Puncak Garuda….

Beberapa saat kemudian Pendaki Cilik yang kemarin ketemu di pos pendakian baru nyampe di Puncak Garuda. Wah keren kecil-kecil uda ndaki gunung lebih dari 2000 meter. Salut! Pas Qt mau turun diminta bantuan ikut upacara atas berhasilnya si Pendaki Cilik ke Pucak Merapi. Padahal aku uda nggak tahan ma bau belerangnya. Uda bener-bener kaya mabuk Belerang. Batuk-batuk n sedikit pusing. Qt sempat diwawancarai oleh Radar Jogja yang meliput. Asik waktunya nampang de. Setelah puas di puncak rencana Qt langsung turun ke Basecamp Pendakian Merapi dan pulang. Qt turun mesti dalam kondisi ujan lebat banget. Treknya jadi basah jadinya ya sering terpeleset tapi Qt terus aja walau uda mulai basah baju qt. Aku sempet kram diperjalanan karena saking dingin dan treknya licin. Alhamdulillah tapi nggak berlangsung lama. Aku akirnya ganti sendal. Dengan penuh perjuangan akhirnya Qt nyampe basecamp jam set 5 dengan penuh kelaparan…. Akhirnya pesen nasi Goreng n teh anget di pos pendakian. Jan enak puol.

Setelah makan, aku ma imam langsung mandi dan bersihkan lumpur-lumpur di badanku. Banyak yang mau mandi jadi ya ngantri. Si imam maksa pengen pulang padahal aku pengen istirahat dulu jalan-jalan di Jogja ke tempatnya Feri. Dengan berat hati dan rasa capek ngikutin pengennya imam soalnya keponakannya dari ponorogo datang ke rumah tulungagung. Qt uda siap pulang sekitar pukul 4 sore padahal jam segini uda nggak ada colt lagi ke turun ke Terminal Selo. Dasar imam ya tetep aja kalo pulang ya harus pulang. Dia nyoba nyari tumpangan padahal rasanya uda capek banget, aku uda bete ma dia. Tak tinggal ngobrol ma Feri sambil istirahat biar dia nyari sendiri. Beberapa pick up dan truk yang dia coba tumpangi berlalu trus tidak menghiraukan lambaiannya. Tapi akhirnya ada orang yang bawa pick up baek hati ngasih tumpangan ke Qt sampai pasar Cepogo katanya seh kalo disana masih ada colt turun. Yah akhirnya Qt numpang deh dan pamitan ma Feri yang nganter Qt untuk nyari tumpangan. “Makasih Fer! Salam buat Fajri” kataku. Bener juga prinsip imam, masa’ nggak ada orang baek yang lewat sini buat ngasih tumpangan Qt. Ternyata jauh juga ke Pasar Cepogo. Sekitar jam 5 Qt nyampe Pasar Cepogo dan fatalnya ternyata nggak colt yang ngetem disini. Qt bener-bener bingung. Coba tanya ke orang sech masih ada colt cuma suruh nungguin. Tapi nek liat kondisinya kayaknya ndak ada tanda-tanda akan datang colt yang turun. Qt nunggu sambil jalan ternyata ada pick up bak terbuka melintas dan menawari Qt turun ke bawah dengan harga 10 rb berdua sampe terminal selo. Qt iya aja! Ternyata Qt naek pick up tersebut bareng anak PA SMA Solo yang barusan naek Merbabu. Nyampe terminal langsung nunggu bus ke Terminal Tirtonadi. Imam coba nawar 3rb tapi kernetnya nggak mau minta 4 rb. Ya udalah… Nggak mau mikir aku uda capek. Aku pinjem dulu uang imam soale uangku habis. Di bus sempat ketiduran capek. Jam 8 malam Qt nyampe Tirtonadi. Wah para ojek uda pada rebutan tapi Qt mah nggak ngreken. Nah ni sekarang muncul masalahnya. Nek Qt ke stasiun Solo Jebres gmn??? Kan nek malam komuternya ndak ada. Qt mikirnya sambil jalan keluar terminal nyari jalur bus ke arah stasiun Solo Jebres. Lama banget Qt nunggu tapi bus Sumber Kencono yang Qt cari nggak dateng-dateng. Sejam lebih nunggu ketidak pastian membuat Qt nyaman. Akhirnya Qt nunggunya sambil jalan. Udah capek banget pengen istirahat. Akhirnya nyoba nawar becak. Ya baru sekali ini ada ceritanya abis naek gunung tapi pulang-pulangnya naek becak…. Gokil abies. Mintanya seh 15 rb tapi Qt mintanya 10 rb nek nggak mau ya nunggu bus aja. Akhirnya bapaknya mau. Ternyata jauh juga ya?? Kasihan juga bapaknya ngontel jauh tapi ya cuma uang ini yang Qt punya. Makasih ya pak! Gusti Allah yang mbalas kebaekan Bapak. Sekitar jam set 10 Qt nyampe stasiun Solo Jebres. Sepi banget nie stasiun. Qt liat jadwal ternyata ada yang ke Surabaya nanti malam jam 12 malam,  aku naek itu aja hutang uang ke imam. Sedang imam naek Matarmaja jam 1 dini hari menuju Tulungagung. Malam itu Qt istirahat di bangku stasiun. Pengalaman pertama ni nginep di stasiun sambil nunggu kereta datang. Tapi nggak nyenyak takut keretanya datang nggak tau. Tidur-tiduran sambil liat aktifitas orang di stasiun malam hari. Uang tinggal 10 rb itupun uang imam yang kupinjam. Mau makan mikir-mikir. Ya akhirnya ngisi perut dari sisa bekal logistik.

Senin dini hari

Pukul 00 kereta Gaya Baruku datang. Aku pamitan ke imam yang sedang terlelap. Qt berpisah disini teman. Aku naek kereta ternyata keretanya lumayan penuh susah masuknya. Ah apes banget pikirku. Uda capek mau nya naek kereta sambil tidur. Awalnya dua stasiun kulalui dengan bediri tapi akhirnya stasiun selanjutnya aku dapat tempat duduk dan dapat tidur dengan tenang. Melepas rasa penat dan capek seharian tanpa istirahat. Tapi seneng bisa jalan-jalan di Merapi. Nyampe kertosono aku terbangun dan nggak bisa tidur lagi. Ni kereta kok cepet banget beda kayak KERETA API CEPAT Rapi Dhoho padahal sama-sama ekonomi. Malah Gaya Baru Malam nggak punya titel KERETA API CEPAT. Malam itu aku melihat nenek yang lumayan tua sedang menjajakan nasi bungkus. Malam-malam begini ia harus berjuang mencari uang buat menopang hidupnya. Ternyata masih banyak orang yang belum mendapat kehidupan yang layak meski Bumi Indonesia ini sudah Merdeka. Trenyuh aku melihatnya. Akhirnya aku beli nasi bungkusnya biar cepet habis dan ia bisa pulang. Lagian perutku juga lapar. Makasih ya mbah nasi ma lauknya.

Pagi itu menjelang subuh aku sudah mendekati Surabaya, aku coba sms si Bram buat menjemputku soalnya motorku ada di kosnya. Hapeku punya energi yang tinggal dikit untung aku masih sempet sms bram. Akhirnya aku nyampe pukul 4 pagi di Surabaya dan dijemput Bram…. Maksih Bram…. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak di kostmu…..

Dekatnya pasar Bubrah

Let’s To Merapi’s Peak

Puncak Garuda

a. Decode

Fungsi decode ini menyediakan fasilitas pencocokan seperti yang dikerjakan oleh CASE atau IF-THEN-ELSE. Fungsi decode ini digunakan untuk membandingkan sebuah nilai dengan nilai yang lain. Apabila nilainya adalah sama, makan fungsi DECODE () akan kembali ke result, namun jika tidak makan akan kebali ke nilai default.

Sintax penulisan fungsi DECODE :

DECODE

(col/expression, search1, result1, search2, result2, search3, result3, …);

b. Sign

Fungsi Sign ini digunakan sebagai tanda ageregasi aritmatika numerik functionnya adalah : -1 jika negatif, 0 jika nol, dan +1 jika positif

positif, nol, dan negatif merupakan tanda yang dihasilkan dari fungsi agregasi.

sign (x)

c. Case

Fungsi case ini digunakan sebagai pembanding. Kita gunakan expresi CASE untuk menampilkan logika IF-THEN-ELSE.

CASE search_expression

WHEN expression1 THEN result1

WHEN expression2 THEN result2

WHEN expressionN THEN resultN

ELSE default_result

END

where

search_expression is the expression to be evaluated.

expression1, expression2, …, expressionN

result1, result2, …, resultN

default_result

Categories

Archives

 

November 2009
M T W T F S S
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30